to have or to be: cinta orang biasa
“Akan kubakar surga dan kusirami neraka, agar keduanya musnah, sehingga manusia mencintaiMu bukan karena keduanya”. Demikian yang dikatakan oleh Rabiyatul Adawiyah, seorang perempuan sufi. Rabiyatul menganggap kecintaan manusia kepada Tuhannya berpamrih. Manusia menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi laranganNya agar manusia masuk surga dan tidak dijebloskan ke neraka. Kubaca rangkaian kata-kata ini di satu buku minggu yang lalu. Demikian lah cinta sufi….
“…but the unlimited (love) asks only for itself”. Ini yang ditulis Khalil Gibran dalam bukunya Sayap-sayap Patah. Dalam buku ini Gibran bercerita tentang cintanya kepada seorang perempuan yang tak dapat ‘dimilikinya’. Lalu bacalah yang satu ini, “Jika kita tidak merasa memiliki, maka kita tidak akan pernah merasa kehilangan”. Kalimat ini kudengar dari mulut Dewi Yull di suatu acara show di satu stasiun TV swasta beberapa hari yang lalu. Dan baru saja, aku secara tak sengaja menemukan satu kalimat dan terbengong-bengong dibuatnya, “If I am what I have and if I lose what I have then who am I?”. Kalimat yang dalem banget ini berasal dari Erich Fromm, seorang filsuf humanis terkenal. Yaahhh…demikian lah cinta para filsuf, seniman, dan penyair….
Sebagai penganut aliran kepercayaan tak-ada-yang-kebetulan-di-kolong-jagat, paparan bertubi-tubi dari kalimat-kalimat yg senada seirama dalam beberapa hari terakhir ini membuatku berpikir…apa ya maksudnya? Yang jelas, sebagai orang biasa yang bukan penyair, seniman, apalagi filsuf, sampai beberapa menit yang lalu aku masih berprinsip “cinta tanpa memiliki = rugi bandar”. Dan yang jelas pula, tohokan-tohokan di atas telah membuat perutku mulas.
[buat sahabat-sahabat dan seorang temen virtual gue…]
Uncategorized | Comment (0)amanda…oh, amanda…
Sebenarnya aku tidak terlalu suka pergi ke Bandung di akhir minggu, karena yang aku jumpai disana orang-orang Jakarta juga, dengan mobil-mobil plat B-nya. Yaaahhh, dia lagi, dia lagi…boseen ah. Namun, berhubung keluarga –orang tua, adik, kakak, ipar-ipar– telah bersepakat untuk pergi…jadilah akhir minggu ini kuhabiskan di Bandung.
Seperti naik haji yang ada syarat-syarat sah-nya, demikian pula jika kita pergi ke Bandung. Ada syarat-syarat “sah” yang harus dijalankan sehingga kita bisa katakan kepada orang lain “Ya, gue udah ke Bandung”. Ibaratnya pergi ke Mekkah, kalau kita tidak pergi ke Ka’bah, jangan pernah bilang kita pergi ke Mekkah.
FO –kependekan dari factory outlet– adalah salah satu landmark dari Bandung saat ini. Fenomena yang baru marak muncul pada 5 tahun terakhir ini, menjadi salah satu must-go place di Bandung. Terserah, mau FO yang mana, tinggal pilih…mau yang bertebaran di sepanjang Jalan Dago atau Jalan Riau..atau di tempat-tempat lainnya.
Kedua, ITB. Well, sebenarnya ini must-go place versiku sendiri…hehehe…boleh dong, sedikit bernostalgia. Kampus Ganesha di hari Minggu masih saja ramai, layaknya hari-hari biasa. Seperti halnya lima belas tahun yang lalu, atau bahkan tiga puluh tahun yang lalu mungkin, ITB adalah kampus yang nggak pernah tidur. Sayang semiliar sayang, student center tempat nongkrong tercinta sudah musnah, digantikan oleh gedung kaca macam mall, yang aku nggak tau entah apa.
Last but not the least, bicara Bandung tanpa mengunjungi tempat-tempat makan enak ibarat memasak tanpa garam. Tempat-tempat ngetop di Bandung menjadi ngetop dan ngetrend akibat kabar yang disebarkan dari mulut ke mulut…kadang dengan agak sedikit exageration hehhee. Termasuk makan siang di “Sapu Lidi” yang jauhnya bujubuneng. Kelezatan masakannya sih biasa saja (menurutku lhoo…), tapi memang tempat dan suasananya asyik seolah-olah kita sedang makan di saung di tengah sawah.
Oleh-oleh? Harus lah. Pulang dari Bandung tanpa membawa batagor, atau kue-kue Kartika Sari ibarat dari Mekkah tanpa membawa air zamzam. Ada satu lagi produk ‘baru’ yang didesas-desuskan enak, yaitu Brownies Kukus Amanda. Dan demi si Amanda ini, akhir minggu yang awalnya smooth and easy harus diakhiri dengan kekesalan yang menggunung. Rasa penasaran menikmati brownies –dengan embel-embel pesan ‘jangan beli yang di pinggir jalan, beli lah di tokonya langsung’—telah memaksa kami menunggu lebih dari 2 jam. It was unbelievable. Alhasil, setengah waktu perjalanan pulang kami habiskan untuk melampiaskan ke-bitchy-an, merepet nggak karuan. Yah, apa mau dikata, ini lah nasib kaum yang ‘diperbudak perut’ –meminjam istilah bapakku.
Uncategorized | Comment (0)(un)downfall(ed)
"When the curtain falls, My Fuhrer, you have to be on the stage". Itu yang dikatakan oleh Goebbels, seorang menteri Sang Fuhrer, ketika terjadi perdebatan di bunker Hitler menjelang kejatuhannya di tahun 1945. Saat itu, pasukan Rusia mulai memasuki perbatasan Berlin dari berbagai penjuru dan para menteri dan jenderal Hitler berdebat apakah Sang Fuhrer harus tetap tinggal atau pergi dari Berlin. Dan Hitler menetapkan pilihan bahwa dia tidak akan lari, namun dia juga tidak akan membiarkan dirinya dihinadinakan oleh pihak Allies. Hitler yakin dia tidak akan bisa terhindar dari ‘pembalasan’ pasukan Allies. Dan pilihannya jelas, bunuh diri –bersama Eva Braun yang baru dikawininya beberapa hari di bunker– dan memerintahkan anak buahnya untuk membakar jasad mereka. Tak dibiarkannya pasukan Allies menyentuh sedikit pun dirinya. Cerita di atas adalah cuplikan dari film Downfall, yang bercerita kehidupan di bunker Sang Fuhrer pada akhir masa kejayaannya.
Bila Hitler sangat yakin dia tidak untouchables, tidak kebal hukuman, para koruptor di Indonesia sangat yakin bahwa mereka adalah the untouchables…undownfalled. Para kriminal berdasi tersebut sangat menikmati iklim ‘kedaulatan hukum’ di republik sontoloyo ini, selama bos besar masih berdiri. Muak aku menonton berita di TV yang menceritakan dibebaskannya para pelahap serakah yang bertebaran itu. Mungkin cuma utopia untuk berharap ada kejadian seperti yang dilakukan Hitler. Bukannya aku berharap para kriminal tersebut membunuhi dirinya, tapi cerita fatalis Hitler tersebut menunjukkan bahwa justice does work.
Uncategorized | Comment (0)if it’s to be, it’s up to me
Kalimat di atas kutemukan tercantum di mug yang selama ini
sering kupakai untuk ngopi pagi hari di tempat aku mangkal. Baru menyadari
keberadaannya setelah temanku menunjukkannya kepadaku.
And it will just be ok if only you know what you want. You
can say “it’s up to me” if only you know exactly what up-to-me is. But what if
you don’t know? What if you don’t know what thing is to be? Or you just don’t
have the gut to say out loud what thing is to be, and to say out loud what up
to me is.
Happy weekend =P
Uncategorized | Comment (1)wrong question, wrong answer
What matter most is to pose a right question. And it feels like you come to a dead end when you don’t even know what to ask. Have you ever experienced the time when so many questions weigh your mind but you don’t know what to ask? I remember once in college a senior lecturer asked back my fellow student, "..have you asked the right question?" instead of answering his question to her. And after that moment nobody…I repeat, nobody in my class ever asked question again to the lecturer for the whole semester. And in a facilitation training, again, I was lectured, "…it is important to ask a right question".
In life, most of the time that’s what we always face. You ask a wrong question, you’ll get a wrong answer. A right question. Damn!!! It haunts me these last days. There are so many questions in my mind, but what are they? What are my questions? My right questions…
Capek…capek…
Uncategorized | Comment (0)we-ha
"Tau nggak, WH lagi sweeping di rex. Menyeramkan, untung loe lagi nggak ada". Itu bunyi sms yang kuterima menjelang tengah malam ini dari seorang temanku di Banda Aceh. Rex adalah pusat jajanan di pusat kota Banda Aceh dimana banyak orang berkumpul, baik untuk makan atau hanya sekedar kongkow-kongkow saja. Dan WH –singkatan dari Waliyatul Hisbah atau disebut juga Polisi Syariah– menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan di Serambi Mekkah, dimana diberlakukan Hukum Syariah (Hukum Islam). Malam tadi, para WH –yg notabene laki-laki semua– "menangkapi" perempuan-perempuan yang tidak menutup auratnya (baca: tidak memakai kerudung). Mereka digiring dan dibawa ke kantor WH dan diinterogasi –seperti pelaku tindak kriminal.
Sejak diterapkannya hukuman cambuk bagi para pelanggar hukum syariah, WH kemudian memang menjadi ‘momok’ yang cukup menyeramkan. Bulan lalu, misalnya, di Banda Aceh sepasang muda-mudi dikenakan hukuman cambuk karena ketauan berpacaran. Masih belum hilang dari ingatan, tahun lalu di Bireun, dilakukan hukuman cambuk untuk pertama kalinya terhadap beberapa orang yang ketahuan berjudi.
Terlepas dari niat baik di belakang pemberlakukan hukum syariah ini, kalau memang ada, hukum syariah hanya mengatur hal-hal seputar judi, khamr (minuman beralkohol), zina, menutup aurat, dan hal-hal lain yang menurutku merupakan wilayah pribadi. Wilayah ini menurutku merupakan wilayah ‘hablum minallah’ atau hubungan dengan Yang di Atas, yang pertanggungan jawabnya ada diantara si hamba dengan penciptanya. Dan oleh karenanya tidak perlu diatur-atur oleh orang lain, apalagi oleh pemerintah.
Sementara itu, Wali Syariah tidak (atau belum??) mengatur hal-hal yang berada di wilayah ‘hablum minannas’ yang menurutku lebih penting untuk diatur, yang menyangkut hajat hidup dan nasib orang banyak. Korupsi misalnya. Apakah syariah Islam tidak mengatur soal-soal korupsi? Atau para pembuat hukum syariah baru ‘berani’nya mengatur hal-hal yang bersifat non-struktural? Seperti berita-berita penangkapan koruptor yang sering kita dengar dan baca di berbagai media massa –cuma kroco-kroco yang ditangkap?
Kembali pertanyaanku hanya tergantung di udara dan hanya Tuhan yang tahu jawabannya.
Uncategorized | Comment (0)a big girl in a big world
Seringkali kita meng-underestimate orang lain. Bukan dalam hal-hal yang bersifat material atau intelektual, tapi lebih ke hal-hal yang bersifat emosional. Seringkali kita underestimate surviving capacity dari seseorang. Sering kita membayangkan orang lain seperti kondisi petinju yang ter-knocked-out…lay down and die…terkapar tak berdaya, ketika menghadapai cobaan.
Memang surviving capacity tiap orang berbeda-beda, tapi ketika dia berkata ‘aku akan baik-baik saja’ sebaiknya kita percaya. Dia cuma ingin tahu apakah dia berdansa tango atau menari srimpi. Itu saja. Lebih tidak. Dan bila pun ternyata dia berdansa tango, dia tidak ingin selamanya mengajakmu berdansa. Karena dia tahu you’re in the middle of another dance. She will find her own dance. Nothing to worry. Just trust her. She’s a big girl anyway.
[buat temen gue...]
Uncategorized | Comment (1)dr. jekyll and mr. hyde
There are two aspects within every person –the good and the evil– since the time he/she was born. Later on, life experiences, society where you live in and many other external factors form you into someone in which one of those aspects become dominant. Either you become a good or an evil. Can’t have both. Stamped as the good means you can not afford to be the evil without having the risks of being left behind, hated, alienated. That’s difficult situation as the evil side will always try to find ways to exist. What’s the solution then? You create an alter-ego, another identity that can’t be related with the real you. As your alter-ego, your evil side can be accomodated to show, to exist. And you as the good can maintain the stamp without having to worry about those mentioned risks.
That’s a complicated-version analysis.
Let’s take a look at the simpler one. Imagine this stuation. You want to know things about someone. If you convey that, you are not sure whether this someone will angry at you, yell at you, slap your face and leave you, or just smile, or laugh, or even give you a hug. You are not sure what this someone think about you. What kind of image of you is in someone’s mind? Is it the good or the evil? If its’ the good, will your questions or actions turn your image into the evil? You are not sure. One thing, you can not afford the risk of being left behind, or simply you just can not afford the risk of hurting this someone. Then what would you do? You create an anonimous, mysterious person. Coming out of the blue, you –in anonimity– greet this someone and dig the inquiries you want to know without having to worry about hurting or worry about all assumptions you have in your mind.
Now tell me, which one are you?
Uncategorized | Comment (1)