nggak ada judul

August 23rd, 2006

tanya menggantung
bingung menggunung
mencari jawab
dalam hampa ruang
dalam ruang maya
diantara baris-baris kata
diantara wajah-wajah
yang sumringah
yang tergelak
jawab
apatah ada?

banda aceh (lagi…)

August 22nd, 2006

Mungkin benar apa yang orang Aceh sering bilang: “Sekali kita menginjakkan kaki di Aceh, maka kita pasti akan kembali lagi”. Setiap kali kakiku menginjak Bandara Blang Bintang (sekarang dinamai Bandara Sultan Iskandar Muda), setiap kali itu pula cuplikan-cuplikan pengalamanku di Aceh sebelumnya melintas di benakku. Seperti film dokumenter hitam-putih, bisa kulihat diriku mengalami berbagai peristiwa itu.  Melihat ketabahan orang Aceh, somehow, menginjeksikan kekuatan ketika aku menghadapi berbagai persimpangan.

Aceh memang bukan tempat biasa. Di masa lalu, Aceh adalah melting pot, dengan kejayaannya yang mencuat bagai mercu suar ke seantero jagat. Di masa kini, Aceh adalah melting pot juga, dengan segala konflik dan bencana yang susul menyusul. Dalam tempo setengah jam saja, ratusan ribu nyawa harus melayang akibat gempa dan tsunami –-mungkin saat itu adalah periode tersibuk bagi malaikat maut, ya?

Satu setengah tahun pasca tsunami, Banda Aceh yang kulihat bisa dikatakan sudah pulih seperti semula. Sepintas lalu, tak nampak tanda-tanda bahwa daerah ini mengalami bencana yang maha dahsyat. Melewati pusat kota ke arah pinggiran Banda Aceh barulah terlihat bahwa sesuatu memang terjadi disana. Banyak bangunan rumah sederhana baru, dengan atap-atap sengnya yang berkilau ditimpa sinar matahari yang terik.

Selain rumah-rumah, gedung-gedung perkantoran dan pertokoan yang baru, nampak pula "figur-figur" baru mewarnai Banda Aceh. Ada satu shopping mall yang baru dibangun. Kalau dulu hanya ada satu resto ayam goreng bapak jenggot, sekarang ini sudah ada pula resto burger berlambang beruang coklat dan juga satu resto pizza. Mungkin fenomena ini tidak hanya terjadi di Banda Aceh tapi juga di kota-kota lain di NAD. Resto mie kepiting Razali yang terkenal itu pun sudah buka satu cabang.

Satu setengah tahun pasca tsunami, Aceh tidak hanya menggeliat, tapi dia sudah berlari, embracing life anew.

30.000 ft dpl

August 12th, 2006

Sekelebat
Sekelebat
Datang
Tak diminta
Tak dinyana

Diharap
Tak diharap
Sekelebat
Selalu datang

Black hole
Liar
Berpencar
Sebelum
Lubang hitam
Memerangkap
Pikirku
Selamanya

Grrhhh…
Resah
Gerah
Sumpah serapah
Tertumpah

Rusuh
Keruh
Hati gemuruh
Gaduh

Grrhhh…lagi
Robot-robot
Zombie-zombie
Monster-monster
Bergerak
Berbaris
Congkak

Peluru-peluru
Rudal-rudal
Tak bermata
Tak berhati
Tak bersuara
Leburkan kota

Perempuan-perempuan
Anak-anak
Meregang nyawa
Tak mengerti
Salah apa
Pada mereka

[jakarta-bangkok, 4 agustus 2006]

ragu

August 12th, 2006

Cahaya!
Selamat pagi,
Sapa Sang Baik
Cahaya berlalu
Dalam ragu

[bangalore, 11 agustus 2006]

diplomasi a la india

August 12th, 2006

Bila kita berbicara dengan orang India, perhatikan lah kepalanya. Menggoyang-goyangkan kepala adalah bagian yang tak terpisahkan dalam komunikasi gaya India. Goyangan kepala tersebut dilakukan sedemikian, sehingga sulit kita memastikan apakah itu anggukan atau gelengan. Oleh karenanya sulit pula kita pastikan apakah itu menandakan persetujuan, penolakan, atau hanya sekedar bermakna, ”…whatever you say lah ’pal…don’t give it a damn”.

Temanku yang orang India mengatakan untuk tidak hanya memperhatikan kepala. Perhatikan pula keseluruhan gesture lawan bicara kita, maka kita bisa katakan apakah goyangan kepala itu berarti iya, tidak, atau no-comment. Namun demikian, bagi orang asing seperti aku tetap saja sulit memastikan, apalagi bila itu terkait dengan respon atas percakapan yang tidak bisa kita pastikan apa jawabannya. So seringkali aku menanyakan kembali kepada lawan bicaraku, ”Is it a yes, or a no?”

Dan di airport malam itu, kutemukan bahwa goyangan kepala juga merupakan alat diplomasi gaya India. Ketika check-in, petugas di counter check-in mengatakan bahwa namaku dan nama temanku tidak terdaftar di sistem komputernya. Dia meminta tiket kami untuk diperiksa oleh petugas dari airlines. Setelah beberapa lama, petugas airlines datang dan memastikan bahwa nama temanku ada di dalam sistem. Kemudian, si petugas counter memberikan tiketku kepada petugas airlines tersebut untuk diperiksakan. Agak kesal, kutanyakan mengapa tidak dia lakukan pemeriksaan tiket kami sekalian, dan mengapa harus satu per satu yang akan memakan waktu lebih lama. Tanpa berkata sepatah kata pun, si petugas counter menggoyang-goyangkan kepalanya sedemikian rupa. Dan serta merta, kekesalanku terbang hilang entah kemana.

darwaza bandh rakho

August 12th, 2006

Itu adalah judul film yang kutonton di Indiahe-nehi-nehi baru-baru ini. Film ini berkisah tentang 4 orang ’loosers’ yang nekat menyandera seorang gadis di rumahnya untuk mendapatkan uang tebusan dari orangtua si gadis yang, bukan kebetulan, cantik dan sexy.

Secara kualitas film ini memang tidak ditujukan untuk kelas festival. Tujuan pembuatan film ini kurasa cuma satu, yaitu membuat penonton terhibur. Yaahh, beda-beda tipis dengan film-film Warkop Dono-Kasino-Indro lah, full of slapstick dan ilustrasi musik model-model bunyi saxophone dalam lagu Pink Panther. Bahkan absurditas ceritanya melebihi film warkop.

Industri film India dengan Bollywoodnya memang terasa mendominasi bioskop-bioskop. Di bioskop yang kudatangi malam itu, misalnya, tak ada satu pun film non-India yang diputar di 4 teater yang ada disana. Mulai film drama yang serius, film gaya Bollywood yang penuh dengan adegan tari-nyanyi-nangis berjamaah (yang sering diputar di TV disini), sampai film action dan film konyol seperti yang kutonton, ada semua. Dengan tiket seharga 130 rupee (atau sekitar Rp.25 ribu) kita sudah dimanjakan dengan reclining seats dan gedung teater yang super duper dingin. Satu hal lagi, di tengah-tengah film, ada waktu istirahatnya lho. Film dihentikan selama 5 menit untuk memberi kesempatan penonton pergi ke toilet atau sekedar membeli makanan dan minuman.

Apresiasi masyarakat India terhadap film (dan produk-produk lain) buatan negeri sendiri adalah salah satu hal yang membuat aku kagum pada negeri Mahatma Gandhi ini. Masyarakat India sangat bangga dengan apa yang mereka produksi sendiri, seperti prinsip Swadesi yang digemakan oleh Gandhi yang merupakan salah satu strategi melawan kolonialisme.