wuaaahhhh…bencana lagi
Bencana lagi, bencana lagi….entah sampai kapan bangsa kita harus belajar sehingga nyawa-nyawa nggak perlu berjatuhan. Lagi mangkal di salah satu posko bantuan bencana, coba membantu apa yang bisa dibantu.,…mengingatkan pada kesibukan-kesibukan yang sama akhir tahun 2004 lalu…atau kesibukan-kesibukan yang sama yang selalu terjadi setiap tahunnya. Buka posko…koordinasi…mobilisasi bantuan…tenaga medis…obat…dll…dll…
Setiap menghadapi persitiwa semacam ini, selalu saja ngerasa ngenes…kok ya kita nggak pernah belajar…terngiang kembali…’pacific ring of fire’….’pertemuan lempeng-lempeng bumi’….belum lagi ditambah dengan berbagai kerusakan dan hilangnya keseimbangan ekologis. Sumpe!!! Kita ini rentan banget….rentan terhadap bencana…tak lain dan tak bukan karena kita tidak siap!
Wuaaaahhhh….entah sampai kapan bangsa kita harus belajar sehingga nyawa-nyawa nggak perlu berjatuhan….
Uncategorized | Comment (1)secara aku bukan city slicker =P
Waahhh…makin lama aku makin pusing dengan Bahasa Indonesia –atau mungkin lebih tepatnya Bahasa Indonesia versi anak gaul. Terus terang aku bukan city slicker yang terus menerus update dengan perkembangan bahasa gaul. Sempat bingung juga dengan beberapa ungkapan yang disampaikan oleh teman-temanku, verbally maupun virtually. Kadang responnya jadi jaka sembung ketemu gombloh…Maksud loehh??? (Hi..hi..hi..ungkapan ini pun kupelajari dari anak-anak muda yang suka mangkal di kantor baruku).
‘Secara’. Kata ini akhir-akhir ini sering kudengar dipakai wrongly (dalam kaidah Bahasa Indonesia standard lah…), misalnya seperti dalam judul di atas. Seringkali aku gatel mau memprotes –karena nggak masuk aja di pemahamanku pemakaian kata ‘secara’ secara demikian. Mungkin memang demikianlah perkembangan bahasa. Mungkin yang semula terdengar janggal, lama kelamaan menjadi biasa dan akhirnya diterima menjadi suatu kebenaran.
Masalahnya, seperti kata banyak orang, bahasa menunjukkan cara berpikir, budaya dan peradaban. Bahasa juga menunjukkan identitas. Terlalu banyaknya ketidakberaturan di dalam Bahasa Indonesia (sehingga kita sendiri pun seringkali bingung dengan tata Bahasa Indonesia yang baku) mungkin juga mencerminkan ketidakberaturan cara berpikir orang Indonesia. Atau mungkin saat ini Indonesia –sebagai suatu nation/bangsa—orang-orangnya sedang mengalami krisis identitas. Who knows?
Belum lagi banyaknya pengaburan makna dari kata-kata. Euphimisme yang tidak perlu dan mengarah pada cuci otak. Contohnya banyak, utang dibilang bantuan, subsidi dibilang beban anggaran, dll dll. Kalau sudah begini, maka bahasa adalah alat kekuasaan. Lihatlah Inggris dan Spanyol yang mengintrodusir bahasa mereka di daerah-daerah jajahannya. Hilangnya bahasa-bahasa asli bangsa-bangsa pribumi berarti pula hilangnya budaya, peradaban, dan identitas bangsa-bangsa tersebut.
Namun…yaaaah, secara nasi sudah menjadi bubur, ikutin trend aja lah…daripada dibilang bukan anak asyik…he..he..he…
Uncategorized | Comments (2)kenapa harus nuklir?
Industri nuklir sedang berupaya untuk bangkit kembali. Dengan mendompleng isu pemanasan global dan perubahan iklim yang telah menjadi keprihatinan masyarakat dunia, industri nuklir sedang melakukan konsolidasi global dan secara diam-diam dan rahasia berusaha mempengaruhi elit politik dan pengambil kebijakan di berbagai negara, terutama negara berkembang, untuk mendorong penggunaan nuklir di negara-negara tersebut.
Industri nuklir juga mendompleng (piggyback) sentimen nasionalisme dan kedaulatan bangsa-bangsa (terutama yang pernah menjadi bangsa terjajah) dengan isu ‘rights to development’ atau ‘rights to technology’ dengan berbagai slogan semacam ‘nuclear for peace’ atau ‘penggunaan nuklir untuk tujuan damai’. Padahal menurutku, dalam konteks Indonesia, sentimen ini terdengar absurd dan menggelikan. Coba kita tanya pada diri kita, apa iya kita masih punya kedulatan?? Wong ‘bumi, air dan segala kekayaan alam yang terkandung di dalamnya’ itu sudah menjadi milik orang lain kok. Kita-kita ini cuman jadi host aja. Terserah para tamu lah mau melakukan apa pun di rumah kita. Wong sejatinya semuanya udah tergadai dan kita ini pada akhirnya cuman ketempatan saja. Jadi tempat hajatan. Hajatannya siapa juga nggak jelas. Yang jelas, kita akan kebagian mencuci piringnya dan beres-beres rumah yang jadi berantakan pasca hajatan.
Dan sayangnya, kecenderungan pemerintah kita –dan sebagian masyarakat– adalah mengiyakan propaganda ini dan secara sadar maupun tidak sadar telah masuk di dalam perangkap propaganda industri nuklir.
Rupanya mereka lupa peristiwa Chernobyl 20 tahun yang lalu, atau Threemiles Island, dan berbagai kecelakaan nuklir lainnya. Padahal, berbeda dengan negara lain yang tidak memiliki sumber-sumber energi lain (sehingga ‘terpaksa’ memanfaatkan teknologi nuklir), Indonesia sangat kaya dengan sumber-sumber energi yang terbarukan (renewable energy), lebih bersih, dan lebih penting lagi lebih aman. Apa iya kita lupa dimana kita tinggal? Masih ingat ‘Pacific Ring of Fire’? Masih ingat ‘pertemuan lempeng-lempeng besar bumi’?
Hanya orang-orang yang mengamini tujuan-tujuan politis (dan bisnis) sesaat dan melupakan hidup generasi yang akan datang sajalah yang bersedia ‘membeli’ propaganda industri nuklir tersebut. Apalagi kalau ‘jualannya’ dikait-kaitkan dengan agama. Apa iya semua yang berbau Timur Tengah itu sama dengan Islam? Are we that naive? Are we that stupid?
Cuma kita semua yang bisa menjawab.
Uncategorized | Comment (1)sekali lagi da vinci code
Sekali lagi aku ingin membicarakan Da Vinci Code, namun tidak dalam konteks teologis atau religi atau pun kontroversi yang ada dalam buku dan film tersebut, karena aku bukan ahlinya. Aku ingin berefleksi –yang didorong oleh kolom yang ditulis oleh Romo Magnis Suseno di suatu majalah berita mingguan nasional terbitan terkini yang baru saja kubaca.
Aku kagum membaca tulisan Romo Magnis yang mencerminkan kedewasaan dan membawa pesan perdamaian despite segala kontroversi yang ditulis oleh Dan Brown dan dimunculkan dalam film, yang by the way memang cukup menghina jika kita memiliki empati kepada umat Kristiani. Romo Magnis pun terlihat tidak ter-provoke oleh tulisan yang tercantum di suatu harian nasional yang berhaluan Islam konservatif yang berkomentar dan intinya sepakat dengan ‘teori konspirasi a la Da Vinci Code’.
Seharusnya di dalam kondisi yang sensitive semacam ini, semua umat beragama di Indonesia sebaiknya menahan diri dan bukannya melakukan hal-hal yang secara langsung maupun tidak langsung justru dapat menyulut pertikaian diantara kita –sesama penduduk nusantara. Membaca pertanyaan Romo Magnis “Apakah hanya umat Islam saja yang berhak marah bila agamanya dihina?” sungguh telah membuatku –sebagai orang Islam– malu hati.
Menurutku, justru dengan menulis hal-hal yang bisa menyulut tersebut, umat Islam sebagai kelompok mayoritas sudah berbuat zalim dan sewenang-wenang terhadap saudara kita sebangsa dan setanah air yang berbeda keyakinan. Padahal, di dalam Al-Quran disebutkan “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku” –yang mungkin bisa diartikan sebagai toleransi atau co-eksistensi (sama-sama eksis tanpa saling mengganggu).
Malahan menurutku, membaca dan menonton film ini, bukan umat Kristiani saja yang seharusnya dan sewajarnya tersinggung. Umat Islam pun sewajarnya tersinggung, karena by the way, Yesus Kristus a.k.a Nabi Isa Alaihissalam (satu diantara 25 Rasul yang tercantum dalam Al-Quran yang WAJIB hukumnya dihormati oleh umat Islam), di dalam buku dan film ini dinyatakan memiliki anak –suatu hal yang juga bukan kepercayaan mainstream di dalam agama Islam. Bahkan, sehabis menonton film ini aku jadi penasaran dan ingin melakukan pencarian di Al-Quran atau kitab-kitab lainnya untuk menjawab pertanyaan “Apa iya Nabi Isa punya anak?”.
Sudah saatnya kaum-kaum yang tidak mau sadar dan menerima fakta diversitas atau keragaman yang ada di republik ini membuka mata dan hatinya bahwa INDEED our society is multi multi. Ya multi ras, multi kultur, multi religi. Let it be. Jangan coba-coba untuk meng-kelir-nya jadi satu warna, karena itu mengingkari sunatullah.
Wallahu a’lam bissawab.
Uncategorized | Comment (0)silas the victim
Malam minggu kemarin menonton film DaVinci Code bersama temanku dan suaminya. Pesanku bagi mereka yang ingin menonton film ini, sebaiknya baca dulu bukunya sebelum menonton, karena akan banyak detail yang cukup membingungkan dan hanya dapat dipahami konteksnya jika kita sudah membaca tuntas bukunya. Belum lagi banyak subtitle yang hilang (atau dihilangkan?) dan simplifikasi terjemahan kata ‘pagan’ atau ‘paganism’ sebagai ‘penyembah berhala’ yang buatku sungguh mengganggu.
Anyway, aku tidak ingin berkomentar tentang estetika film ini atau bagaimana acting Tom Hanks dan Tautou atau nilai religiositas yang terkandung dalam film ini. Aku cuma ingin menyoroti fenomena yang digambarkan dalam film ini dan kaitannya dengan kondisi terkini di Indonesia.
Dalam film ini digambarkan keganasan seorang ‘algojo’ bernama Silas yang tanpa tedeng aling-aling membunuhi semua orang yang dianggap sebagai musuh dari apa pun yang dia percayai sebagai yang benar. Sounds familiar, bukan?
Yah, dalam permainan apa pun, banyak sekali pion-pion yang direpresentasikan oleh orang-orang seperti Silas. Orang-orang berpikiran sederhana, yang tidak berharap apa pun selain keridho-an Tuhan. Tidak berharap apa pun selain surga Tuhan. Tidak berharap apa pun selain pengampunan mutlak dari Tuhan. Dan orang-orang semacam ini banyak…kuulangi, BANYAK SEKALI di Indonesia ini. Orang-orang yang dengan pikiran sederhananya telah dengan semena-mena dimanfaatkan oleh para aktor di balik layar, the playmaker, untuk mewujudkan apa pun yang diinginkan oleh si playmaker. Orang-orang yang dengan pikiran sederhananya taklid terhadap apa pun yang diperintahkan oleh Sang Guru –apa pun penamaannya (imam, ustad, dllsbgnya)– dan percaya sepenuhnya bahwa titah Sang Guru adalah titah Tuhan. Orang-orang yang dengan pikiran sederhananya mau melakukan apa pun, bahkan menyiksa dirinya dan memberikan nyawanya, demi ridho Tuhan, surga Tuhan, ampunan Tuhan, seperti yang didengung-dengungkan oleh Sang Guru.
Dan ketika dogma sudah berbicara, rasa kemanusiaan dan logika menjadi tidak signifikan.
Uncategorized | Comment (0)a little respect to others won’t hurt your f*ck**g ego
What is lacking in this "tuut" material world is respect. Now the turn comes to my friend. All her 24-7 hardworks and sacrifices are all taken for granted. I experienced it, so I know how it feels. Luckily I get over. I have been very fortunate to have friends and people that really value my work, and regard me as their real colleague and not their slave –or threat. It wasn’t easy, to turn that whole bloody negative energy into positive one. And now it’s my turn to lend my hands, my ears and my thoughts. To pay it forward.
[buat temen2 gue di sempur...my respect to y'all...thanx]
Uncategorized | Comment (0)e s f j
Seorang senior yang aku admire karena kemampuannya to see things extraordinarily dan kemampuannya menginspirasi orang lain (termasuk aku) suatu hari berkata bahwa salah satu problem utama bangsa ini adalah akibat dominasi kepribadian ESFJ. Dalam berbagai training dan fasilitasi proses pertemuan yang diadakannya, mas senior mengidentifikasi bahwa gabungan sifat-sifat Extrovert, Sensorik, Feeling dan Judging menjadi faktor penting yang menghambat kemajuan. Orang dengan tipe kepribadian seperti ini termasuk dalam kategori helper.
Tentu saja kepribadian semacam ini tidak begitu saja jatuh dari langit. Banyak faktor eksternal yang mempengaruhi yang kemudian membentuk orang sehingga memiliki tipe kepribadian tersebut. Salah satu faktor tersebut adalah sistem pendidikan yang sama sekali tidak mengajarkan anak didik untuk berpikir kritis sehingga menumbuhkan sifat-sifat leadership dan kepeloporan. Instead, anak didik dibrainwash untuk senantiasa patuh dan cari aman.
Lantas, apakah tipe kepribadian ini dapat diubah? Menurutku tentu bisa. Tergantung pada input dan kemauan kita untuk berubah tentunya.
Uncategorized | Comment (0)sabar ya mpok
Semalam baru mendapat kabar tentang seorang teman yang patah hati sepatah-patahnya, hancur lebur, remuk redam. Terlepas dari rasa duka citaku yang mendalam kepada temanku, namun seharusnya dia sudah bisa memperkirakan bahwa soon or later the time will come. You really must understand what you’re into, the landscape of the thing. Not to secure your future, but to prepare if bad things happens. Apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Tapi aku yakin temanku akan segera get over this…especially with friends all over her.
[...buat si 'mpok...]
Uncategorized | Comment (0)it doesn’t take a genious
Minggu ini aku menyaksikan orang-orang yang sedang jatuh cinta. Ternyata, it does’t take a genious to recognize it. Ternyata pula, hasil pengamatanku menunjukkan bahwa kelakuan orang yang sedang jatuh cinta itu surpases ages. Nggak tua, nggak muda, nggak ABG, semuanya sama, serupa dan sebangun kelakuannya. Binar mata yang sama, ketersipu-sipuan yang sama, salting-salting yang sama. Kadang aneh dan lucu juga, melihat ‘orang tua’ kemudian berperilaku menyerupai ABG. But that’s how cupid works…and really….there’s nothing you can do to avoid.
Uncategorized | Comments (2)