ketika berbohong menjadi jalan
Menjelang tengah malam ini aku amat sangat pissed off sekali…bete habizzz….enggak habis pikir kenapa hari begini masih saja suka berbohong. Berbohong untuk sesuatu yang recehan banget, ‘nggak meaning’ kata anak sekarang. Entah apa motifnya. Padahal, that same old f#ck#ng ’strategy’ done by the same bl##dy person udah bangkrut, and basically nothing yang bisa disembunyikan. NOTHING. NOL. Apa enggak punya strategi lain?
Sekali kita berbohong maka kita akan seterusnya berbohong. Mengarang. Memanipulasi. Maracau. Atau belagak amnesia. Atau schizophrenia. Atau kanker(??). Whatever. Seperti mengupas bawang…it’s a neverending story. Well, you have to be creative though…making up all that stories, scenarios, plots, apa pun lah namanya. Enggak capek ya?
Dan benar juga kata bapakku bahwa pada dasarnya setiap orang itu memiliki kecenderungan untuk menindas. Tinggal seberapa besar kekuasaannya. It’s a power play. Supir metro mini, misalnya, karena otoritasnya hanya sebatas metro mini yang disetirnya…ya begitu lah…ugal-ugalan. Cuma diperlukan doa yang khusuk dari para penumpang supaya metro mini selamat sampai di tujuan. Makin besar kekuasaan seseorang, makin besar pula peluang mereka untuk menindas.
Dan ketika ‘kuasa’mu begitu kecilnya sehingga yang bisa kau lakukan hanya berbohong dan membuat orang kesal to show you exist (atau apa pun alasan di baliknya), then maybe that’s the only way you must take. Benar?
…don’t sweat negative things…anggap aja fenomena alam, bawaan orok…[kataku]
Uncategorized | Comment (0)monalisa smile dan memoirs of a geisha
Apa kesamaan film Monalisa Smile dan Memoirs of a Geisha? Ya, kedua film bercerita tentang kehidupan kaum perempuan, satu di dunia barat dan satu di dunia timur. Walaupun dengan setting yang berbeda, kedua film menceritakan bagaimana perempuan harus berkorban untuk berusaha masuk dan terlibat di dalam high society yang merupakan dunia kaum lelaki.
Dalam film Monalisa Smile, perempuan –sepintar apa pun– harus merelakan potensi mereka untuk menjadi somebody-by-their-name, dan harus memboyong nama suami mereka agar bisa masuk dan ‘dianggap’ dalam kehidupan high society. Mereka harus merelakan diri mereka dipermak menjadi perempuan-perempuan cantik dengan sisiran rambut tinggi, bersarung tangan putih, dan menjadi nyonya rumah yang perfect dengan table manner tak tercela ketika menjamu tamu-tamu suami mereka.
Sementara Memoirs of Geisha menceritakan sisi yang lain dari keping mata uang yang sama. The other side of the same coin. Calon-calon Geisha harus berjuang, saling jegal sesama mereka, untuk bisa mendapatkan status Geisha dan masuk di dalam kehidupan high society Jepang yang sangat male-dominated.
Dalam bentuknya yang lain, remaja-remaja perempuan Indonesia, perempuan-perempuan dewasa Indonesia terpaksa harus menelan gambaran-gambaran ilusi tentang ‘kesempurnaan’ yang secara sistematis dihegemonikan oleh berbagai media yang penetrasinya sampai ke ruang-ruang duduk rumah kita. Untuk mencapai gambaran ‘kesempurnaan’ tersebut, perempuan-perempuan Indonesia –sepintar apa pun mereka– merelakan dirinya menjadi tempat persinggahan bahan-bahan kimia berbahaya –di wajahnya, di sekujur badannya, di dalam tubuhnya. Semuanya tak lain dan tak bukan agar mereka ‘dianggap’ dalam society, yang indikator-indikatornya menurut pada standar-standar yang entah diciptakan oleh siapa.
Uncategorized | Comment (0)belajar itu candu!
Mungkin kalau statement seperti di dalam judul itu didengar oleh teman-temanku selama kuliah, mereka pasti akan mengernyitkan dahinya…yaya? belajar? dua kata yang enggak ada asosiasinya. Mungkin yang ada di kepala mereka, aku itu anak yang suka cabut (atau mabal kata anak bandung) demi "kerjaan" marching band-ku atau hanya demi bermain, yang menjelang ujian sering mengejar-ngejar fotokopian catatan kuliah (sampai-sampai aku dan para mabalers hafal catatan siapa yang akurat, catatan siapa yg kacau, siapa yg mencatat verbatim apa yg dosenku catat di papan tulis, dllsbsgnya), yang sering ditongkrongin asisten dosen gara-gara belum mengumpulkan tugas, yang mengandalkan kopi toraja dari temanku supaya tahan begadang sampe pagi waktu SKS. Sampai-sampai sahabatku tercinta merasa khawatir dan menasehatiku supaya tidak terlalu "sibuk" dengan MB-ku itu.
Tapi mungkin memang segala sesuatu itu selalu ada tempat dan wktunya. Kalau dulu tujuanku yang penting lulus (didn’t really care much about what I’ve learnt) dan secepatnya get the hell out of the academic system yang underestimating (despite soooo much fun I had in the ex-cul activities), saat ini aku lagi kecanduan belajar. Dan sungguh beruntung aku, in this school of life, punya suhu dan suheng yang extraordinary, provokatif, dan yang sangat helpful dan ready anytime…yang pikiran-pikiran subversifnya selalu membuat aku enggak bisa tidur dan sibuk browsing kesana-kemari, beli buku ini-itu…pokoknya overwhelmed.
Dan seorang suheng sedang turun gunung dan siap menyebar virus, seperti para suhu dan suheng yang lain. Tidak seperti dosen-dosenku semasa kuliah dulu yang suka underestimate mahasiswa-mahasiswanya, self-righteous di menara gading mereka yang steril dari fenomena dan konteks sosial politik ekonomi kemasyarakatan –yang kata mereka dengan kepintaran dan teknologi yg mereka punya bisa mereka pecahkan, para suhu dan suhengku meng-appreciate pikiran-pikiran, menawarkan cara pandang baru dan membuatku kecanduan belajar…dari mana saja dan dari siapa saja.
[....this 100th piece in my blog is dedicated to my suhu and suheng all over the world...BIG THANKS!!]
Uncategorized | Comment (1)equilibrium
Ini lah sebabnya aku tidak pernah setuju dengan konsep
‘win-win solution’. Bagiku ‘win-win solution’ menegasikan kondisi eksisting
yang memang sudah tidak setara, unequal. Dan ‘win-win solution’ hanya akan
mengekalkan ketaksetaraan itu. Walaupun masing-masing pihak menang (katakanlah
setiap pihak mendapatkan kemenangan yang setara yaitu sebesar x), ini tidak
akan mengubah kondisi akhir yang tetap unequal, karena tentu saja (1000+x) akan
tetap lebih besar dari (10+x). Menurutku ‘win-win solution’ only works in equality.
Seharusnya tujuan akhir yang dicari adalah levelling both
players; levelling the playing field by creating enabling condition for both to
play equally. Seharusnya tujuan akhir yang dicari adalah kondisi equilibrium, yang
bisa jadi didapat dengan ‘win-not lose solution’ –bukannya dengan ‘win-win solution’. Hanya diperlukan kerelaan
dari yang selama ini selalu dimenangkan to let go all those privileges. Dan sepenuhnya
diperlukan affirmative actions bagi yang selama ini selalu
dikalahkan.
Dan mungkin…mungkin dunia akan menjadi lebih baik.
Uncategorized | Comment (0)evo
Salah satu artikel di dalam majalah Time terbaru mengulas kunjungan presiden Bolivia yang baru, Evo Morales, ke sembilan negara di dunia. Yang menjadi pusat perhatian para jurnalis bukanlah kebijakan apa yang akan diambil oleh Morales dalam masa kepemimpinannya ke depan, tetapi “konsistensi” morales memakai sweater merah bergarisnya. Tak peduli itu di Eropa (Spanyol), Asia (China), atau Afrika (Afrika Selatan), tak peduli musim yang berbeda di berbagai belahan bumi tersebut, Morales tetap memakai sweaternya dalam pertemuan resmi dengan para pemimpin negara tersebut. Dalam berbagai foto yang ditampilkan, Zapatero, Hu Jintao, dan Thabo Mbeki mengenakan pakaian seragam ‘resmi’ berupa jas, kemeja putih dan dasi.
Aku memandang apa yang dilakukan Morales bukan karena dia tidak memiliki pakaian lainnya. Menurutku apa yang dilakukannya ideologis, melawan mainstream dan menantang dogma globalisasi yang antara lain dicirikan dengan penyeragaman –mulai dari cara berpikir (laissez faire economy cs), cara berpakaian (jas plus dasi cs), apa yang dimakan (McDonald cs), apa yang diminum (Coca Cola dan Starbuck cs), apa yang ditonton (CNN, film Hollywood cs), sampai dengan standar etika (western style table manner cs…jadi ingat satu artikel di salah satu majalah internasional yang menceritakan tentang booming kursus table-manner di China yang lagi memasuki era globalisasi). Dan ini dilakukan oleh Morales secara cerdas di depan kamera yang notabene akan ditonton oleh ratusan juta penduduk bumi. Cool…..
Fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa Amerika Latin sedang bergerak menuju ke suatu arah yang dianggap mengkhawatirkan para politikus konservatif, terutama di Amerika Serikat. Warga Bolivia mengikuti gerakan warga Venezuela, Brazil, Chile, Uruguay dan Argentina yang memilih pemimpin dari kelompok progresif yang bukan rahasia lagi merupakan kelompok yang bersuara keras melawan berbagai kebijakan AS. Mereka bilang: Ya Basta!…Enough is enough! bagi dominasi a la barat di belahan bumi mereka, yang selama ratusan tahun membuat warga negara-negara berkekayaan alam dahsyat ini menjadi miskin dan marjinal.
Kapan giliran kita?
Uncategorized | Comment (0)we can’t please everybody
Disadari atau tidak kita memiliki apa yang disebut self-image. Self-image ini sedikit banyak mendrive bagaimana kita berperilaku, mempengaruhi cara kita berpikir dan bahkan mengambil keputusan. Ada orang yang memiliki self-image sebagai Mr. Smart, atau Ms. Polite, atau Mrs. Nice dll dll.
Terkadang kita heran, mengapa suatu hal yang menurut kita sederhana menjadi hal yang dilematis bagi orang lain. Demikian pula sebaliknya. Satu contoh yang sering kita alami adalah to say ‘No’. Coba kita amati dalam percakapan orang Indonesia pada umumnya, sering sekali kita dengar kata-kata seperti ‘Ya, itu ide yang baik, tapi….’ atau seperti ini ‘Sebenarnya saya ingin membantu, tapi …’. Teman-temanku yang orang asing menjuluki orang Indonesia sebagai ‘yes-but-people’ atau kalau istilah anak sekarang ‘angkat-angkat dulu, baru banting’ (jahat ya?).
Kebiasaan lainnya adalah mengucapkan ‘Insya Allah’ yang bukan rahasia lagi konotasinya adalah ketidaksanggupan. Bayangkan, Tuhan dibawa-bawa untuk urusan sepele macam ini. Kalau aku mendengar orang bilang seperti ini, kontan aku akan menjawab ‘Udahlah…bilang aja Insya Gue…gitu…gak usah bawa-bawa Tuhan’ (btw, bagi yang enggak tahu, Insya Allah itu artinya ‘jika Allah mengijinkan/menghendaki’).
Kesulitan untuk mengatakan ‘Tidak’ ini dipengaruhi oleh perasaan sungkan, karena sedikit banyak sudah tertanam di bawah sadar kita (oleh guru-guru, keluarga, sanak saudara, orang-orang tua kita tercinta) bahwa self-image orang Indonesia itu adalah ramah tamah, sopan dll dll yang sayangnya diterjemahkan secara salah kaprah. Seolah-olah, menolak sesuatu itu adalah hal yang tidak sopan. Akhirnya ini berimplikasi pada kurangnya rasa menghargai janji….yang penting bilang ‘iya’ dulu…soal bisa atau enggak itu urusan belakangan. JJTJBMHM (janji-janji tinggal janji bulan madu hanya mimpi…kata lagu dangdut…). Familiar with this?
Well, we can’t please everybody. Menurutku, tidak selamanya segala hal harus diiyakan, atau setiap permintaan teman harus dituruti (agar teman tidak kecewa, misalnya). Selama ada dasar rasionalnya dan disampaikan secara baik-baik, menurutku it’s ok to say ‘No’…kenapa enggak? Dalam pertemanan, hubungan yang dibangun harusnya adalah hubungan yang equal, setara. Dan kalau teman kita masih memaksakan atau sakit hati atau ngambek bila di’No’kan, maka dia mungkin harus lebih banyak belajar soal kedewasaan –-yang by the way memang tidak selalu berbanding lurus dengan umur.
Uncategorized | Comments (2)qurban
Satu-dua bulan belakangan ini aku menghindarkan diri membaca koran, majalah, maupun mendengarkan berita-berita baik dari TV maupun radio. Memaparkan diri pada sumber-sumber berita itu hanya akan meng-ignite energi negatif yang hanya dapat disalurkan dengan mengeluarkan sumpah serapah…entah kepada siapa. Yah, ngomong aja sama ember, atau sama tembok!! Mungkin benar kata seorang temanku, yang namanya Indonesia as a nation-state itu sebenarnya enggak ada. Yang ada hanyalah 200 juta individu yang –mau enggak mau– tinggal bersama di gugusan kepulauan yang katanya namanya Indonesia. Sori aja, hidup ini keras ‘jek. Elo-elo, gue-gue lah.
Penyelenggara negara korup dan bermental calo. Ikatan sosial diantara warga lemah. Yang diharapkan jadi panutan malah melakukan hal-hal yang tidak patut. Ada yang dengan perut buncitnya bilang enggak ada bencana kelaparan sementara di depannya berdiri sosok yang tinggal tulang pembungkus kulit. Ada yang minta kenaikan tunjangan di tengah kesusahan para warga negara akibat kenaikan BBM. Hhhhh…mungkin urat malu mereka udah pada putus.
Belum lagi berbagai bencana ekologis yang harus ditanggung oleh warga yang tidak ikut berpesta pora dalam proses perusakannya. Siapa yang makan duren, siapa yang nyium bau kentutnya. Mungkin kalau malaikat maut diperbolehkan protes, pasti mereka yang berwilayah tugas di Indonesia udah protes sejak dulu. Maklum lah mereka harus kerja lembur dan selalu kerja borongan, selalu dalam jumlah besar.
Lalu apa makna Idul Adha…hari berqurban? Ini dia maknanya…Pejabat A menyumbang 3 ekor sapi. Pejabat B ngasih 10 kambing…and the list continues. Apa mereka lupa bahwa di hari ini ribuan tahun yang lalu, seorang hamba diminta mengorbankan miliknya yang paling berharga. Kambing, sapi, domba, kerbau..itu semua cuma simbol. The point is not to give the impoverished a day of decent meal. It is not at all.
‘There are those who have ears but do not listen, and have eyes but do not see’ [Father Marco Arana, Choropampa-Peru]
Uncategorized | Comment (0)detox and refresh
Perjalanan kali ini agak-agak memerlukan perjuangan dan kesabaran, termasuk menahan berbagai keinginan yang karena beberapa hal, seperti waktu liburan yang tidak matched dengan jadwal transportasi, terpaksa harus mengalami berbagi penyesuaian. Jadilah rencana semula pergi ke Danau Kelimutu harus berubah menjadi seri kunjungan singkat ke beberapa tempat di seputar Jawa Timur, yaitu ke Kawah Idjen, camping di Taman Nasional Alas Purwo dan ke Gunung Bromo.
Excited, mungkin satu kata itu yang dapat menggambarkan perasaanku. Sedikit capek juga aku rasakan. Maklum, kami bertiga bepergian a la backpackers. Tapi selebihnya adalah waktu bersenang-senang. Sejenak kami bertiga meninggalkan beban-beban pekerjaan di belakang dan benar-benar menikmati kemewahan berleyeh-leyeh tanpa ada gangguan. Hasilnya? Masing-masing kami mengalami kenaikan bobot. Memang, kalau hati senang metabolisme jadi lancar dan penyerapan asupan makanan menjadi lebih efektif hehehe…
Hiking ke Kawah Idjen juga jadi sarana untuk melakukan detoksifikasi udara di paru-paru. Aku harap segala zat-zat beracun yang terpaksa kuhirup di Jakarta sedikit tergantikan oleh udara segar di sana. Perjalanan ke puncak Idjen lumayan melelahkan, walaupun kata kedua temanku yang mantan pendaki gunung, rute yang kami tempuh tersebut adalah rute piknik alias nggak seberapa berat. Namun tak ayal mereka berdua juga kelelahan, maklum lah mereka udah lama meninggalkan dunia daki-mendaki.
Keinginan untuk mengunjungi pantai yang indah di TN Alas Purwo –pantai Plengkung– terpaksa harus kami tekan karena adanya entrance fee yang cukup mahal. Bukannya kami enggak mampu bayar, tapi nuansa komersialisasi keindahan alam (yang pada akhirnya mengakibatkan akses keindahan itu terbatas hanya bagi orang-orang berduit) itu yang kami tolak.
Dan Bromo selalu menakjubkan, baik di atas kartu pos maupun yang sebenarnya. Walaupun kawahnya sendiri tak seindah kawah Idjen (menurutku lhooo…) tapi satu paket pemandangan Bromo dan Gunung Batok serta landscape sekitarnya telah membuatku ternganga-nganga dan berkali-kali mengucapkan "ya ampun…bagus banget!!!". Rasa ngantuk yang mendera akibat harus bangun jam 3 pagi serta merta hilang dan kelelahan akibat perjalanan seperti terbayar lunas.
Rangkaian perjalanan ini kami akhiri di Bali. Berkumpul dengan teman-teman lain yang langsung datang dari Jakarta.
Aku bersyukur karena punya kesempatan berlibur dengan agak sedikit lebih serius…maksudnya berlibur untuk berlibur dan bukan sambilan. Berlibur juga seperti me-recharge baterai yang sudah mulai melemah. Refreshed. Energi baru, semangat baru…
Uncategorized | Comments (2)tahun baru
Walaupun bagiku setiap hari adalah hari refleksi namun tak ayal momentum pergantian tahun membuat refleksi kali ini agak sedikit berbeda. Bila diungkapkan dalam satu frase, maka buatku, tahun 2005 merupakan bumpy-rollercoaster-ride year. Banyak keputusan-keputusan penting yang kubuat di tahun 2005 yang sedikit banyak menjadi milestone dalam perjalanan hidupku. Banyak pelajaran mengenai kehidupan yang kupetik –learning by experiencing.
Tahun 2005 juga membuktikan bahwa memang honesty is always the best policy. Aku menyaksikan bagaimana ketidakjujuran dan kepura-puraan bisa membuat kita kehilangan hal yang paling berharga dalam kehidupan kita: sahabat dan persahabatan. Aku menemukan makna baru dari kata ‘persahabatan’ yang menurutku sedikit banyak seperti beragama –- it’s beyond ‘seeing is believing’ karena ternyata apa yang tampak di permukaan tidak selalu sama-dan-sebangun dengan apa yang sebenarnya.
Di tahun yang baru lewat itu juga aku belajar untuk sedikit lebih impulsif dan taking some risks (of course it was all carefully measured risks). Lebih menyeimbangkan hati dan akal, otak kanan dan otak kiri. Ternyata enggak ada ruginya juga….he..he..he…
Tahun lalu juga tahun yang penuh tawaran yang mengharuskan aku menetapkan pilihan-pilihan, yang tidak selalu mudah. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, di tahun 2005 berbagai keputusan kuambil secara intuitif. Seperti pepatah Cina, kuikuti kemana hidungku membawaku. Rasanya lucu juga, ada rasa was-was dan deg-deg-an…tapi lebih ke excited instead of takut. Membuatku sering bertanya-tanya, ada apa di balik kelokan jalan di depan?
Anyway, tahun 2006 bagiku adalah tahun yang penuh dengan pengharapan –- seperti juga tahun-tahun sebelumnya. Namun kali ini aku tidak membuat resolusi tahun baru. Malu kepada diri sendiri karena banyak resolusiku yang tak bisa kupenuhi. Lebih baik mengalir saja dan biarkan hati dan pikiran kita terbuka seluas-luasnya.
Selamat tahun baru!!!
Uncategorized | Comment (1)