d’zigh..d’zigh..d’zighh…
Itu suara dari gebokan-gebokan yang menerpa minggu-minggu terakhir ini. The last couple of weeks have been a super duper busy weeks for me. And it won’t last until next month, I guess. Kadang walaupun kita sudah mempersiapkan segala sesuatunya secara matang dan kita pikir everything will be just fine, adaaaaa aja nitty gritty yang bikin kita harus sering-sering menghela nafas panjang. It’s not a mathematical world in which you can be sure that you will get perfect result if you put all variables in the equation. World does not work that way. Indeed. Being prepared of surprises is very very essential. Dan kadang kita harus sering-sering mengingatkan diri kita sendiri dan segera berdamai dengan situasi tersebut when encountered. But I always believe in process. If you process things fine, you’re 75% well done already. The good outcome will only be a logical consequence. And that’s, by the way, mathematical ;P
What a contradictory world….
Uncategorized | Comment (0)changed, yet not changed
Sejak SD aku sudah memiliki kebiasaan menulis jurnal harian. Ini berawal dari aktifitas semasa SD menjadi Dokter Kecil dimana kami diwajibkan untuk menuliskan di dalam buku jurnal apa yang dilihat dan dialami terkait dengan kebersihan dan kesehatan lingkungan sekolah. Hal yang awalnya merupakan kewajiban kemudian menjadi sesuatu yang menyenangkan karena aktifitas ini membuatku belajar menjadi observer, membuka mata dan pikiranku atas hal-hal yang selama ini terlewatkan. Membuat suatu fenomena menjadi something yang meaningful.
Pengalaman ini pula yang kemudian mendorongku untuk membuat jurnal pribadi, tentang apa yang aku pikir dan rasa tentang guruku, temanku, orang tuaku, saudara-saudara, keluarga atau apa pun lah. Ketika aku marah, aku akan menuliskan semua sumpah serapah di atas secarik kertas dan kemudian membakarnya. Ide ini aku dapatkan dari satu majalah yang kubaca kala itu. Walaupun menulis jurnal tidak secara reguler aku lakukan, aku selalu menulis pengalaman-pengalaman yang extraordinary di dalam jurnal tersebut. Dan kebiasaan ini terus berlangsung sampai sekarang.
Sayangnya ketika pindahan rumah semasa SMA dulu, sebagian jurnalku hilang terselip entah dimana. Satu buku jurnalku sempat jatuh ke tangan seorang famili yang membantu pindah-pindahan rumah dan tak ayal sebagian rahasiaku terbongkar dengan sukses. Apalagi rahasia itu terkait dengan urusan cinta kunyuk bin kera.
Malam kemarin iseng-iseng kubaca kembali jurnal-jurnalku semasa kuliah dulu. Amazing. Bisa kulihat bagaimana aku sudah jauh berubah, dan bisa kulihat pula bagaimana aku –ternyata– tidak berubah seupil pun. Kubaca pula jurnal-jurnalku beberapa tahun terakhir ini. Kadang terlintas di pikiran, what did I think/feel at that particular time? How come I was so godamn stupid? And how come I was so bloody brilliant? =p
Uncategorized | Comment (1)homesick dan global warming
Nggak tau kenapa, dalam perjalanan kerja yang lalu aku ngerasa homesick. Padahal perjalanan itu cuma setengah bulan. Biasanya, sebulan, bahkan tiga bulan aku jalanin tanpa beban. Kangen rumah juga sih kadang-kadang, atau kalo kebetulan inget (heheheh…buat orang rumah, jangan marah yee…). Maka, ketika menginjak bandara Cengkareng, kakiku langsung mengarah ke resto yang menyajikan mie bakso dan teh botol, padahal aku sih gak suka-suka amat sama bakso.
Perjalanan kali ini juga kembali membuka mataku bahwa di jaman mengglobalnya informasi –dimana seolah dunia tanpa batas– masih banyak juga orang yang narrow-minded, berpikir hanya untuk dirinya sendiri. Solving their problems with problems (for someone else). Krisis energi global (terutama fossil fuel) serta ancaman perubahan iklim akibat pemanasan global (global warming) memaksa negara-negara industri untuk mencari sumber energi alternatif dan ‘terbarukan’. Salah satunya adalah energi berbasis tumbuh-tumbuhan, seperti minyak sawit, minyak kedelai, atau minyak jarak (seperti yang sedang coba dikembangkan di Afrika seluas 9 juta hektar! can you imagine?). Padahal, pengembangan komoditas ini dilakukan dengan cara menebang habis hutan (dalam skala ribuan hektar), mengusir masyarakat lokal dari tanahnya dan menghilangkan habitat orangutan, gajah, dll. Tak jarang hewan-hewan ini masuk dan merusak kebun-kebun masyarakat dan cerita berakhir tragis dengan dibunuhnya hewan-hewan tak berdosa tersebut. Cerita serupa bisa juga didengar dari negara-negara Amerika Latin sana.
Dan masyarakat negara industri tidak juga sadar dan berupaya menurunkan level konsumsi mereka. Alih-alih, demand terus diciptakan sehingga ecological footprints (jejak ekologis eksploitasi) mereka di negara-negara berkembang semakin besar. Dan posisi negara-negara ini sejak jaman kolonial dulu tak berubah, yaitu terus menjadi supllier raw materials bagi proses industrialisasi di belahan bumi lainnya.
Dan menjelang kepulanganku ke Indonesia, kudengar berita bahwa sedang terjadi banjir besar di beberapa negara Eropa. Tapi “sialnya”, banjir ini justru terjadi di negara-negara Eropa Timur yang relatif “miskin”. Bukannya aku berharap bahwa banjir besar terjadi di negara-negara Eropa yang relatif lebih kaya, yang level konsumsinya gila-gilaan lho…tapi kadang orang tidak pernah belajar dengan benar jika tidak langsung mengalami dampak aktifitasnya. Seperti kita?
Uncategorized | Comment (1)