the nation of guinea pigs
Kali ini aku mau serius. Gambar di atas menunjukkan posisi geografis Indonesia dan kondisi geologisnya. Lihatlah bagaimana intensitas aktifitas bawah permukaan di belahan bumi dimana kita sedang duduk, tidur, makan, dan bermain-main di atasnya. Aku tidak sedang menakut-nakuti kita semua, tapi aku ingin mengajak
kita semua berpikir realistis dan sedikit lebih memiliki kecerdasan kontekstual
tentang dimana kita berada.
Bencana demi bencana menyambangi bangsa kita, tapi kita enggak pernah belajar. Even worse, kita menyediakan diri menjadi kelinci percobaan bagi raksasa teknologi yang ingin agar produknya laku di pasar dunia. Ya, kita menyediakan diri menjadi kelinci percobaan industri nuklir dunia yang produknya tidak lagi laku dalam beberapa dasawarsa terakhir.
Bisakah kita bayangkan reaktor pembangkit listrik tenaga nuklir dengan kapasitas 4 kali kapasitas Chernobyl ada di belahan bumi dengan kondisi geologis yang amat sangat tidak stabil seperti nusantara? Lihatlah gambar di atas dan coba bandingkan kondisi geologis kita dengan kondisi di Rusia sana, dimana Chernobyl berada. Rusia sunyi senyap jika dibandingkan dengan kita.
Lucunya, elit politik dan beberapa ahli merasa bangga bila kita memiliki pembangkit listrik bertenaga nuklir. Itu menunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang canggih, katanya. Padahal basis pembangkit listrik tenaga nuklir itu cuma boiler, alias tungku pemanas air. Basis teknologi ini tidak beda dengan pembangkit-pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) lainnya, cuma beda bahan bakar yang digunakan untuk pemanas airnya saja. Sungguh suatu cara yang sangat mahal dan beresiko hanya untuk merebus air.
Baru-baru ini kita dengar ada rencana baru pemda Gorontalo untuk membangun pembangkit listrik nuklir terapung. Canggih ‘kan? In your dream!!! Tahu nggak sih mereka bahwa di negara asalnya, di Rusia sana, belum ada satu pun pembangkit listrik terapung yang beroperasi? Prototype-nya saja baru akan selesai dibuat pada tahun 2010 di Rusia sana. Dan this bl**dy politicians bangga benar bahwa propinsinya dan bangsanya akan menjadi yang pertama menggunakan teknologi ini. Dengan kata lain, mereka bangga benar bahwa propinsinya dan bangsanya menjadi kelinci percobaan –menjadi guinea pigs!
Beginilah memang nasib suatu bangsa yang pemimpinnya bermental pedagang. Kebanggan semu sebagai "yang pertama" sangat mudah dicekokkan ke otak mereka dan membutakan mereka dari makna sebenarnya dari ungkapan tersebut, yaitu "guinea pigs". Nggak lebih dan nggak kurang.
Uncategorized |One Response to “the nation of guinea pigs”
Leave a Reply

Susah pu,
para pemimpin negara khan sodagar semua ?
truz,
pinginna’ masuk guiness book of record dunk…menjadi negara yg “pertama” !!
Hihihi…bloody stupidito…