lakukan sepenuh hati atau tidak sama sekali

July 31st, 2006

Beberapa hari terakhir ini mengalami kesialan after kesialan, seolah-olah seluruh jagat berkonspirasi menghalang-halangi atau pun mensabotase apa yang seharusnya terjadi. Mungkin kita pernah (sering) mengalami situasi dimana everything…i really mean everything, do not fall in its places. Adaaaa aja yang salah, adaaaaa aja yang kurang. Partner bepergianku minggu lalu mengalaminya; ketika akan pergi ke stasiun kereta api, jalanan yang seharusnya sudah enggak macet eh kok ya macet. Waktu dia akan bayar taksi, eh kok ya enggak ada kembaliannya sehingga dia harus panik mencari-cari uang padahal kereta tinggal 5 menit lagi akan berangkat. Pokoknya hal-hal nitty gritty yang menyebalkan sekaligus membuat kita sport jantung dibuatnya.

Kalau mengalami hal seperti ini, biasanya aku akan berefleksi –apakah aku malas-malasan? apakah aku tidak merasa comfortable dengan apa yang aku lakukan? sudahkah aku berniat sepenuh hati melakukan hal tersebut? Nah, biasanya kalau jawaban kita "iya" atas semua pertanyaan tersebut (we don’t like to do it but we have no choice but doing it), expect some troubles on the way =p

Sebagai penganut kepercayaan "tak ada yang kebetulan di dunia ini" aku yakin benar bahwa kesialan-kesialan yang beberapa hari terakhir ini kualami bukanlah kebetulan –transmisi fax yang enggak mau masuk-masuk, mau sms failed terus, mau menelpon eh yang terdengar cuma nada sambung tanpa ada yang mengangkat, mau nge-print kertasnya habis, ada kertas bekas untuk ngeprint eh tinta printernya ketebalan dan blobbborr, blah blah blah….What a total conspiracy, don’t you think? Seperti halnya Hukum Kekekalan Miracle, di dunia ini ada juga yang namanya Hukum Kekekalan Bad Luck. Bunyinya: Bad
luck tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. It was
somewhere out there. And it takes only a little of halfheartedness to make it fall right on your lap.

So malam ini aku akan coba mengelola pikiran dan hatiku, mencoba berdamai untuk melakukan apa yang harus kulakukan dengan sepenuh hati. Semoga itu dapat membuat seluruh jagat berkonspirasi membalikkan bad luck menjadi good luck di esok hari. Amiin.

mabuk laaagiiiiii….mabuk laagiii…..

July 28th, 2006

Seumur-umur, baru dua kali aku mengalami yang namanya mabuk (yang halal..huehehehe…). Yang pertama, mabuk duren. Alkisah beberapa tahun yang lalu aku pergi main ke Bandung, dan sohibku yang selalu kutebengi menginap mentraktir duren di daerah dekat stasiun. Ngejogroklah kami disana dan dua buah duren segede gaban kami santap berdua saja sambil ngobrol ngalor ngidul. Alhasil, sepulang dari sana kepala terasa berat dan mata tak mau dibuka. Semalaman aku cuma bisa terbaring tak berdaya. Dalam hati kemudian berkata, "Oooohhh…begini tho yang namanya mabuk (duren)".

Yang kedua terjadi kemarin malam. Lokasi kejadiannya di pelosok Kecamatan Troso, Kabupaten Jepara sana. Ceritanya disana ada pedagang spesialis kerang rebus. Segala jenis kerang ada disana. Mulai dari kerang yang kecil-kecil, kerang hijau, kerang putih kekuning-kuningan, sampai kerang yang kulitnya putih pipih, yang biasa dirangkai menjadi lampu gantung model lampion (seperti yang banyak dijual di Pasar Seni Ancol itu lho…eh tapi btw, Pasar Seni masih ada nggak ya? udah lama nggak kesana). Itu lah pertama kalinya aku memakan ‘daging’ kerang si puti pipih tersebut. Bagiku, semuanya itu cuma punya nama satu, yaitu k-e-r-a-n-g. Sementara bagi masyarakat lokal, masing2 jenis kerang tersebut punya nama tersendiri –yang aku lupa apa saja  namanya.

Sebelum kami ngejogrok disana dan mulai menyantap segala jenis kerang tersebut, temanku sudah mengingatkan agar berhati-hati bila sudah lama tak makan kerang, karena nanti bisa mabuk. Eh, dasar bandel dan gelap mata akibat melihat setumpuk kerang begitu murahnya, aku cuma  senyum-senyum dan berkata dalam hati, "Mabuk kerang? What’s that?". Maka yang terjadi, terjadilah. Satu baskom plastik kerang seharga Rp.5000 (bayangkan!!!) itu kami santap dengan lahapnya. Dan "kutukan" temanku pun menjadi kenyataan. Sepanjang perjalanan pulang aku cuma bisa diam dan menyandarkan kepala di kursi mobil yang kami tumpangi. Kepala terasa berat dan mata tak mau dibuka. Dan di dalam hati kudengar ada makhluk bertanduk berkata dengan bengisnya, "You ask for it…you got it..heh..heh..heeeh!!"

 

good night, and good luck

July 22nd, 2006

Baru aja selesai menonton film dengan judul di atas yang diperani oleh George Clooney. Secara sinematografi, film ini tidak seperti film biasa karena ditampilkan black-and-white dan dibuat seolah-olah film dokumenter, karena memang film ini didasarkan pada kejadian sesungguhnya. Bagi penggemar film laga film ini bukanlah film yang menarik karena ini film NATO alias ‘no action talk only’. Walau demikian, film ini sempat diganjar nominator Piala Oscar 2006. Aku suka film ini karena bisa menggambarkan bagaimana kehidupan di satu pojok dunia pada satu masa yang tidak kualami sendiri.

Secara tema film ini mirip dengan ‘All the President’s Men’ yang bercerita tentang relasi dunia politik dan jurnalisme di Amrik sono, dimana dua orang reporter Washington Post, Bob Woodwards dan Carl Bernstein, menguak skandal Watergate yang kemudian berujung pada kejatuhan presiden Nixon.

Bersetting pertengahan tahun 1950-an, film Good Night and Good Luck bercerita tentang paranoia pemerintah Amerika Serikat terhadap komunisme sehingga siapa pun yang pernah punya keterkaitan baik langsung maupun tidak langsung dengan segala hal yang berbau kiri akan segera diberi label “membahayakan negara” (sounds familiar, yes?).

Fokus cerita berputar pada dua orang jurnalis televisi CBS (Columbia Broadcast System), Edward R. Murrow dan Fred Friendly, yang berusaha melawan upaya seorang anggota senat mengeksploitasi ketakutan terhadap komunisme sehingga harus mengorbankan hak-hak sipil individu warga negara Amerika Serikat. Tentu saja sang jurnalis menang. It only happens in America such thing ;D

Yang membuatku ingin membicarakan film ini adalah karena ternyata sejarah selalu berulang. Bila dulu di tahun 1950-an pemerintah Amrik menyebar communism paranoia, sekarang di tahun 2000-an pemerintah Amrik menyebar terrorism paranoia. The idea is not only pushed to its people but also to the whole globe, termasuk Indonesia. Either you with (b)us(h) or you’re the evil terrorist. And the idea is exploited in such a way it justifies unilateral invasion to a sovereign nation. Worst, the rest of the world can do nothing to stop.

Pertanyaan di benakku kini, will we witness another American politics-versus-journalism battle this time? Atau seperti yang dikatakan oleh Direktur CBS kala itu kepada Mr. Murrow, “Everybody censors, Murrow, including you”.

Good night, and good luck!

don’t give up on friend: revisited

July 22nd, 2006

Sore kemarin seorang teman yang lama tak muncul di belantara messenger tiba-tiba menyapa dan mengajak bergosip ria. Awalnya aku agak malas menanggapi karena terkait dengan satu topik yang selalu memicu energi negatif thus selalu ingin kuhindari. But what a friend’s for if not to lend you ears when you need..he..he.. Apalagi ini tentang temannya that happened to be my friend as well. Dia ingin menyelamatkan teman kami itu, katanya.

Long long time ago aku pernah menjadi seorang idealis seperti temanku itu. Never give up on friend. There have to be some reasons behind everything, even the ones that’ve pissed you off. Seringkali kita terlalu reflektif dan bertanya pada diri kita: what did I do wrong (that I deserve such thing happened to me). Tapi pengalaman mengajarkan bahwa seringkali it’s not about you at all. It’s not about your doing something wrong. It is just a part of the story of our lives. C’est la vie. Dan yang kita perlukan seringkali hanyalah kemauan untuk berdamai dengan diri kita sendiri, seperti wejangan seorang teman yang pernah kucurhati. Tidak gampang memang.

People change. What is shown on the surface doesn’t always reflect what’s inside. Kalau ingin jawaban atas pertanyaan kita, so ask then. Tapi kalau tak juga kita dapatkan jawabannya, then maybe that’s the time to just let go dan mencoba berdamai dengan diri kita. Not everybody wants to be our friends. And you can’t make everybody your friends either. So be it. Dan pada saat muncul kekesalan (we’re only human anyway), just say this outloud to yourself: it’s their lost!

mbulet

July 21st, 2006

Aku (dalam hati): What are you talking about?
Dia (bersuara): Gm!&@^ agfj &^#*^&*^^ %#*kjdhgjs
Aku (dalam hati): Bahasa Indonesia, please…
Dia (bersuara): Bleketek kletek tereret dung pret gubrak
Aku (dalam hati): Haa??? Maksudnya?
Dia (bersuara): Iya itu, seperti yg saya bilang, hgefqio %#$^@$&^ khdjsgvb GF(*(*#(QJWF, boleh nggak?
Aku (dalam hati): capeeeekkkkk….boleh push up aja nggak?
Dia (bersuara): Jadi, jgfaugu iyewr983yr ihfgfuut(&(& ugfugw jebret, gitu deh!
Aku (bersuara…akhirnya): Bisa diulang sekali lagi?

zizou juga manusia

July 10th, 2006

Bagi sebagian besar pesepakbola dunia dan para sepakbola mania, Zinedine Zidane bukanlah sekedar pesepakbola biasa. Bahkan banyak yang menganggapnya sebagai ‘manusia setengah dewa’. Calon lawannya pun menganggap Zidane adalah ‘the luck’ itself, sehingga yang harus mereka lakukan untuk menahan Zidane di lapangan hanyalah dengan berharap agar dia tidak berada di kondisi terbaiknya. Dan mungkin, doa para pemain Italia kepada semesta alam dini hari tadi telah dikabulkan.

Sebagai salah satu fans berat Zizou aku bisa merasakan bagaimana sedih hatinya at this very moment. Pertandingan dini hari tadi telah diikrarkan sebagai pertandingan terakhirnya sebagai timnas di kancah internasional. Dan sejarah panjang kariernya yang demikian cemerlang harus ditutup dengan kartu merah ketika tengah berlaga di lapangan. That’s the worst scenario ever. Karena nila setitik rusak susu sebelanga, kata pepatah. Padahal, dia tinggal sejengkal lagi dengan gelar ‘Pemain Terbaik Piala Dunia 2006’. Isn’t it ironic?

Tandukan Zizou ke dada seorang pemain Italia –yang aku lupa namanya, lagian nggak penting juga…HUH!—sekilas memang pemandangan yang shocking. How come???!!! Tapi menurutku tak ada asap kalau tak ada api. Kalau melihat rekaman ulang proses terjadinya Zizou’s incident itu, menurutku si pemain Italia yang aku lupa namanya itu telah dengan sengaja memprovoke Zizou sedemikian rupa. Mungkin next time di peraturan FIFA harus ada brief assessment untuk menilai suatu tindakan yang insidental seperti itu…sehingga wasit bisa menilai WHY the thing happened dan bukan hanya melihat hasil akhirnya saja. Sehingga bukan hanya yang melakukan kesalahan saja yang dihukum tapi juga sang aktor di belakang layar who ‘motivates’ the conduct. If justice’s not blind.

Memang tak ada satu alasan pun yang bisa membenarkan tindakan Zizou tersebut. Apalagi we’re talking about sport here, the fair play. Tapi anyway, Zinedine Zidane –Zizou—cuma manusia biasa. Bahkan ‘manusia setengah dewa’ do some wrongs. It’s only about time. Dan buatku –dan mungkin juga jutaan fans Zizou all over the world—nila dari kartu merah di pertandingan dini hari tadi tidak cukup merusakkan sebelanga kehebatan dan kebaikan Zizou.

Allez Zizou!! Je t’aime encore. Toujours!!!

????

July 7th, 2006

Hilang semangat. Lesu. Lemah. Lunglai. Tidak bertenaga. Telat mikir dan malas mikir. Hang. Flat. Begitulah kondisiku akhir minggu ini. Bukan karena m*ncr*t yang kuderita sejak semalam, atau karena akhir-akhir ini sering begadang untuk nonton bola. Dan bukan juga karena efek semacam jetlag yang kurasakan akibat perjalanan 10 jam dengan kereta api antara Surabaya-Jakarta (saking udah lamanya nggak pernah naik kereta api jarak jauh).

Aku ngerasa sedang disambangi sama Dementor…itu tuh, makhluk di buku cerita Harry Potter that sucks up your happiness sampe habisz..bisz..bisz. Padahal I need that godamn happiness to finish all those things that pile up on my plate! HUH!!! Untung aja ada temen-teman yang ngajak jalan malam ini, walaupun dengan catatan minta ditraktir. Let’s see apakah dengan mentraktir orang aku akan menjadi lebih berbahagia *sambil jidat berkerut dan jari menggaruk-garuk dagu*.

Have a nice weekend!