ramadhan
Tinggal kira-kira satu setengah hari lagi sebelum memulai kembali Ramadhan. Entah kenapa Ramadhan kali ini tidak (atau belum) menimbulkan antusiasme bagiku. Baru saja seorang teman kantor menghampiri dan mengajak saling bermaafan. Setengah detik sempat berpikir, iya ya…udah mau puasa lagi. So what?
Terus terang aku lagi mencari spirit dari Ramadhan yang akan datang. Aku bosan dan capek menyaksikan berbagai kepura-puraan dan gap yang sangat besar antara apa yang seharusnya dengan apa yang ada di dunia nyata di sekelilingku. Aku bosan dan capek melihat orang-orang yang sama –penghisap, pembohong, dll– berbondong-bondong menampilkan wajah malaikat di bulan puasa dan balik jadi bloody evil di sebelas bulan selanjutnya. Aku bosan mendengar nama Tuhan diumbar dengan mudah ketika mulut yang sama dengan mudahnya juga menaburkan kata-kata dusta. Intinya, aku sedang kehilangan motivasi spiritual Ramadhan.
Wuaaaahhhhhhh…kenapa juga aku jadi begini ya, padahal mungkin aku juga seperti mereka. Anyway, selamat ber-Ramadhan ria buat semuanya. Semoga dalam dua hari yang tersisa ini aku bisa menemukan motivasiku untuk berpuasa –yang bukan berarti "menahan lapar dan haus sejak matahari terbit hingga terbenam".
Uncategorized | Comment (0)balada ojek
Ojek adalah the most favorite transport buat aku yang tinggal di Jakarta yang super sibuk ini. Ojek adalah alat transport yang cukup reliable –cepat, anti macet, dan konsumsi energi per orang per kilometernya relatif kecil (dibandingkan dengan mobil lho…). Dari kantorku (yang berada cukup di tengah kota) ke arah mana pun di Jakarta ini bisa ditempuh dengan waktu maksimal 30 menit.
Dalam pikiranku, tukang ojek adalah orang yang paling tahu jalan-jalan di Jakarta ini. Oleh karenanya seringkali aku tinggal menyebutkan tujuanku dan si abang ojek langsung melesat –kadang menempuh rute aneh yang sama sekali baru buatku, juga bonus some adventure seperti melawan arus kendaraan =P
But that’s not always the case. Ternyata ada juga abang ojek yang agak kuper, kurang jam terbang, dan perlu banyak latihan. Misalnya saja dulu, ketika aku minta si abang ojek membawaku dari stasiun kereta di Kalibata ke Blok M. Dengan pede-nya si abang melesat, lewat jalan-jalan kecil –yang instead of mempercepat waktu malah justru memperlama. Dan akhirnya di suatu persimpangan jalan, kebingunganku terjawab: “…belok kiri atau kanan, mbak??” Wuaaaahhhh….mangkelnya…Dengan kesal kukatakan bahwa seharusnya dia bilang kalau enggak tahu jalan. Ingin rasanya kusuruh dia pindah ke belakang dan aku yang mengendarai sepeda motornya. Untung saja aku enggak bisa nyetir motor!
Kejadian serupa terjadi beberapa hari yang lalu, ketika aku punya janji untuk bertemu teman-temanku after hours di satu mall baru di kawasan Sudirman. Belajar dari pengalaman sebelumnya, ada beberapa step yang kulakukan sebelum naik ke boncengan. Pertama, sebutkan dengan cukup detail lokasi yang akan kita tuju. Kedua, tanyakan apakah si abang tahu tempatnya. Ketiga, tanyakan apakah dia tahu jalan menuju kesana; bila iya, Alhamdulillah, bila tidak, maka siap-siaplah memberikan instruksi kepadanya sepanjang perjalanan.
Tapi, walaupun “protocol” di atas sudah dilakukan, dan si abang berkata bahwa dia tahu lokasi dan jalan menuju kesana, ternyata kadang itu tidak sepenuhnya benar. Dan dalam perjalanan menuju Sudirman itu kualami berputar-putar di sekitar Kuningan dan ditilang polisi akibat si abang ojek nyelonong ke jalur cepat di Semanggi.
Sejak malam itu, protocol perojekan pun berubah. Pertama, instruksi. Kedua, instruksi. Ketiga, instruksi.
Uncategorized | Comment (1)jatuh cinta: CLBK
Menyambung comment dari temanku si Duy tentang jatuh cinta, aku punya satu teori. Seperti halnya menguap (karena ngantuk) ternyata jatuh cinta juga menular. Coba saja tiba-tiba orang di dekat kita mengantuk dan menguap lebar-lebar, pasti beberapa detik kemudian kita akan tertular dan menguap sama lebarnya. Begitu juga jatuh cinta. Di dalam gerombolanku saja, dalam waktu hanya beberapa minggu, "penyakit" jatuh cinta ini sudah menyebar dan menjangkiti beberapa personilnya. Dan varietas penyakitnya pun sama, yaitu jatuh cinta jenis CLBK (serupa lah seperti malaria…ada malaria tertiana, malaria quartana etc).
Fenomena penyakit jatuh cinta CLBK (cinta lama bersemi kembali) ini ternyata tidak hanya menjangkiti gerombolan siberat saja, tapi juga temanku yang lain. Salah seorang teman nge-band-ku contohnya, dia mengalami CLBK juga; dia jatuh cinta lagi sama suaminya. Ini contoh yang baik. Temanku ini juga bilang bahwa dia mengalami hal yang sama sepertiku: menjadi saksi orang-orang yang sedang tergebok-gebok oleh si cupid keparat itu.
Tapi bagaimana dengan kasus dimana The CLBK ini udah jadi property-nya orang lain? Gawat tentu saja. Nah, kalau menemukan kasus semacam ini, sebaiknya kita berusaha sedini mungkin melakukan tindakan-tindakan pre-emptive. Misi ini harus digagalkan, temans! –wuihhh, heroik banget kesannya, padahal…look who’s talking, getoo lohhh… =P
Anyway, suasana yang penuh cinta ini sedikit mengobati kesebalanku melihat kondisi di sekitar yang makin carut marut (rasanya, aku mulai setuju dengan ucapan seorang teman yang bilang, "Capek ya jadi orang Indonesia!"). Mungkin memang sekarang ini bulan-bulannya orang jatuh cinta, kan sebentar lagi bulan Syawal (Lebaran). Seperti lagunya Bang Benny dan Ida Royani: eh ujan gerimis aje…ikan bawal diasinin…eh jangan menagis aje…bulan syawal dikawinin…. (lagu favorit si Preman nih, btw).
Uncategorized | Comments (2)jatuh cinta (lagi)
Menyaksikan orang yang sedang jatuh cinta memang amazing dan selalu memberikan pengalaman baru buatku. Ada yang mendadak dangdut, ada yang tiba-tiba jadi stupid, ada yang premannya hilang entah kemana, ada yang gaya betawinya ngalah-ngalahin Mandra tiba-tiba berubah jadi Yus Badudu (itu lho, Bapak Bahasa Indonesia yang baik dan benar).
Coba bayangkan percakapan berikut ini:
”Halo Cinta, lagi dimana?”
”Iya…Honey Bunny Strawbery…”
”Sepertinya saya menelepon kamu di saat yang kurang tepat”
Dll….dll…
Dan lucunya, semua kata-kata mutiara itu keluar dari mulut seorang temanku yang kepremanannya ngalah-ngalahin preman beneran. Takjub. Speechless. Memang sulit dibayangkan, terutama dari orang yang dalam percakapan sehari-hari banyak menghamburkan ”tuuut” words yang kurang baik untuk didengar oleh anak-anak di bawah umur..he..he..he…
Tapi begitulah fenomenanya. Agak sulit memang mengajak yang sedang terbang di atas awan untuk sedikit menengok ke bumi. Tapi setinggi-tinggi burung terbang, dia tetap harus mendarat. Dan kudoakan dengan sepenuh hati, pendaratan temanku nanti akan mulus dan tak kurang suatu apa. Amiin…
[buat si jamblang...take care ’Hon!]
Uncategorized | Comments (5)