duuuuhhh…
lagi-lagi kaubertanya pada matahari yang menyorot ke dalam ruang,
dan pada kipas angin yang berputar di atas kepala,
serta pada tanaman yang baru ditanam di luar jendela,
juga pada burung-burung yang kali ini bisa kau lihat terbang melintasi atap…
tak jua kau temukan jawab,
bisu semua,
memalingkan wajah ketika kau tatap,
walau kau tahu ada jawab tanyamu pada mereka
selalu sampai waktunya,
ketika kau sadar,
kadang jawaban tak ada artinya,
namun kau tetap bertanya, sejuta pertanyaan yang sama
selalu tiba saatnya,
ketika kau mengakui,
yang kau perlukan hanya berdamai dengan diri, seringkali
namun kau tetap berdebat, dengan pikiranmu sendiri
selalu datang suatu masa,
ketika kau bosan,
membaca buku yang serupa, walau dengan cerita yang berbeda,
namun kau pilih lagi kisah itu, tanpa ragu-ragu
terserah lah!
kau yang akhirnya akan sadar,
kau yang akhirnya akan mengakui,
kau yang akhirnya akan bosan,
bukan matahari yang sumringah di atas langit sana
bukan kipas angin yang terus berputar tanpa lelah
bukan tanam-tanaman yang sedang menikmati tanah barunya
bukan pula burung-burung yang bebas terbang tanpa beban
dan yang jelas bukan aku
[..lagi blank and gak mutu blas...]
Uncategorized | Comment (0)enjoy aja lah ‘wak…
PMS, pekerjaan yang datang bagaikan gelombang tsunami dan cupid yang tiba2 nyelepet adalah kombinasi situasi terburuk yang bisa dialami oleh perempuan.
Di saat kita memerlukan keenceran otak untuk menghasilkan ide-ide cerdas, di saat itu otak kita beku atau mengental kayak susu kental manis cap bendera. Di saat kita membutuhkan konsentrasi untuk menyelesaikan pekerjaan, di saat itu pikiran kita melayang-layang entah kemana. Di saat pekerjaan menuntut kita menghasilkan tulisan-tulisan yang mengandalkan otak kiri, di saat itu malah otak kanan yang mendominasi –-tiba-tiba jadi pujangga dan maunya malah nulis puisiiiii melulu. Di saat kita harus cool dan tidak emosian, di saat itu darah cepat bener naik ke kepala. Untung aja otak kita enggak korslet.
Tapi seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya, tak ada guna melawan yang begini-beginian. Yaahhhh dalam segala hal, hukum aksi-reaksi Newton yang bikin hidup kita susah itu selalu berlaku. Jadi seperti kata iklan rokok “…Enjoy aja!!”.
Uncategorized | Comment (1)twink..twink..
twink..twink..
jantungnya lompat-lompat..
twink..twink..
matanya mengerjap..
twink..twink..
langkahnya bak melayang..
twink..twink..
pikirnya bagai terbang..
twink..twink..
langitnya kerlap-kerlip..
twink..twink..
alamnya warna-warni..
twink..twink..
sedang senang hatinya..
riuh rendah..
twink..twink..
dia bertanya
dia bertanya pada angin
angin hanya mendesau
dia bertanya pada malam
malam diam dalam kelam
dia bertanya pada rembulan
rembulan tersenyum sahaja
dia bertanya pada bintang
bintang mengerling penuh makna
angin memeluk malam
berbisik, bersenandung
bintang menari bersama rembulan
dalam alunan musik bisu
jangan bertanya, si jangkrik berkata
nikmati saja..krrook…krrook..sahut sang kodok
that look
that look
stabs
snaps
shoots
slaps
smacks
strikes
punches
hits
kicks
pinches
blasts
burns
freezes
kills
me
wondering
who
what
why
[sekitar bundaran HI, nov 8, 2006]
you think you own indonesia what?
Rasanya kepingin aku menyatakan itu secara langsung kepada si Bush yang mau datang ke Indonesia. Entah apa maunya, tapi yang jelas rencana kedatangannya menimbulkan berbagai kerepotan buat orang-orang Bogor dan sekitarnya. Sekolah-sekolah diliburkan, sinyal handphone dimatikan, dan 18.000 pasukan pengamanan diturunkan, itu diantaranya. Entah apa lagi yang diminta sama si Bush untuk kepentingan kedatangannya yang cuma 6 jam-an itu.
Hoi Bush! You think you own Indonesia what???!!!! [Baca: Hoi Bush! Lo pikir elo yang punya Indonesia, apa???!!!]
Uncategorized | Comment (1)the nation of guinea pigs
Kali ini aku mau serius. Gambar di atas menunjukkan posisi geografis Indonesia dan kondisi geologisnya. Lihatlah bagaimana intensitas aktifitas bawah permukaan di belahan bumi dimana kita sedang duduk, tidur, makan, dan bermain-main di atasnya. Aku tidak sedang menakut-nakuti kita semua, tapi aku ingin mengajak
kita semua berpikir realistis dan sedikit lebih memiliki kecerdasan kontekstual
tentang dimana kita berada.
Bencana demi bencana menyambangi bangsa kita, tapi kita enggak pernah belajar. Even worse, kita menyediakan diri menjadi kelinci percobaan bagi raksasa teknologi yang ingin agar produknya laku di pasar dunia. Ya, kita menyediakan diri menjadi kelinci percobaan industri nuklir dunia yang produknya tidak lagi laku dalam beberapa dasawarsa terakhir.
Bisakah kita bayangkan reaktor pembangkit listrik tenaga nuklir dengan kapasitas 4 kali kapasitas Chernobyl ada di belahan bumi dengan kondisi geologis yang amat sangat tidak stabil seperti nusantara? Lihatlah gambar di atas dan coba bandingkan kondisi geologis kita dengan kondisi di Rusia sana, dimana Chernobyl berada. Rusia sunyi senyap jika dibandingkan dengan kita.
Lucunya, elit politik dan beberapa ahli merasa bangga bila kita memiliki pembangkit listrik bertenaga nuklir. Itu menunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang canggih, katanya. Padahal basis pembangkit listrik tenaga nuklir itu cuma boiler, alias tungku pemanas air. Basis teknologi ini tidak beda dengan pembangkit-pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) lainnya, cuma beda bahan bakar yang digunakan untuk pemanas airnya saja. Sungguh suatu cara yang sangat mahal dan beresiko hanya untuk merebus air.
Baru-baru ini kita dengar ada rencana baru pemda Gorontalo untuk membangun pembangkit listrik nuklir terapung. Canggih ‘kan? In your dream!!! Tahu nggak sih mereka bahwa di negara asalnya, di Rusia sana, belum ada satu pun pembangkit listrik terapung yang beroperasi? Prototype-nya saja baru akan selesai dibuat pada tahun 2010 di Rusia sana. Dan this bl**dy politicians bangga benar bahwa propinsinya dan bangsanya akan menjadi yang pertama menggunakan teknologi ini. Dengan kata lain, mereka bangga benar bahwa propinsinya dan bangsanya menjadi kelinci percobaan –menjadi guinea pigs!
Beginilah memang nasib suatu bangsa yang pemimpinnya bermental pedagang. Kebanggan semu sebagai "yang pertama" sangat mudah dicekokkan ke otak mereka dan membutakan mereka dari makna sebenarnya dari ungkapan tersebut, yaitu "guinea pigs". Nggak lebih dan nggak kurang.
Uncategorized | Comment (1)mendung
Seorang temanku bertanya kenapa aku membenci mendung. Well, banyak sebabnya –practically dan emotionally. Practically, cuaca mendung itu menimbulkan kebingungan – apakah harus membawa payung atau tidak, misalnya. Atau, harus membawa jaket atau tidak. Sepele nampaknya tapi seringkali dipilir-pikir, terutama oleh orang seperti aku yang selalu naik kendaraan umum dan suka malas membawa gembolan tambahan.
Emotionally, cuaca mendung menimbulkan rasa malas. Bila situasi emosi sedang tergangganggu rasa malas ini bisa berubah menjadi melankolik, dan bahkan even menimbulkan ke-bitchy-an. Cuaca mendung juga menimbulkan ketidakjelasan, hujan enggak, terik juga enggak. Yang jelas, bila cuaca mendung hawa menjadi panas dan gerah –ya karena memang pada peristiwa perubahan uap air menjadi air terjadi pelepasan panas. Dan hawa yang gerah ini amat sangat tidak nyaman, iya nggak?
Coba tengok ke langit malam dan pandangi awan mendung cumulonimbus yang menggantung. Scary, huh? Kadang kurasakan awan tebal itu seolah mau menelan kita yang ada di bawah.
Entah kenapa, cuaca tanpa matahari membuatku kehilangan semangat. Suasana yang remang-remang bagaikan di twilight zone sungguh tidak mengenakkan. Tidak mengherankan di Swedia sana, yang hanya disinggahi matahari beberapa bulan dalam setahun, tingkat kematian akibat bunuh dirinya menduduki peringkat tertinggi di dunia. Siapa yang enggak depresi? Nggak ada matahari, dingin, nggak bisa kemana-mana. Kalaupun mau pergi ke luar rumah, ribet bener jadinya, karena harus pake segala macam perlengkapan tambahan –sweater, jaket, scarf, kupluk, sarung tangan, kaos kaki tebal, sepatu boot anti slip, itu yang standar.
Beberapa hari terakhir ini aku berdoa agar hujan segera turun. Tidak perlulah lebat, cukup sekedarnya agar sedikit dingin bumi dibuatnya. Tapi, akibat fenomena pemanasan global yang memicu terjadinya perubahan iklim, kita harus mengalami musim panas dan kering yang berkepanjangan, dan musim hujan yang periodenya semakin pendek namun dengan intensitas yang tinggi. Maka dalam beberapa bulan ke depan, bisa dipastikan akan banyak terjadi peristiwa hujan super lebat, banjir bandang, tanah longsor. Pertanyaannya sekarang, sudah siapkah kita?
Uncategorized | Comment (1)lebaran yang aneh
Lebaran tahun ini adalah lebaran teraneh sepanjang ingatanku. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, untuk pertama kalinya keluargaku enggak kompak merayakan lebaran. Kelihatannya masing-masing ingin mempraktikkan ijtihad berdasarkan keyakinan masing-masing.
Ini semua berawal dari merebaknya perbedaan pendapat soal kapan lebaran akan berlangsung di kalangan beberapa golongan ulama. Kalangan Muhammadiyah sejak jauh-jauh hari meyakini bahwa lebaran akan jatuh pada tanggal 23 Oktober (Hari Senin). Sementara itu pemerintah menyatakan untuk menunggu keputusan ulama yang akan melihat terbitnya bulan baru pada malam menjelang tanggal 23 Oktober.
Dan ketika pada malam tanggal 22 Oktober para ulama menyatakan belum melihat bulan baru, pemerintah memutuskan bahwa lebaran jatuh pada tanggal 24 Oktober (Hari Selasa). Tapi pada saat yang sama, sekelompok ulama di sekitar Cilincing(?) menyatakan sudah melihat bulan baru, demikian tayangan di televisi juga menyatakan.
Dan malam itu dibuatlah berbagai keputusan di keluargaku. Kedua orang tuaku memutuskan untuk berlebaran pada tanggal 23 Oktober. Bukan mengikuti Muhammadiyah, tapi karena mereka meyakini ulama yang menyatakan telah melihat bulan baru. Adikku dan sepupuku yang kebetulan sedang berlibur di rumah menyatakan untuk ikut pemerintah saja. Kalau pemerintah salah dan kita berdosa karena berpuasa pada hari yang seharusnya menjadi hari raya, biarlah Presiden SBY yang menanggung dosanya…demikian kata adikku.
Lucunya, tanggal 23 pagi adikku mendapat telepon dari seorang teman yang entah bagaimana berhasil mengubah keyakinannya bahwa memang tanggal 23 ini sudah masuk sebagai hari raya, thus diharamkan bagi kita berpuasa. So, satu keputusan aneh kemudian dibuat oleh adikku: membatalkan puasanya pada tanggal 23 tersebut namun baru akan sholat Id pada tanggal 24 (berhubung sudah terlambat untuk sholat di tanggal 23). Keputusan aneh ini pun tak lupa ‘disosialisasikan’ ke saudara-saudaraku yang lain sehingga mereka membatalkan puasa di tanggal 23 dan berlebaran di tanggal 24.
Lain lagi dengan sepupuku. Keyakinannya tidak tergoyahkan dan dia memutuskan untuk terus berpuasa di tanggal 23 dan berlebaran di tanggal 24. Tetanggaku lain lagi. Dia dan keluarganya memutuskan untuk berlebaran di tanggal 24 dengan alasan belum siap berlebaran di tanggal 23 –ketupat belum matang dan lauk-pauk belum tersedia. Nggak ada hubungannya dengan bulan baru, ijtihad, or whatsoever.
Aku sendiri enggak ambil pusing kapan seharusnya lebaran dan cuma bisa ketawa-ketawa saja melihat kehebohan dan kebingungan yang terjadi, karena seperti 4 tahun sebelumnya, lagi-lagi lebaran terpaksa harus kurayakan tanpa bisa melakukan ibadah sholat Id.
Cherish the diversity!
Uncategorized | Comments (2)gegar budaya
Halloween (btw, bener nggak ya ejaannya?). Does it mean anything for you? Mungkin bagi sebagian orang tanggal 31 Oktober berarti another party with another theme. The same gedek-gedek, ajeb-ajeb, hingar bingar…only with different costumes. I never like that kind of crowd. Terlalu memusingkan dan terlalu memekakkan telinga.
Dan ketika mengalami keriuhan Halloween malam itu di Khao San, Bangkok, pikirku melayang kemana-mana. Rupanya beginilah yang disebut sebagai gegar budaya. Khao San adalah salah satu area yang sering didatangi turis di Bangkok. Suasananya mirip Kuta Bali –penuh dengan bar, club, dan toko-toko. Dan malam itu Khao San membludak, dipenuhi orang dengan berbagai kostum Halloween. Anak muda dengan pakaian serba hitam bertebaran dimana-mana. Belum lagi yang menggambari mukanya seperti genderuwo, setan, hantu, vampire…lengkap dengan tanduk merah menyala. Kebebasan berekspresi nampak nyata sekali malam itu.
Aku jadi ingat ketika dua tahun yang lalu seorang temanku di Belgia merasa gusar akibat mulai maraknya perayaan Halloween disana, dimana anak-anak kecil mulai suka memakai kostum alam gaib, membawa labu, berjalan dari rumah ke rumah dan mengetuk-ngetuk pintu rumah tetangganya. Temanku bilang, "This is not our culture!" –sambil bersungut-sungut.
Ketika dominator global melalui media massa dan informasi yang tanpa sekat dan batas mendikte kemana perdaban harus menuju, maka kita saksikan gegar budaya terjadi dimana-mana. Dan pada satu titik kita tersadarkan, kemana pun kita pergi, kita seakan-akan tidak pergi kemana-mana –kita nonton CNN dan film Hollywood, makan di McDonald, ngopi di Starbucks, dll..dll..dll.
Uncategorized | Comment (0)