biarkan kereta itu lewat, arini

March 21st, 2007

Recognize that sentence? It’s a title of a movie back in the 1980s(??). Still remember it? And below are thoughts from friends that could reflect anybody’s situation:

[Andreas, from his desk at Harvard's Lamont Library]

Why should Arini let the train pass?
What if it is the last train?
What if it is the best train?
Worse, what if not only it is not the last train, but it is also a very very bad train?
How should Arini decide to let it go or to hold on to it?

And

Does Arini need to leave the station if she lets the train pass?
Does she need to go back to the line for the next train?
Or she can just use the current ticket for the next train?

And

Can somebody tell Arini the exact schedule of the next train?
And whether they provide meals and drinks in that train?
And whether it is an express train or a regular one?

Should Arini trust the person who advises her to let the train pass?
What if the person is herself?
What if it comes from her own fear and insecurity?
Can she live with the regrets and consequences?

[VQ, from wherever he wrote this]

One thing’s for sure: If she doesn’t get on any train, it will take her nowhere.

Just get on the train, Arini, Leave all the details to God.

[me, from nowhere --virtually]

Eas, indeed, life is nothing but making choices, isn’t it?

Vick, what a wise remarks :D

Anyway, arini can always get off the train at the next station if she doesn’t like the ride, right?

pengkolan.wordpress.com

March 15th, 2007

Beberapa orang pembaca setia dan fans blog gue beberapa kali melontarkan ‘kekecewaan’ karena nggak bisa kasih comment di blog FS gue ini karena mereka nggak ikutan FS (iya ‘kan Bud???)

Soooo, I specially dedicate the above link for them to post all their pending  comments ;D

Jadi, starting now, gue punya 2 blog aktif (yg isinya yaa…kurang lebih tidak akan jauh berbeda lah…): this one and this one

vote for life

March 13th, 2007

What does LIFE mean to you?

We all live our lives. Yet, not many people think what life means to them. Everyday as we wake up in the morning, we rarely think what the next 24-hours will be filled with. What it will look like. Who we will meet. What will happen. Etc. Etc. And when we don’t give a damn to it, days will pass just like that. Like a blink of the eyes. Without something meaningful experienced by us. Without nothing.

Does LIFE mean something to you?

When you are able to answer that question, you might start to think how to make the best of it. How to live it at the fullest. How to make the rest of it meaningful. For you. Or even you might start to think how to make it meaningful for anybody else. For every living creatures on earth. Maybe.

So share with us what LIFE means to you.

virtual sunshine of the crowded mind

March 8th, 2007

Ini bukan sequel film Eternal Sunshine of the Spotless Mind, walaupun judul di atas memang terinspirasi dari judul film yang bagus banget itu. Dalam kehidupan kita sehari-hari kita selalu didera berbagai permasalahan yang seringkali membuat otak kita penuh dan butek; mulai masalah dalam keluarga, masalah di tempat kerja, masalah pergaulan dan kehidupan social, dll dll. Kalau otak diibaratkan hard disk, dapatlah dibayangkan berapa kapasitas otak yang telah menampung memory dari kehidupan kita sejak dilahirkan sampai saat ini. Untungnya Tuhan menciptakan otak kita sedemikian rupa sehingga otak kita expandable tanpa harus mencabut-dan-memasang seperti layaknya hard disk computer.

Walaupun otak kita expandable, tapi seringkali karena input yang diterimanya terlalu intensed menyebabkan otak kita hang –-bisa akibat ‘processing memory’-nya yang memang lemot dari sononya (masih XT gitu hehe..), atau rate ekspansi ‘data memory’-nya yang tidak sebanding dengan rate ‘data inputting’-nya (tau deh nih bener apa enggak penganalogiannya hehhehe….).

Sayangnya, seperti halnya hard disk komputer, memori otak kita pun bisa dihapus. Makanya orang bisa mengalami amnesia. Nah, itu yang terjadi dalam film Eternal Sunshine of the Spotless Mind –-memori-memori indah tapi terlalu menyakitkan untuk diingat yang berusaha dihapus oleh si empunya, ceritanya.

Dalam Virtual Sunshine of the Crowded Mind, gue ingin berdongeng bahwa kadang otak yang sumpek itu memerlukan mekanisme pelepasan tertentu. Hal ini bisa jadi merupakan satu defense-mechanism, keep-the-mind-in-sane-condition mechanism, safety-net mechanism, ‘steam-releasing’ mechanism, sampai mungkin ke arah fenomena yang agak lebih serius macam gejala awal compulsive-obsessive disorder *dzigghh!!!*

In any way, pada intinya, setiap orang memerlukan sunshine-nya masing-masing. Hal-hal yang bisa membuat kita tersenyum di tengah berbagai kesulitan. Hal-hal yang memberi kita semangat dalam menghadapi hari. Hal-hal yang memberi variasi di tengah rutinitas kehidupan. Atau bahkan tempat kita sejenak melarikan diri dari kehidupan nyata dan berandai-andai menjadi orang lain, misalnya ;p (kalau fenomena ini gue sebut ‘virtual sunshine of the twisted mind’..huehehhe..)

Dan terkadang, a simple ‘Hi’ atau sebentuk ‘smiley’ yang mampir di email-box kita sudah lebih dari cukup untuk menjadi sunshine kita di hari tersebut.

What virtual sunshine do you have today?

ecstatic

March 3rd, 2007

Udah lama gue nggak ngerasain yang namanya in the state of ecstasy….well, almost lah. Bisa gue dengar dengan jelas kata hati gue mengatakan, "Selamat! Elo baru aja terserang virus bahagia!". Begitu ecstatic-nya gue, sampai-sampai gue nggak ngerasa ngantuk walaupun jam udah menunjukkan lewat tengah malam. Biasanya kalo lagi ngumpul begini, gue duluan yang ngajak pulang, tapi kali ini gue yang mengiyakan ajakan teman gue untuk pulang.

Jangan salah lho, gue bukannya ngobat atau terbawa suasana hingar bingar a la clubbers. Gue sama teman-teman gue cuman duduk ngupi-ngupi. Kegiatan yang awalnya dimaksudkan untuk mendengarkan curhatan seorang teman yang ngerasa dikhianati dan ditikam dari belakang oleh rekan-rekan kerjanya, kemudian malah jadi acara brainstorming gila-gilaan. Dan kejadiannya begitu cepat dan intense yang berujung pada lahirnya ide liar bertemakan ‘a sweet and positive revenge’. Hmmm, how could that be? Tunggu aja tanggal mainnya.

Dan seperti halnya proses brainstorming yang sukses, setiap timpalan atau celetukan kemudian memperkuat ide-ide awal yang sudah mengerucut dan membesar seperti bola salju, dan menjadi a common dream –mimpi bersama. Dan gue bisa ngerasain kalau gue dan teman-teman gue malam itu dikelilingi oleh energi positif yang luar biasa.

Dan kesenangan gue menjadi double-double, karena selain berhasil menghilangkan kekesalan yang gue alami sore itu (it’s like you were asked to come to someone’s place, and when you got there and knocking the door, that bloody someone opened the door and slammed it right to your face…sucks, huh?), gue juga berhasil mengganti wajah bersungut-sungut teman gue menjadi wajah yang sumringah.

And that’s enough for the day. What more you can expect?