antara ada dan tiada

November 19th, 2005

Kalau bisa diberi judul, maka judul sesi Jumat malam lalu adalah ‘Pilih Sendiri Lagumu’. Memang, musik merupakan bahasa universal. Bagaimanapun suasana hatimu, musik selalu bisa menjadi pelampiasan, karena kelebihan energi (baik positif maupun negatif) sebaiknya tidak disimpan. Dan malam itu memang masing-masing orang datang membawa energi yang berbeda-beda; ada yang sedang jadi AMELI (Anak Mellow Indonesia), ada yang lagi bete dan maunya nyelepet orang, ada yang lagi flat, dan ada yang lagi ayik-asyik aja.

Maka malam itu kami berterima kasih pada Reza, Dewa, Sheila on 7, Radja, Cokelat, Utopia, Gloria Garnor, Kylie Minogue, Madonna, Gombloh, Beatles, Tere, Melly, Krisdayanti, dll dll. Tanpa mereka, berbagai energi yang berlebih itu bisa saling conflicting. Empat jam berikutnya satu demi satu lagu-lagu tersebut disenandungkan (baca: diteriakkan). Untung saja para penyanyinya tidak hadir disitu. Kalau mereka ada, pasti mereka akan langsung protes dan melakukan interupsi “Woooiii, pitch control!!!!”

Seperti biasa, setiap orang kemudian meng-klaim satu-dua lagu sebagai “lagunya” atau keluar kata-kata “gue banget nih” atau “elo banget nih”. Ada yang memilih Karma dari Cokelat sebagai lagu kebangsaannya, ada yang memilih Mengapa Ini yang Terjadi (dari Tere), dll. And here’s my song of the day (picked up by anak ngongkong…eh, anak nongkrong):

…ku tak bisa menggapaimu
takkan pernah bisa
walau sudah letih aku
tak mungkin lepas lagi
kau hanya mimpi bagiku
tak untuk jadi nyata
dan s’gala rasa buatmu
harus padam dan berakhir

…kan slalu, kurasa
hadirmu, antara ada dan tiada

['antara ada dan tiada' by Utopia]




Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind