blow east, wind
blow east, wind
whisper this to one’s ears
feel no sorry, feel no guilt
as there’s no sorry and no regret
blow east, wind
and let one knows
never it’s one’s fault
it is just how life goes
it is just how stream flows
good sign
This morning I woke up feeling at ease, just like the last 5 days. Today I have gone thru the day feeling at ease, just like the last 5 days. Nothing I wait, nothing I worry about, nothing I feel doubt about, nothing keeps me wonder about.
I know this is a good sign. I know I have made a right decision. And I know my friend will understand.
Uncategorized | Comment (1)nonsense
Aku baru saja menghadiri suatu pertemuan para pebisnis komoditas industri untuk menetapkan prinsip-prinsip dan kriteria agar produk mereka dianggap sebagai produk yang berkelanjutan. Terus terang pertemuan-pertemuan semacam ini sering membuat perutku mulas. Apa yang dibicarakan bagaikan bumi dan langit bedanya dengan kenyataan sehari-hari yang terjadi di kampung-kampung, atau di sentra-sentra industri yang menghasilkan produk-produk tersebut, dimana kekerasan, pengusiran, pencemaran, kontaminasi zat-zat berbahaya dan beracun, kondisi kerja yang tidak aman dan sehat, menjadi fenomena sehari-hari yang mau tidak mau harus dialami oleh penduduk kampung dan pekerja industri tersebut.
Dalam pertemuan yang kusebutkan di atas, yang mereka bicarakan tidak jauh dari persoalan kompensasi apa yang akan mereka dapat bila mereka memenuhi prinsip dan kriteria ‘berkelanjutan’ tersebut. Seolah-olah, menerapkan berbagai prinsip yang sangat mendasar dan wajar itu merupakan suatu prestasi besar sehingga mereka layak diberi penghargaan. Ibaratnya, orang yang sedang makan di restoran lalu meminta penghargaan dan kompensasi karena diminta membayar apa yang telah dinikmatinya…
Berada di ruang pertemuan dan mendengar mereka bicara, seolah mendengarkan anak nakal yang sedang dibujuk-bujuk dan minta diiming-imingi permen agar tidak berbuat nakal lagi. Yang lebih ekstrim lagi kalau boleh kuibaratkan, ini seperti menawarkan Nobel Prize kepada Slobodan Milosevich atau Hitler (jika dia masih hidup) agar dia berjanji untuk tidak membunuh lagi.
Kukira, memang dunia sudah semakin edan dimana common sense sudah tidak ada lagi dan digantikan oleh berbagai nonsense yang seolah menjadi kebenaran, akibat campur tangan para maha-kuasa yang dengan seenaknya memutarbalikkan akal sehat dan logika.
Uncategorized | Comment (0)jak mania
Kebetulan, malam tadi aku berkeliaran di sekitar Senayan, mengunjungi teman-teman yang akan menyelenggarakan perhelatan Selasar Bumi pada hari Minggu besok (btw, datang ya…acaranya di Graha Pemuda Senayan…untuk umum dan gratis). Ternyata, kami agak-agak salah gaya, karena waktu kepulangan kami bertepatan dengan bubaran sepak bola. Ya, sore tadi memang dilangsungkan pertandingan antara Persija (Jakarta) dan Arema (Malang). Konon, hasil pertandingan tersebut seri 2-2. Namun hasil tersebut tidak serta merta mengubah kelakuan para supporter Persija untuk menjadi lebih kalem.
Disinilah kembali kulihat suatu fenomena dimana identitas individu menjadi hilang dan melebur ke dalam identitas kelompok, yang kali ini namanya Jak Mania. Dalam kelompok ini tak ada lagi si Amat, si Jono, si Ucok, si Fulan. Yang ada hanya identitas dari this crowd — Aku, Jak Mania. Dan identitas (serta kelakuan) yang muncul kemudian juga tergantung kepada interpretasi masing-masing individu tentang seperti apa sosok Jak Mania tersebut. Ada (sebagian besar ‘kali ya…) yang menganggap bahwa Jak Mania adalah jagoan, berani, nekat dll…sehingga pengejawantahan dari persepsi itu muncul dalam tindakan-tindakan seperti naik di atas atap bus dan metro mini, jalan seenaknya di tengah jalan, membakar spanduk-spanduk di pinggir jalan, memalak mobil-mobil pribadi, melempari kendaraan lain dengan tanah, kerikil dll dll dll dll. Terus terang, kengerian yang serupa dengan saat kerusuhan 1998 kembali kurasakan.
Ketika berada di dalam kelompok tersebut, all of a sudden, mereka menjadi “kreatif”. Ketika berada di dalam kelompok tersebut, tidak ada lagi tanggung jawab sebagai individu sehingga mereka (mungkin) merasakan apa yang disebut kebebasan absolut. Apalagi yang ada disana hanya satu-dua orang polisi lalu lintas.
Bayangkan, seberapa besar energi yang terkonsentrasi di seputaran Senayan sampai Semanggi malam tadi. Dan kuperhatikan hampir semuanya adalah anak tanggung, anak-anak usia SMP-SMA. Bayangkan, tiga sampai lima tahun ke depan –-suatu masa dimana mereka selesai sekolah dan siap menjadi workforce (karena tidak mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi, misalnya), apa yang akan terjadi jika potensi energi yang sedemikian besarnya tidak bisa atau tidak mendapatkan penyaluran.
Uncategorized | Comment (0)antara ada dan tiada
Kalau bisa diberi judul, maka judul sesi Jumat malam lalu adalah ‘Pilih Sendiri Lagumu’. Memang, musik merupakan bahasa universal. Bagaimanapun suasana hatimu, musik selalu bisa menjadi pelampiasan, karena kelebihan energi (baik positif maupun negatif) sebaiknya tidak disimpan. Dan malam itu memang masing-masing orang datang membawa energi yang berbeda-beda; ada yang sedang jadi AMELI (Anak Mellow Indonesia), ada yang lagi bete dan maunya nyelepet orang, ada yang lagi flat, dan ada yang lagi ayik-asyik aja.
Maka malam itu kami berterima kasih pada Reza, Dewa, Sheila on 7, Radja, Cokelat, Utopia, Gloria Garnor, Kylie Minogue, Madonna, Gombloh, Beatles, Tere, Melly, Krisdayanti, dll dll. Tanpa mereka, berbagai energi yang berlebih itu bisa saling conflicting. Empat jam berikutnya satu demi satu lagu-lagu tersebut disenandungkan (baca: diteriakkan). Untung saja para penyanyinya tidak hadir disitu. Kalau mereka ada, pasti mereka akan langsung protes dan melakukan interupsi “Woooiii, pitch control!!!!”
Seperti biasa, setiap orang kemudian meng-klaim satu-dua lagu sebagai “lagunya” atau keluar kata-kata “gue banget nih” atau “elo banget nih”. Ada yang memilih Karma dari Cokelat sebagai lagu kebangsaannya, ada yang memilih Mengapa Ini yang Terjadi (dari Tere), dll. And here’s my song of the day (picked up by anak ngongkong…eh, anak nongkrong):
…ku tak bisa menggapaimu
takkan pernah bisa
walau sudah letih aku
tak mungkin lepas lagi
kau hanya mimpi bagiku
tak untuk jadi nyata
dan s’gala rasa buatmu
harus padam dan berakhir
…kan slalu, kurasa
hadirmu, antara ada dan tiada
['antara ada dan tiada' by Utopia]
Uncategorized | Comment (0)philo
baru saja
datang kabar gembira
dari padang sana
philo hadir ke dunia
3,9 kilo…50 senti…
besar kamu ya…
philo datang
bawa matahari
bawa senyum
buat bapak, buat bunda
capek kata bunda
bagaimana pun
pasti bunda bahagia
yang dinanti sudah tiba
keras-keras menangis, philo
kabarkan pada dunia hadirmu itu
biar mereka sambut
dengan doa
jadi anak sholeh dan berguna
karna itu yang utama
bunda philo, mau kado apa?
[buat ei dan wisjnu...BIG HUGS buat kalian dan buat philo kecil, dari tante yaya...]
menujumu
bogor…..
hujan lagi..
lagi-lagi hujan..
padahal aku ingin
segera terbang pulang,
ke peraduan…
merebahkan sayapku yang lelah,
yang sejak tadi kutahan,
untuk tak mengepak
menujumu…
[buat m'old buddy & d'brondong...life's indeed full of difficult choices...]
Uncategorized | Comment (0)perempuan konsumen, sudah cerdas dan kritis kah kita?
Selama ini peran perempuan di dalam tata konsumsi jarang sekali dikaji. Padahal, perempuan memegang peran penting di dalamnya. Paling tidak kaum perempuan memegang 2 peran strategis di dalam tata konsumsi produk, yaitu sebagai konsumen langsung dan sebagai influencer (yang mempengaruhi), atau bahkan decision maker (penentu) dalam menentukan produk apa yang akan dikonsumsi di tingkat keluarga. Coba cek, siapa anggota keluarga kita yang menentukan sabun, odol, shampoo apa yang dibeli, minyak goreng apa yang dipakai, beras apa yang dimakan, dll?
Kapitalisme global juga telah demikian cerdasnya mentargetkan kaum perempuan sebagai sasaran utama pemasaran produknya dengan menggunakan ide-ide yang irasional melalui strategi iklan yang intensif yang langsung mengintervensi sampai ke ruang-ruang duduk keluarga. Seiring dengan perkembangan ekonomi dan kebudayaan, terjadi pula perubahan tata konsumsi yang cepat dan massif yang secara langsung maupun tidak langsung juga telah menyebabkan terjadinya perubahan sistem produksi dan pemanfaatan aset-aset alam di kampung-kampung. Ekstraksi kekayaan alam secara massif dan destruktif adalah dampak langsung dari upaya pemenuhan demand dari pasar, yang notabene diciptakan melalui ide-ide irasional yang ditanamkan ke dalam mindset konsumen, termasuk kaum perempuan. Mungkin kita masih ingat bagaimana industri rokok menunggangi agenda gerakan awal feminisme di Amerika Serikat, misalnya, dengan ‘menjual’ gagasan/ide irasional bahwa perempuan merokok sama dengan feminis.
Perempuan konsumen harus dibuka wawasannya bahwa pilihannya atas suatu produk tertentu akan sangat menentukan nasib jutaan perempuan-perempuan lainnya yang bekerja di pabrik-pabrik, perkebunan-perkebunan, dan pusat-pusat produksi lainnya. Sebagaimana sering diucapkan, what is personal is also political. Oleh karena itu, kita sebagai perempuan konsumen juga harus aware dengan kondisi yang ada dan melakukan tindakan, bisa dimulai dari hal-hal yang sangat dekat dengan keseharian kita, misalnya bagaimana menjadi konsumen yang cerdas dan kritis.
…you may do small things, but you shall think big…
Uncategorized | Comment (0)hari tanpa belanja
….dari tetangga…
Apa Hari Tanpa Belanja itu?
Hari Tanpa Belanja (28 November) adalah sebuah ide sederhana untuk bersikap lebih kritis pada budaya konsumen dengan jalan mengajak kita untuk tidak berbelanja selama sehari. Ini adalah suatu bentuk perlawanan terhadap budaya konsumerisme.
Dari mana Hari Tanpa Belanja berasal?
Hari Tanpa Belanja telah dimulai sejak 1993 oleh www.adbusters.org sebuah organisasi nirlaba yang berpusat di Kanada yang bertujuan meningkatkan kesadaran kritis konsumen (idenya berasal dari Ted Dave, pendiri Adbusters). Kini Hari Tanpa Belanja telah dirayakan secara internasional di lebih dari 30 negara.
Apa tujuannya?
Sebagai konsumen, kita seharusnya mempertanyakan produk-produk yang kita beli dan perusahaan-perusahaan yang membuatnya. Idenya adalah untuk membuat orang berhenti dan berpikir tentang apa dan seberapa banyak yang mereka beli telah berpengaruh pada lingkungan dan negara-negara berkembang.
Siapa yang merayakan?
Anda! Ini adalah perayaan Anda! Beritahu teman-teman, pasanglah poster dan jangan belanja pada 28 November.
Mengapa ada perbedaan tanggal perayaan?
Di Amerika Serikat dan Kanada, Hari Tanpa Belanja tahun ini dirayakan 26 November 2004, sehari setelah perayaan Thanksgiving. Di Indonesia, Hari Tanpa Belanja akan dirayakan 28 November 2004 pada hari Sabtu, di mana orang biasa menghabiskan waktu untuk berakhir pekan dan pergi berbelanja.
Apa yang akan saya dapatkan?
Selama 24 jam Anda akan mengambil jarak dari konsumerisme dan merasa bahwa belanja itu tidak terlalu penting. Setelah itu Anda akan mendapatkan kembali kehidupan Anda. Itu adalah sebuah perubahan besar! Kami ingin Anda membuat komitmen untuk mengurangi belanja, lebih sering mendaur-ulang, dan mendorong para produsen untuk bersikap lebih jujur dan fair.
Konsumerisme modern mungkin merupakan sebuah pilihan yang tepat, tetapi tidak seharusnya berdampak buruk bagi lingkungan atau negara-negara berkembang.
Apakah itu berarti saya dilarang belanja?
Percayalah, sehari tanpa belanja tak akan membuat Anda menderita. Kami ingin mendorong agar orang-orang berpikir tentang akibat-akibat dari apa yang mereka beli bagi lingkungan dan negara-negara berkembang.
Belanja? Apa salahnya?
Sebenarnya bukan hanya belanja itu sendiri yang berbahaya, tetapi juga apa yang kita beli. Ada dua wilayah yang perlu kita perhatikan, yaitu lingkungan dan kemiskinan. Negara-negara kaya di Barat (hanya 20% dari populasi dunia) mengkonsumsi lebih dari 80% sumber alam dunia, dan menyebabkan ketakseimbangan dan kerusakan lingkungan, serta kesenjangan distribusi kesejahteraan. Kita patut cemas pada cara barang-barang kita dibuat. Juga banyaknya perusahaan-perusahaan besar yang menggunakan tenaga kerja di negara-negara berkembang karena murah dan tidak ada atau lemah dalam sistem perlindungan pekerja.
Bagaimana dengan lingkungan?
Bahan-bahan baku dan cara pembuatan yang digunakan untuk membuat barang-barang kita memiliki dampak buruk seperti limbah beracun, rusaknya lingkungan, dan pemborosan energi. Pengiriman barang-barang ke seluruh dunia juga menambah tingkat polusi.
Apakah satu hari akan membuat perubahan?
Hari Tanpa Belanja tidak akan mengubah gaya hidup kita hanya dalam satu hari, ia lebih merupakan sebuah pengalaman melakukan perubahan! Kami bertujuan membuat Hari Tanpa Belanja mengendap dalam ingatan setiap orang layaknya peringatan Lebaran, Natal, atau Tujuh Belasan agar juga berpikir tentang diri mereka sendiri, tentang keluarga terdekatnya, keluarga, teman-teman, dan masa depan.
Apa yang harus saya lakukan?
Tidak melakukan sesuatu berarti melakukan sesuatu! Anda bisa melihat kegiatan Hari Tanpa Belanja di berbagai penjuru dunia lewat website www.Adbusters.org
untuk info lebih lanjut: http://kunci.or.id/htb/ atau di: www.adbusters.org/metas/eco/bnd/
Uncategorized | Comment (1)kartu mati
Semalam, terjadi lagi sesi after-midnite. Memang ‘geng’ asoy geboy ini kalau sudah bertekad untuk main suka nggak tahu waktu. Bukan malam libur pun di-hayu-in. Kebetulan, ada salah seorang dari kami yang agak-agak berbakat jadi paranormal. So, jadi lah dia kami ‘tanggep’.
Seperti jamaknya aktifitas ramal-meramal, kalau hasilnya bagus, bisa membuat tidur jadi nyenyak…like a baby. Tapi coba kalau hasilnya negatif…bisa-bisa bikin kita jadi bete, walaupun kita nggak bermaksud menganggap itu sebagai hal yang serius. Kalau dipikir-pikir, lucu juga…variatif sekali hasil ramal-meramal ini, dan juga menunjukkan bahwa Tuhan Maha Adil ;p
Dari kami semua, nggak ada yang mendapat total nilai 100. Ada yang diramal bakal kaya raya, tapi sering bertepuk sebelah tangan dalam percintaan (hihihi…dia bilang, enggak apa-apa…kan bisa beli lelaki…atau beli tangan sebelah lagi, biar bisa bertepuk tangan…gila ya??!!), ada yang bakal dapat suami keren tapi hidupnya pas-pas-an (huehehehhee…katanya, cuek aja…kan ada guardian angel yang bisa menanggung hidupnya..itu tuh teman kami yang diramal bakal kaya itu), ada yang sebenernya bisa kaya, tapi jalan rezekinya terhalang entah oleh apa (nasihat kami kepadanya…makanya jangan lupa bayar zakat…), ada yang ternyata punya masalah dengan kepribadiannya sendiri, mentok terus, kartu mati…(kata yang lain kepadanya…jangan-jangan elu berkepribadian ganda…hahahaa…).
Anyway, di balik berbagai celetukan-celetukan dan hasil yang boleh dipercaya boleh tidak itu, semalam adalah malam refleksi untuk kami, untuk aku juga. But it was surely a kind of fun slap…
Uncategorized | Comment (0)