suit philosophy

March 17th, 2006

Di jalan tol Jagorawi dari Bogor menuju Jakarta, seperti biasa kubiarkan pikiranku bebas kemana-mana. Aku nggak suka membaca
buku di dalam perjalanan karena goncangan kendaraan hanya akan membuat sakit
kepala. Selain itu, aku lebih senang mengamati jalan (gila, mobil banyak banget
ya ternyata), orang-orang (pada dari mana dan mau kemana sih itu orang-orang),
pemandangan di luar kendaraan (apalagi melihat langit senja hari yang
memendarkan warna yang selalu berbeda-beda ke bumi –kadang sekeliling kita
menjadi kekuningan, merah keunguan, biru keabu-abuan dll), atau nguping
percakapan orang lain (he..he..he…lumayan, kadang bisa update gossip
selebritis). Semua itu jauh lebih menarik. Kalau tak ada yang menarik, aku
lebih memilih untuk tidur, atau ngobrol dengan diriku sendiri. Saat-saat
seperti ini (dimana aku tidak perlu bersosialisasi) sering kumanfaatkan untuk
berefleksi. Tak jarang ide-ide (untuk blog misalnya =P) atau solusi-solusi atas persoalan-persoalan yang
sedang kuhadapi pun muncul saat itu.

Dan malam kemarin, mataku menatap lurus ke jalan tol.
Sayup-sayup terdengar pemusik bergitar yang sedang in action di barisan tengah
bus Patas AC yang kutumpangi. Entah kenapa, tiba-tiba aku terpikir soal suit
(pingsut kata orang Jawa?) dan membahasnya sendiri. Itu lho…kalau semasa kita
kecil dan main monopoli (atau apapun), untuk menentukan siapa yang jalan duluan
maka kita akan melakukan suit.

Ada 2 jenis suit yang aku kenal. Yang pertama, model barat (yang kata temanku model
ini sebenarnya dari Cina. Well, mungkin harus dicari tau darimana asal sebenarnya), menggunakan kepalan
tangan (melambangkan batu), jari telunjuk dan jari tengah (melambangkan
gunting), dan lima jari terbuka. Yang kedua, model Indonesia yang selama ini aku lakukan (kata temanku juga, mungkin model ini pun bukan dari Indoensia), menggunakan jempol (melambangkan gajah), ibu jari (melambangkan orang), dan
kelingking (menggambarkan semut).

Dalam model yang pertama, kertas melawan batu akan
dimenangkan oleh kertas (alasannya, kertas dapat membungkus batu). Kertas
melawan gunting akan dimenangkan oleh gunting (karena gunting bisa memotong
kertas), dan batu melawan gunting akan dimenangkan oleh batu (karena gunting
akan rusak kalau dipaksa menggunting batu). Logika-logika ini hanya dapat terjadi jika dan hanya jika
ada seseorang yang melakukannya, karena tidak mungkin kertas membungkus batu
dengan sendirinya, atau gunting memotong kertas dengan sendirinya. Benda-benda
itu tidak memiliki kehendak sendiri.

Dalam model yang kedua, semut melawan gajah akan dimenangkan
oleh gajah (alasannya, kalau semut masuk ke kuping gajah, gajah tak dapat
berbuat apa-apa dan dia bahkan bisa mati uring-uringan karenanya). Semut
melawan orang akan dimenangkan oleh orang (karena orang bisa menginjak semut),
dan gajah melawan orang dimenangkan oleh gajah (aneh kan, padahal orang bisa menembak gajah…).
Setelah dipikir-pikir, ketiga situasi tersebut bisa terjadi atas kehendak si
masing-masing makhluk, done by their will. Semut bisa masuk ke kuping gajah tanpa
ada yang menyuruh, gajah bisa menyerang orang bila merasa terganggu, dan orang
bisa menginjak semut atas kemauannya sendiri, entah karena iseng atau karena
merasa tergganggu. And that’s exactly how nature works. Aku seperti melihat
suatu lingkaran hubungan yang terjadi di alam, dimana tiap makhluk saling
mempengaruhi. Amazing banget, aku seperti mendapat pencerahan.

Bila dibandingkan antara model pertama dan model kedua, aku
jadi wondering, adakah cara bermain ini dilatarbelakangi oleh budaya dan mindset
tempat asal muasal suit ini, model pertama yang lebih human-centric dan model
kedua yang lebih nature-centric? Entahlah. Mungkin aku aja yang kurang kerjaan
mikirin yang kayak beginian =P.

 




Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind