ufo

March 29th, 2006

Iya, UFO –unidentified flying object. Malam ini, baru saja aku menginjakkan kaki di halaman rumah, adikku langsung menyambut dan menyuruhku melihat ke atas, ke langit. Dan disana, di langit, kulihat bayangan putih terang samar-samar (seperti lampu sorot stadion yang disorotkan ke langit, bedanya, yang ini tidak terlihat jejak sorotan lampunya) terbang berputar-putar di balik awan. Pelan, tidak terlalu cepat, dan amat sangat dapat dideteksi oleh mata telanjang. Sumpe looohhh, nggak bohong.

Benda yang sama juga dilihat oleh kakakku dan tetangga-tetangganya di daerah Cinere sana. Kakakku bilang, sudah dua hari bayangan itu melayang-layang di langit Cinere sana, dan di langit Ciganjur-Jagakarsa sini.

Nah, kalau kebetulan kalian sedang membaca tulisan ini, coba lah keluar dan melongok ke langit sana. Kali-kali kalian pada beruntung melihat apa yang aku lihat. Dan sekarang, kami semua sedang sibuk mengarang cerita untuk menenangkan keponakanku yang ketakutan didatangi alien berantena di kepala =P

“…if the whole universe is created only for human, what a waste…” Jody Foster dalam film ‘Contact’

ninil, yorin, arie, dan aku

March 29th, 2006

Ketiganya adalah kawan-kawan baikku selama bergenjreng ria pada masa kuliah. Kami semua seangkatan, walaupun beda-beda jurusan. Hari Minggu yang lalu kembali aku ikut latihan genjreng, karena kali ini (dan untuk seterusnya mungkin) tempat berlatihnya di daerah Ciputat sana, tak jauh lah dari rumahku. Sebagai pengguna public transport, untuk pergi dari ujung satu ke ujung yang lain dari kota Jakarta ini memang sedikit banyak menjadi problem yang menghalangiku untuk ikut latihan (pasti mereka bilang, alasaaaaannnn aja lo! hehehehe…).

Anyway, aku senang ketemu mereka lagi. Dan anyway lagi, mereka enggak banyak berubah, masih seperti yang dulu hebohnya. Ninil, masih senang make warepack. Yorin masih senang berseru, “Hore, TL 100%” dengan suara tweety-nya. Dan Arie masih jadi penggemar coca-cola.

Selain ketidakberubahan itu, ada juga perkembangan yang dahsyat. Yorin, udah gape banget nge-sax. Ninil juga makin gape memain-mainkan jarinya di tuts kibor. Dan Arie….makin wow. Ini anak memang talented banget (jangan GR lu Rie!). Sekarang dia main bas gitar. Two thumbs up for her. Sempat aku bengong ngelihat dia main. Terbayang di mata usahaku yang lagi berusaha belajar main gitar (ceritanya sedang berusaha merangsang otak kanan supaya lebih berkembang). Kata kakakku, “Kemana aja lo jaman orang2 pada belajar main gitar?”. Atau kata adikku waktu aku sok pamer memainkan lagu Padi (sambil lihat buku dan mengeja kuncinya), “Lagu Padi?? lagu Padi dari Hongkong?!!”

lilliput stories

March 29th, 2006

*warga baru baranang siang*

Malam itu kembali aku berkomuter menggunakan bus PATAS AC jurusan Bogor-Jakarta dari terminal Baranang Siang. Sambil menunggu bus penuh dengan penumpang aku nguping pak supir yang sedang asyik mengobrol dengan kondekturnya, menggunakan bahasa Sunda. Tinggal di Bandung selama hampir 5 tahun tidak serta merta menjadikanku orang yang fasih berbahasa Sunda, namun sedikit-sedikit bisa lah aku paham apa yang sedang mereka perbincangkan, biasa…problem harga BBM versus persaingan versus setoran.

Tak lama, terjadi sedikit keributan di luar bus. Sepasang suami istri setengah baya rupanya sedang kebingungan merespon ‘tawaran’ bertubi-tubi para kondektur dan calo bus yang dengan sok akrabnya menarik-menarik tas si ibu supaya menaiki bus-bus tertentu. Mungkin karena bingung, akhirnya mereka pergi menjauh, entah kemana. Kuperhatikan pak supir dan mang kenek tertawa-tawa meliat kejadian itu sambil berseloroh, “…warga baru…”. Kutanya kepada mang kenek, apa maksudnya. Dia menyahut, “Iya, itu bapak-bapak ama ibu-ibu…warga baru…nggak tau mau naik apa…hahahaha….”

Lesson number one: di dunia liliput, setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. If you’re cheated it’s because you are stupid (hiks…ingat pengalaman di Bromo).

*berebut petai*

Sehabis bermalam di daerah Halimun sana untuk urusan kerjaan, pagi-pagi sekali aku sudah bergerak ke Bogor. Di angkot yang kunaiki, ada seorang bapak yang nampaknya mau menjual hasil buminya ke pasar. Petai, berikat-ikat, hampir memenuhi bagian belakang angkot. Sesampainya di pasar Jasinga, kabupatem Bogor, tiba-tiba seorang laki-laki melompat ke dalam angkot dan langsung memeluk beberapa ikat petai. Tak lama, dua orang ibu ikut meringsek naik dan langsung merebebut beberapa ikat lainnya. Belum hilang kagetku, dua orang ibu lain ikut naik dan terlibat tarik-menarik petai dengan ibu yang sudah duluan memeluk petai-petai itu sambil berteriak-teriak. Takjub aku dibuatnya. What is happening by the way? Helloooo?? Kucolek-colek ibu-ibu yang sedang berebut itu, dicuekin, padahal aku takut sekali dia terjatuh karena angkotku sama sekali tidak berhenti.

Akhirnya pertunjukan itu berakhir dengan seruan keras si bapak penjual yang intinya berkata, “Sudahlah…nanti kita bagi-bagi saja” –dalam bahasa Sunda gaya Banten. Si supir angkot yang kutanya memberikan penjelasan yang intinya adalah bahwa sedang terjadi ketidakseimbangan supply dan demand petai, sehingga komoditas ini menjadi unggulan para pedagang di pasar =P

Lesson number two: di dunia liliput, tidak ada konsesi dan privilege. If you are left behind it’s because you don’t have the guts.

welcome back neng…

March 27th, 2006

Pagi ini aku senang sekali, menemukan sahabatku menemukan kembali energi hidupnya. Kami berdua akhir-akhir ini menjalani fase kehidupan yang relatif sama, ‘kayak ingus’ itu julukan kami berdua pada kelakuan kami sendiri yang selalu plin plan dan susah sekali untuk get over the crazy little intoxicating thing called #$%&. Memang diperlukan tohokan berkali-kali dan tamparan bertubi-tubi untuk membangunkan kita dari kondisi setengah sadar setengah bermimpi. Dan nggak akan ada yang bisa memperkirakan sampai kapan kesadaran kita akan tinggal. Bisa saja saat ini sadar dan besok sudah tergebok lagi. But in any situation, as long as you know you have friends that will spare their ears and mind for you, then the world will just be alright.

aretha and ray

March 21st, 2006

Kemarin malam, di kereta api ekonomi dari Bogor, ada 4 orang tuna netra mengamen. Keempatnya memainkan 4 jenis alat musik yang berbeda, yaitu gitar, ukulele, gendang kecil dan ‘kecrekan’ (apa deh tu namanya? lupa aku). Walaupun cacat, mereka tetap bekerja semampu mereka to make a living.

Pemandangan ini mengingatkanku pada film yang kutonton hari Minggu yang lalu. Saat itu aku terperangkap hujan di rumah seorang kawan dan dengan terpaksa menghabiskan separuh pagi dan separuh siang di depan TV.

Hari itu kami menonton Ray, sebuah film yang bercerita tentang kehidupan legenda jazz Ray Charles di awal masa kejayaannya. Ray sangat beruntung karena memiliki Aretha, seorang ibu yang powerful, bukan dalam arti fisik namun tough, punya prinsip hidup dan memiliki cita-cita besar bagi anak-anaknya. Aretha adalah buruh cuci di suatu komunitas kulit hitam di daerah pertanian di selatan Amrik sana (lupa aku di negara bagian mana). Walaupun miskin Aretha menanamkan bibit dignity kepada anak-anaknya. Ditunjukkan bagaimana Aretha mendamprat orang yang berusaha membohongi mereka, hanya karena mereka miskin. Dia bilang, “Di luarnya pembohong, di dalamnya pencuri”. Aku suka banget dengan quote ini.

Terlebih lagi ketika Ray mengalami kebutaan. Aretha lah yang mendidik Ray untuk jadi anak yang tough, pantang menyerah dengan kekurangannya dan menunjukkan jalan bagi Ray untuk menemukan kelebihannya. “Jangan kau kira dengan kebutaanmu orang menjadi kasihan kepadamu”. Itu yang selalu Aretha katakan kepada Ray.

Aretha juga sangat percaya bahwa pendidikan yang baik akan membawa masa depan yang lebih baik pula. “You may be blind, but you ain’t no fool”, begitu yang ditanamkan Aretha kepada Ray. Hasil didikannya menjadikan Ray seorang yang sangat determined, kukuh pada pendirian dan punya cita-cita besar –terlepas bahwa Ray kemudian terjebak drugs addiction.

Aku suka film ini karena sangat humane, memaparkan berbagai sisi dari kehidupan Ray Charles (yg btw, nama sebenarnya adalah Ray Charles Robinson dan karena alasan marketing diusulkan untuk memakai saja Charles sebagai nama belakangnya). Digambarkan bagaimana kejeniusan Ray Charles yang selalu bereksperimen dengan musik soul yang diusungnya. Mulai dari menggabungkan musik soul dengan gospel (yg dihujat oleh kalangan gereja sebagai musik setan karena dianggap merusak kesucian gospel), musik soul dengan orkestra kamar dan choir, sampai musik soul dengan musik country. Ditunjukkan juga keberpihakan Ray Charles pada gerakan anti rasialisme yang di tahun 1950-an masih sangat mendominasi society di Amrik (dengan cara menolak tampil di Georgia karena negara bagian tersebut menerapkan racial seggregation, termasuk ketika menonton pertunjukan musik –kulit putih di depan panggung, kulit hitam di balkon). Kebutaan juga membuat Ray Charles memaksimalkan inderanya yang lain –dia dikenal punya pendengaran dan ingatan yang sangat tajam.

Ray Charles adalah orang yang beruntung, karena dia memiliki Aretha yang mendidiknya dengan sangat briliant dan menjadikannya sorang legend.

don’t push your luck

March 19th, 2006

Dompet. Benda yang satu ini sering menimbulkan permasalahan sendiri buatku. Mungkin bukan salah dompetnya. Mungkin aku dan dompet memang dua hal yang tidak compatible (hehehe…mencari pembenaran).

Sejak pertama kali aku memakai dompet di masa SMP (ketika aku mulai diberi uang jajan secara mingguan oleh ibuku), sangat jarang aku memiliki record mempertahankan satu dompet selama lebih dari satu tahun. Padahal aku belum pernah kecopetan satu kali pun (naudzubillahi min dzallik). Semua dompet yang pernah mampir di kehidupanku itu raib, hilang, atau tertinggal entah dimana. Maklum aku agak sedikit punya bakat pelupa. Kalo tu kepala enggak nempel, pasti udah ketinggalan dimana (itu kata temanku yang udah hafal dengan bakat pelupaku). Slordeh, kata ibuku (btw, bener nggak sih tulisannya?).

Salah satu hal yang paling mengesalkan ketika kehilangan dompet adalah kita harus mengurus berbagai kartu-kartu, seperti KTP, ATM, dan kartu kredit (yang nggak pernah kupakai –punya satu hanya untuk jaga-jaga saja). Saking sebelnya aku pada diriku sendiri, aku memutuskan untuk tidak ber-KTP selama lebih dari satu tahun (dan itu bukan kejadian sekali seumur hidup, btw, sampai pak RT di tempatku bertanya-tanya kenapa aku sering sekali mengurus KTP baru). Termasuk tidak mengurus kembali ATM dan kartu kreditku. Jadi, believe it or not, pada masa itu setiap bulan aku harus ke bank mengambil uang dengan buku tabungan. Ini kujalani selama kurang lebih 2 tahun. Ada untungnya, aku jadi sangat hemat dan less consuming.

Biasanya, sehabis berduka cita kehilangan dompet, aku bersumpah tidak akan memakai dompet lagi. Maka yang terjadi adalah uangku akan berceceran dimana-mana dan kartu-kartu bergelatakan saja di dalam kantong tas atau ranselku. Tak tahan dengan keterceceran ini, kuputuskan untuk memiliki kantong ajaib saja, instead of dompet. Di dalam kantong ajaib ini lah (dompet yang segede gaban, kata temanku) kusimpan mulai dari duit recehan, buku tabungan, kuitansi dan bon-bon, sampai handphone. Dan si kantong tak mungkin hilang, karena dia tak pernah beranjak dari dalam tasku, tidak seperti dompet yang karena bentuknya yg kecil menggodaku untuk menentengnya kemana-mana.

Tapi seperti biasa juga, setelah masa berduka selesai, kembali timbul godaan untuk memiliki dompet kembali –disertai dengan berbagai janji kepada diri sendiri untuk tidak menggelatakkan dompet (dan benda-benda lain juga sebenarnya =P) di sembarang tempat.

Namun memang sudah nasibku, malam minggu kemarin, kembali aku kehilangan dompet. Ini dompet pertama yang kumiliki setelah dua tahun tak berdompet yang berukuran normal. Umurnya baru 5 bulan. KTP-ku yang ada di dompet itu adalah KTP baru (umurnya baru satu mingguan lah). Kartu ATM-nya pun masih baru –sekitar setahunan (setelah aku bosan harus ke bank terus dan bank-ku mencharge biaya tambahan untuk transaksi di counter bila di bawah Rp. 10 juta –mendorong nasabah untuk lebih memakai ATM). Kartu kreditku juga masih baru, 3 bulan umurnya (karena sebelum kehilangan kemarin malam, dompetku sempat terselip entah dimana ketika liburan bersama teman-temanku akhir tahun 2005 yang lalu, sehingga aku harus memblokir semua kartuku dan harus diganti dengan kartu baru). Untungnya, dompet tersebut dapat kembali kutemukan.

Seperti halnya cerita saat liburan tersebut, kemarin malam, kembali dompetku dapat kutemukan. Ternyata sang dompet nyelip di samping kursi mobil temanku yang kutebengi kemarin. Dan ini yang kedua kalinya si dompet dapat kutemukan dalam keadaan utuh. Peristiwa ini kuanggap sebagai peringatan. Don’t push your luck! Memang aku dan dompet tak berjodoh. Dan sejak kemarin malam kuputuskan untuk menghibahkan dompetku dan kembali memakai si kantong ajaib.

[thanks buat onge, mbak ijul, mbak ery, dan rully yang udah nraktir and ngasih soft-loan-an di kala duit di kantong gue cuman tersisa sepuluh ribu perak]

suit philosophy

March 17th, 2006

Di jalan tol Jagorawi dari Bogor menuju Jakarta, seperti biasa kubiarkan pikiranku bebas kemana-mana. Aku nggak suka membaca
buku di dalam perjalanan karena goncangan kendaraan hanya akan membuat sakit
kepala. Selain itu, aku lebih senang mengamati jalan (gila, mobil banyak banget
ya ternyata), orang-orang (pada dari mana dan mau kemana sih itu orang-orang),
pemandangan di luar kendaraan (apalagi melihat langit senja hari yang
memendarkan warna yang selalu berbeda-beda ke bumi –kadang sekeliling kita
menjadi kekuningan, merah keunguan, biru keabu-abuan dll), atau nguping
percakapan orang lain (he..he..he…lumayan, kadang bisa update gossip
selebritis). Semua itu jauh lebih menarik. Kalau tak ada yang menarik, aku
lebih memilih untuk tidur, atau ngobrol dengan diriku sendiri. Saat-saat
seperti ini (dimana aku tidak perlu bersosialisasi) sering kumanfaatkan untuk
berefleksi. Tak jarang ide-ide (untuk blog misalnya =P) atau solusi-solusi atas persoalan-persoalan yang
sedang kuhadapi pun muncul saat itu.

Dan malam kemarin, mataku menatap lurus ke jalan tol.
Sayup-sayup terdengar pemusik bergitar yang sedang in action di barisan tengah
bus Patas AC yang kutumpangi. Entah kenapa, tiba-tiba aku terpikir soal suit
(pingsut kata orang Jawa?) dan membahasnya sendiri. Itu lho…kalau semasa kita
kecil dan main monopoli (atau apapun), untuk menentukan siapa yang jalan duluan
maka kita akan melakukan suit.

Ada 2 jenis suit yang aku kenal. Yang pertama, model barat (yang kata temanku model
ini sebenarnya dari Cina. Well, mungkin harus dicari tau darimana asal sebenarnya), menggunakan kepalan
tangan (melambangkan batu), jari telunjuk dan jari tengah (melambangkan
gunting), dan lima jari terbuka. Yang kedua, model Indonesia yang selama ini aku lakukan (kata temanku juga, mungkin model ini pun bukan dari Indoensia), menggunakan jempol (melambangkan gajah), ibu jari (melambangkan orang), dan
kelingking (menggambarkan semut).

Dalam model yang pertama, kertas melawan batu akan
dimenangkan oleh kertas (alasannya, kertas dapat membungkus batu). Kertas
melawan gunting akan dimenangkan oleh gunting (karena gunting bisa memotong
kertas), dan batu melawan gunting akan dimenangkan oleh batu (karena gunting
akan rusak kalau dipaksa menggunting batu). Logika-logika ini hanya dapat terjadi jika dan hanya jika
ada seseorang yang melakukannya, karena tidak mungkin kertas membungkus batu
dengan sendirinya, atau gunting memotong kertas dengan sendirinya. Benda-benda
itu tidak memiliki kehendak sendiri.

Dalam model yang kedua, semut melawan gajah akan dimenangkan
oleh gajah (alasannya, kalau semut masuk ke kuping gajah, gajah tak dapat
berbuat apa-apa dan dia bahkan bisa mati uring-uringan karenanya). Semut
melawan orang akan dimenangkan oleh orang (karena orang bisa menginjak semut),
dan gajah melawan orang dimenangkan oleh gajah (aneh kan, padahal orang bisa menembak gajah…).
Setelah dipikir-pikir, ketiga situasi tersebut bisa terjadi atas kehendak si
masing-masing makhluk, done by their will. Semut bisa masuk ke kuping gajah tanpa
ada yang menyuruh, gajah bisa menyerang orang bila merasa terganggu, dan orang
bisa menginjak semut atas kemauannya sendiri, entah karena iseng atau karena
merasa tergganggu. And that’s exactly how nature works. Aku seperti melihat
suatu lingkaran hubungan yang terjadi di alam, dimana tiap makhluk saling
mempengaruhi. Amazing banget, aku seperti mendapat pencerahan.

Bila dibandingkan antara model pertama dan model kedua, aku
jadi wondering, adakah cara bermain ini dilatarbelakangi oleh budaya dan mindset
tempat asal muasal suit ini, model pertama yang lebih human-centric dan model
kedua yang lebih nature-centric? Entahlah. Mungkin aku aja yang kurang kerjaan
mikirin yang kayak beginian =P.

 

a commuter’s stories

March 16th, 2006

Bus Patas AC vs KA Ekonomi

Keistimewaan berkomuter dengan bus Patas AC dan KA Ekonomi adalah di kedua tempat itu kita bisa mendengarkan musik dan lagu. Live. Bedanya, kalau KA Ekonomi menyajikan grup musik genjreng yang kadang dilengkapi soundsystem yang dentum basnya bisa membuat kita melirik dada kita (kalau-kalau degup jantung kita sampai menonjol-nonjol keluar –seperti di film kartun), maka bus Patas AC menyajikan pemusik tunggal bergitar yang suaranya cukup layak dengar. Satu lagi bedanya, di KA Ekonomi kita akan mendengar lagu-lagu hits terkini –Peter Pan, Radja, Dewa dkk lah. Sementara, di bus Patas AC kita akan mendengar lagu-lagu ABG (Angkatan Babe Gue) yang meninabobokkan. Walaupun berkomuter dengan KA Ekonomi lebih “menyengsarakan” dibandingkan dengan bus Patas AC (maklum lah KA Ekonomi tak ber-AC dan tak jarang membuat betis pegal bila nggak dapat tempat duduk), namun demikian ada beberapa hal yang membuat KA Ekonomi bisa lebih menawarkan excitement dibandingkan dengan bus Patas AC. Di bawah ini beberapa contohnya.

Shop til you drop

KA Ekonomi adalah toserba on rail. Berbagai jenis minuman, makanan dan buah-buahan merupakan komoditi yang sudah lumrah kita temui. Selain itu,  disini bisa kita dapatkan berbagai jenis barang yang seringkali kita butuhkan dalam kondisi-kondisi darurat. Peniti misalnya. Atau super glue (kalau tiba-tiba sol sepatu kita mangap), jarum, benang, kancing, gunting kecil, pinset, jepit….you name it. Sumbu kompor minyak tanah? Ada. Buku gambar anak-anak, kamus, panduan sholat dan doa-doa? Lengkap. SIM card? Mau kartu As-TELKOMSEL atau yang lain? Bahkan, bila mata kita cukup jeli, kita bisa menemukan anting-anting atau asesoris lain yang sama dengan yang kita lihat di department store ternama. Bedanya, kalau disana harganya bisa puluhan ribu rupiah, di toserba berjalan ini kita bisa menukar barang tersebut dengan uang lima ribu rupiah saja.

Karaoke dengan iringan musik hidup =P

Satu hal lagi yang cukup menakjubkan, ternyata kita bisa request lagu pada grup musik genjreng, dan bahkan ikut bernyanyi. Seperti malam itu. Dua orang teenagers perempuan di sebelahku sudah mulai bisik-bisik ketika grup musik genjreng menyiapkan show mereka. Rupanya, ada seorang pemain gitar yang mereka incar, teenager juga. Seperti biasa, bas-gitar listrik (pakai accu) dan drum seadanya mereka letakkan di tengah gerbong, sementara beberapa orang pemain gitar akustik akan bermain dan bernyanyi sambil berjalan mondar-mandir. Bagus juga, jadi semua orang di sepanjang gerbong bisa menikmati musik mereka. Setelah 2 lagu mereka sajikan, si pemain gitar diincar –yang juga menjadi jubir dari grup musik ini—menyampaikan, “Baiklah, lagu tambahan dari Keris Patih ini untuk mbak-mbak yang disana” sambil menunjuk si teenagers. Dua hal mampir di pikiranku. Satu, kapan itu teenagers requestnya ya? Dua, Keris Patih tuh yang mana ya? Baru ketika mereka mainkan, di dalam hati aku berkata ‘oooh yang ini tho lagunya’ –sambil menggerutu karena suara kedua teenagers yang ikut bernyanyi itu sama sekali nggak merdu. Dan setelah selesai lagu Keris Patih dimainkan, si teenagers memberikan seribuan ke tangan si gitaris yang datang menghampiri dan tak lupa si gitaris menyapa, “Besok pulang jam segini lagi mbak?”. Yang disapa menjawab sambil senyum-senyum simpul, “Tungguin  aja besok”. Aku sampai tersenyum geli sendiri dibuatnya. Itulah enaknya jadi teenagers…flirting terusssss….tanpa beban =P

Manggarai

Ngobrol dengan teman seperjalanan mungkin bukan hal yang unik. Tapi mendapatkan partner ngobrol yang merepet terus sepanjang perjalanan, mungkin bukan everyday’s experience. Hanya beberapa saat sejak aku menempatkan tulang ekorku di bangku KA pagi itu, si ibu di sebelah sudah menepuk lututku dan langsung merepet tanpa kutanya. Untung mood-ku sedang bagus, jadi kuladeni ‘percakapan’ sepihak ini. Kudengarkan dia bercerita dengan logat Betawi yang kental dan dengan volume suara yang nggak bisa dibilang pelan. Mulailah dia bercerita soal lelaki muda yang berdiri di dekat pintu KA tak jauh dari tempat kami duduk (btw, she really made sure that the guy heard what she was saying), bagaimana dia tak sengaja menginjak kaki si pemuda, bagaimana dia sudah meminta maaf namun si pemuda masih menggerutu, dan itu membuatnya sebal. Cerita dilanjutkan dengan infotainment bahwa si pemuda itu ‘anak baru’ yang lagi ‘belajar jadi preman’ di Manggarai. Dan informasi lain tentang keluarganya yang merupakan satu dari segelintir keluarga Betawi-Manggarai asli tersisa yang masih tinggal disana. “Keluarga saya assssli Manggarai, kagak dari mane-mane”. “Belon tau die!” Katanya menegaskan. Lalu informasi lain meluncur dengan lancar, bahwa dia punya warung nasi di stasiun Manggarai (btw, dia menawarkan aku untuk mampir kalau pas lagi ke sana), bahwa semua preman dan pedagang asongan disana kenal padanya (memang aku lihat beberapa pedagang asongan yang lewat menyapanya dengan akrab), bahwa dia punya rumah kontrakan di Depok (pagi itu dia mau menagih sewa kontrak). ”Empat pintu”, katanya. “Lumayan untuk nambah-nambah, kan saya janda, suami udah meninggal”, katanya lagi. Bla bla bla dstnya dsbgnya. Dan saat itu baru kusadari kesalahanku selama ini, bahwa penyebutan kata Manggarai bukanlah [mang-ga-ray] seperti yang selama ini kuucapkan, melainkan [mang-ga-ra-i] dengan penyebutan ‘i’ yang jelas. Itulah pronunciation yang benar berdasarkan kaidah bahasa Betawi yang baik dan benar, seperti yang selalu diucapkan si ibu ‘the last of the Manggaraian Betawis’ itu.

3.6 mil rup stupidity

March 10th, 2006

Pagi-pagi udah shock…baru sadar sesadar-sadarnya how stupid I have been. Ada bagusnya juga ketika kegoblokan yang kita lakukan itu termaterialisasi, biar terpampang jelas bin gamblang –menggampar (bukan lagi menampar…) kesadaran kita. Yang pasti, kegilaan-kegilaan dan kedunguan-kedunguan yang enggak jelas ini HARUS segera dihentikan.

wrong question, wrong answer — part 2

March 8th, 2006

Ya..ya..ya…it was me and my big mouth, again. Ask a wrong
question, you’ll get a wrong answer, definitely. Have proved it myself.
Sometimes you just can’t help it…your curiosity. There were times showing that
you –no matter what– are only human. There were times you thought you must say "what will be, will be". And when you started to have a second thought, it was
already too late…TUUUUT…WRONG QUESTION!!! And there’s definitely no ‘CUT!!!
Repeat the scene…’ — like in the movie-making. And now all you can (or must) say to yourself is "goblok dipelihara!!!"