consuming society

November 16th, 2005

Pada dasarnya seluruh manusia yang ada di muka bumi ini adalah konsumen. Menurut Worldwatch Institute, konsumen di dunia bisa dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu konsumen berpenghasilan tinggi, menengah dan rendah. Seperti sudah jamak diketahui, konsumen berpenghasilan tinggi berlokasi di negara-negara industri (negara ‘utara’), yang notabene jumlahnya cuma 20% dari populasi dunia. Mereka yang 20% ini mengkonsumsi 80% dari resource yang ada di muka bumi.

Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di negara mereka tidak mampu memenuhi level konsumsi mereka itu. Oleh karenanya mereka perlu mencari sumber-sumber resource di tempat lain untuk mempertahankan kenyamanan tersebut. Misalnya saja negara Belanda. Untuk memenuhi level konsumsi mereka saat ini, mereka memerlukan lahan/resource sebesar 5 kali lipat dari lahan yang ada. Nah, di negeri antah berantah yang lain itulah (termasuk Indonesia) mereka meninggalkan jejak-jejak eskploitasi, yang dikenal sebagai jejak ekologis (ecological footprints). Tentu saja ada trade-off-nya, yaitu "pembangunan" di negara-negara berkekayaan alam yang dengan sukarela menjadi penyedia jasa layanan alam bagi kebutuhan konsumsi mereka. Dan seringkali praktik-praktik eksploitasi tersebut tidak mencerminkan nilai sebenarnya dari resource dan energi yang dikeluarkan oleh masyarakat Indonesia. Ini lah yang kemudian menimbulkan eksternalitas, yaitu suatu keadaan dimana gap nilai tersebut harus ‘dibayar’ oleh masyarakat Indonesia dalam berbagai bentuk, misalnya pencemaran dll.

Bagaimana dengan Indonesia? Sebenarnya kondisi ‘utara-selatan’ juga berlaku within Indonesia, dimana urban society adalah konsumen dan masyarakat rural sebagai penyedia layanan alam. Masyarakat urban hakikatnya adalah –meminjam istilah seorang teman yang juga pemikir– pengungsi (refugee), yang bergantung sepenuhnya pada ‘kerelaan’ orang-orang kampung menyediakan berbagai kebutuhan konsumsi mereka. Trade-off-nya ya…financial benefit yang seringkali nilainya tidak menggambarkan nilai sebenarnya dari resource dan energi yang harus dikeluarkan oleh orang kampung untuk memproduksi berbagai kebutuhan orang kota tersebut. By the way, tahukah Anda, bahwa setiap orang Indonesia memerlukan lahan seluas 1,3 hektar (rata-rata) untuk memenuhi kebutuhan konsumsi tahunannya? Jadi, kalau Anda tidak memiliki lahan produktif seluas 1,3 hektar, maka dalam neraca ekologis, Anda itu termasuk kaum yang  berhutang :p

Aspek finansial ini kemudian menjadikan orang-orang kampung juga sebagai konsumen dari barang-barang yang diproduksi oleh kaum pekerja di sentra-sentra industri semi-urban. Bayangkan saja, di pulau Maratua (salah satu pulau kecil yang menjadi titik terluar Indonesia, berbatasan dengan Malaysia dan Philipina) ikan adalah makanan mewah, padahal bisa dikatakan 100% populasinya nelayan. Apa sebab? Ikan telah dipandang sebagai komoditi yang lebih bisa memberikan benefit finansial, dibandingkan bila hanya dikonsumsi sendiri. Ironis, karena kemudian mereka menjual ikan (yang bernilai gizi tinggi) dan membeli mie instan (yang junk-food) –dari uang yang mereka peroleh dari penjualan ikan tersebut– untuk mereka konsumsi.

Dalam konteks yang lebih besar, demikianlah yang terjadi dengan negara Indonesia. Indonesia menjual minyak mentahnya (instead of mendahulukan kebutuhan dalam negeri) untuk mendapatkan finansial benefit dan dengan uang hasil penjualan tersebut membeli minyak dari pasar dunia (yang konon kualitasnya tidak sebagus kualitas minyak kita) untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Aneh? Ya…memang aneh, tapi ini nyata. Tanyakan kenapa! –eh…kok jadi niru iklan nih ;p

…ketika pohon terakhir sudah lenyap dan titik air terakhir sudah menghilang, barulah kita sadar bahwa uang nggak bisa dimakan… [kata seorang bijak, lupa aku siapa...]

 

after-midnite talks

November 12th, 2005

Percakapan tengah malam hingga dini hari dengan kedua temanku membuatku kembali merenung…yah, memang life’s not simple. Kami ngobrol bayak sekali hal, mulai dari hal ecek-ecek sekedar untuk melampiaskan ke-bitchy-an sampai soal-soal serius macam friendship, pernikahan, perselingkuhan, life, agama dan religiositas, pilihan-pilihan dalam hidup dll dll. Apa-mengapa-bagaimana…Pokoknya 5W+1H…semuanya dibahas.

Semakin kupikirkan semakin aku yakin dengan salah satu ajaran Buddha yang menyatakan bahwa sebenarnya dalam pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan (tentang apapun) sebenarnya sudah terkandung jawaban. Deep down inside sebenarnya kita sudah tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Masalahnya, maukah kita menerima jawaban tersebut? Bisakah kita jujur terhadap diri kita sendiri (tak perlu lah dulu kepada orang lain)? Relakah kita mendengarkan kebenaran yang diucapkan hati sanubari kita (yang memang kadang atau malah sering menyakitkan)?

Lalu kami bicara tentang waktu…our expiry date. Did we only waste our time? have our life been meaningful? Have our age been worthy –-filled with ‘useful’ experiences? Have we just wasted opportunities that will never ever come twice? Teringat aku pada satu bab dalam buku Einstein’s Dreams (atau Gempa Waktu-nya Kurt Vonnegut??? lupa aku) yang menceritakan suatu keadaan dimana hari ini adalah hari terakhir dari kehidupan; dan semua orang sadar banyak hal yang belum dan masih ingin mereka lakukan, sementara the clock keeps on ticking; dan mereka kemudian berusaha melakukan semua hal tersebut dalam satu waktu. Teringat aku akan ajal yang baru saja menjemput seorang teman baik. Sejenak dua jenak, perasaan macam-macam itu lah yang kurasakan. I can hear the clock is ticking and I feel I’m running out of time.

slamat jalan ‘ning

November 11th, 2005

Tuhan, telah Kau tetapkan jalan baginya
Terimalah dia dalam haribaanMu
Terangilah tempatnya beristirahat
Sejukkanlah rumah barunya
Sampai Engkau memanggil kami sekalian
Berkumpul di padang mahsyarMu

Kami tahu, bukan tanpa alasan
Engkau panggil dia ketika berjuang
Melahirkan kreasiMu
Karna Kau janjikan surga bagi yang demikian
Maka Tuhan, sayangi dia
Berikan ampunanMu
Berikan keridhaanMu

Aamiin.

[...good people die young...rest in peace 'ning...]

you got a friend

November 10th, 2005

you just call out my name // and you know wherever i am // i’ll come running to see you again // winter spring summer and fall // all you got to do is call // and i’ll be there // you got a friend.

[...untuk seorang teman baik yang sedang gelisah di persimpangan jalan hidupnya...]


moments of contemplation

November 10th, 2005

Apa kesamaan tahun baru, hari ulang tahun, serta pasca ramadhan dan idul fitri? Saat-saat itu biasanya merupakan saat dimana orang-orang berhenti sejenak dan merenungi berbagai hal yang menyangkut kehidupannya. Saat-saat itu juga merupakan milestone ataupun persimpangan dimana orang bertanya kepada dirinya ‘what have i done’….’how far have i gone’….’what am i gonna do next’…’what would i become’ etc etc.

Seorang temanku yang akan berulang tahun bulan depan juga merasakan hal ini. Apa makna kehidupan yang telah dia jalani, seberapa berartinya hidupnya, seberapa artinya dia bagi orang lain dan bagi kehidupan, sudah benarkah jalan yang dia ambil, aku yakin, hanyalah sedikit dari jutaan pertanyaan yang berseliweran di belantara pikirannya, dan pikiran kita ketika kita mengalami hal yang sama. Dan itu menurutku sejuta persen sah dan merupakan fitrah manusia. 

Kembali aku pada pemikiran bahwa finding our cause is extremely important, sesepele apapun itu. Dan tidak ada salahnya juga bila harus mundur selangkah atau dua langkah, sebelum memulai suatu hal yang mungkin baru, atau melanjutkan kembali yang sudah kita mulai.

lebaran..lebaran..lebaran

November 5th, 2005

Lebaran dan ‘Minal Aidin Walfaidzin’

Minal aidin walfaidzin artinya bukan ‘mohon maaf lahir dan batin’. Entah mengapa terjadi kesalahkaprahan setiap kali kita mengucapkan kalimat tersebut dan seolah artinya adalah ‘mohon maaf lahir dan batin’. Bertahun yang lalu aku pernah mendengar seorang ulama mengatakan bahwa sebaiknya kita tidak sembarangan mengucapkan ‘minal aidin walfaidzin’ kepada seseorang karena kalimat tersebut maknanya sangat dalam. Ucapan tersebut sebaiknya diucapkan hanya kepada orang-orang yang kita tahu memang pantas menyandangnya dan…tidak semua orang yang berpuasa Ramadhan ‘berhak’ diberikan ucapan selamat tersebut, demikian menurut pak ustadz. Wallahu a’lam bissawab.

Lebaran dan ‘maaf lahir dan batin’

Tak bisa disangkal, ini lah kalimat terpopuler di kala Lebaran. Kalimat ini meluncur dengan lancarnya dari mulut kita setiap kali Lebaran menjelang. Kadang harus kuakui, saking seringnya kalimat ini diucapkan semakin jadi basa-basi saja nampaknya. Kadang kita mengucapkannya pada orang yang baru pertama kalinya kita temui. Kadang walaupun mulut mengucapkannya, hati masih saja enggak rela. Iya, nggak??? Memang benar kata orang, ujian sesungguhnya justru pada saat Ramadhan selesai –bagaimana kita melanjutkan hidup kita di sebelas bulan berikutnya.

Lebaran dan SMS

Ada aktifitas tambahan yang aku lakukan sejak malam takbiran sampai hari ini, yaitu mengirim SMS. Trend mengirimkan ucapan selamat dan bermaaf-maafan melalui SMS mulai muncul dua sampai tiga tahun belakangan ini, ketika practicality mulai menjadi dogma baru di kehidupan masyarakat modern. Tak terkecuali aku. Berbagai SMS, mulai yang pendek, panjang, dengan gambar, penuh doa, pakai puisi, sampai yang memakai berbagai bahasa –inggris, kromo inggil, aceh— menyambangiku, mulai melek mata sampai after midnight. Mengirim ucapan dan meminta maaf ini pun sudah kulakukan sejak malam takbiran…sebelum line-nya jammed dan SMS kita failed atau dipending (btw, frase ini juga jadi frase yang nge-trend di tahun ini hahahhaa…). Kadang kalau dapat kiriman dengan kata-kata yang bagus, Alhamdulillah….kita nggak perlu capek pencet-pencet dan tinggal mem-forward saja SMS indah tersebut ke kawan yang lain, sampai-sampai seorang temanku me-reply kembali SMS-ku…dan isinya ‘nyontek punya siapa nih?’ Hehehhehe….tau aja…

Lebaran dan ‘tombo ati’

Kalau saja Ramadhan dan Lebaran tahun ini digambarkan dalam suatu film maka tak bisa disangkal bahwa lagu ‘Tombo Ati’ yang dinyanyikan oleh Opick akan menjadi theme song-nya. Dimana-mana kita bisa dengarkan lagu ini diputar dan dinyanyikan oleh siapa pun, besar, kecil, tua, muda, di TV, radio, di jalanan…pokoknya dimana saja, kapan saja. Jadi ingat fenomena Peter Pan dengan ‘Ada Apa Denganmu’-nya. Akibat paparan berulang-ulang tersebut, tak bisa dielakkan aku pun menjadi hafal lima perkara yang bisa menjadi obat hati ini….Well, Opick…as I always say…it’s easier to say (or sing) than done, but thanks anyway, I’ll keep it in mind. Moga-moga Gusti Allah merestui.

Lebaran dan ‘urusan perempuan’

Sholat sunnah Iedul Fithri selama ini kuanggap sebagai kulminasi dari seluruh perjalanan Ramadhan. Merayakan Lebaran tanpa melaksanakan sholat Ied bagaikan makan mie ayam tanpa mie. Dan tahun ini adalah tahun keempat aku merayakan Lebaran tanpa melaksanakan sholat Ied. Bayangkan…four consecutive years!!! Kesal? Jelas…tidak perlu ditanya lagi deh-dong-sih-dut-pret. Menyesal? Amat sangat banget sekali…Padahal sejak sebelum Ramadhan sudah kutetapkan niat untuk memperbaiki ibadahku dan berdoa agar sekali ini saja puasaku bisa full. Hasilnya? jauh panggang dari api…itu pun 90%-nya diakibatkan oleh ‘urusan perempuan’ yang diluar kebiasaan. Nampaknya memang niat baik saja tidak pernah cukup. Dan untuk yang satu ini, niat tersebut harus dilengkapi dengan pil KB agar ‘urusan perempuan’ ini tidak mengganggu lagi ;p

Lebaran dan bakso

Lho…kok bakso, bukannya ketupat? Yah, Lebaran dan ketupat itu suatu keniscayaan, tidak perlu diperbincangkan lagi. Kali ini aku ingin menulis tentang bakso. Bakso kuah adalah hidangan yang most wanted di rumah kami pada hari kedua Lebaran. Tetamu yang sejak hari pertama Lebaran tak henti-henti mengunjungi rumah kami telah menetapkan pilihannya di hari itu….dan pemenangnya adalah…BAKSO KUAH..yeeeiiii..plok..plok..suit..suit. Mungkin mereka, sebagaimana seluruh penghuni rumah kami, sudah jenuh juga menyantap hidangan ‘khas’ Lebaran. Bayangkan setiap kali menyambangi rumah orang, yang dihidangkan lagi-lagi ketupat, opor, kari, dan sejenisnya…pokoknya makanan bersantan dan ‘berat’. Terang saja, bakso kuah yang ibuku hidangkan siang itu diserbu dengan segera bagaikan oasis di tengah padang pasir…hehehhee…berlebih deh ah!

Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita dan menjumpakan kita dengan Ramadhan tahun depan. Amiin…