hari gini…dapur, sumur, kasur???

October 10th, 2005

Sudah beberapa hari ini aku menyaksikan tayangan sebuah iklan layanan masyarakat di beberapa stasiun TV tentang kampanye peduli kanker payudara. Sepanjang iklan tersebut digambarkan  miserable husband yang sedang berusaha bikin telur ceplok, menyetrika, belanja di supermarket sambil menggendong anak, dan lagi terbaring merana sambil mengelus bantal. Setelah itu terpampang tulisan (aku lupa tepatnya) yang intinya ingin menyampaikan ‘beginilah jadinya kalau wanita tidak peduli terhadap kanker payudara –dia cepat mati sehingga suami lah yang harus mengerjakan tugas-tugas domestik’. Kalau pesan tersebut dibalik, maka akan berbunyi ‘kalau wanita peduli terhadap kanker payudara, maka dia tidak akan cepat mati dan oleh karenanya dia akan tetap bisa memasak, menyetrika, belanja, dan jadi teman tidur bagi suaminya’.

Terus terang aku agak terganggu dengan iklan tersebut yang masih saja merepresentasikan perempuan HANYA pada peran-peran domestiknya. Bukannya aku tidak menghargai peran-peran domestik tersebut (asalkan pembagian peran tersebut memang berdasarkan kesepakatan bersama), namun tentu saja iklan yang durasinya cuma beberapa puluh detik tersebut tidak bisa menceritakan secara utuh apa yang terjadi, sehingga kemudian yang sampai di benak pemirsa –setidaknya di benakku– adalah pengukuhan stereotype perempuan yang hanya berperan di seputar dapur, sumur dan kasur….Hellloooooo??? Hari gini masih punya cara pandang seperti itu??!! Iklan tersebut bagiku kemudian menjadi semacam set back dari upaya-upaya yang selama ini dilakukan untuk mengubah cara pandang stereotyping yang menganggap dapur, sumur dan kasur adalah kodrat perempuan. Padahal kodrat perempuan –pemberian Tuhan yang membuat perempuan berbeda dengan laki-laki– adalah bahwa perempuan itu memiliki ovarium dan rahim sehingga dia bisa mengalami menstruasi, bisa hamil, melahirkan, dan menyusui. Itu saja, lain tidak.

Mungkin ada baiknya advertising agency ataupun pencetus ide dari iklan tersebut lebih memperluas wawasannya sedikit sehingga bisa lebih cerdas dan tidak terjebak pada penggambaran stereotype seperti di atas.

mary jane

October 10th, 2005

so take this moment mary jane
and be selfish
worry not about the cars that go by
all that matters mary jane
is your freedom
keep warm my dear, keep dry

[alanis morissette]

smooth landing

October 8th, 2005

In general, it was a smooth landing, although it was a bit bumpy at the beginning when it hit the ground. A little bit surprising though….maybe the spirit of Ramadhan has played the buffering role and made the gravity less functioning ;p

Remember watching Animal Planet channel this afternoon. There was a story about the peregrine falcon against its prey, the pigeon. It was shown how the peregrine falcon, having leverage of being larger, stronger and faster, could not beat the pigeon –the seemingly weak kind of bird. It was shown how the pigeon –lacking of flying speed– could avoid its predator from taking hold of it by doing a perfect outmaneuvered. It was able to do it because it plays it cool, smart and fully in control. And that…was a very good lesson of the day.

So next time you fly, fly like the pigeon –-cool, smart and fully in control. In addition, wear a parachute…in case the wind up there is just too hard to resist, and the spirit of Ramadhan is no longer there to help you ;p

god answers

October 7th, 2005

Semalam seorang hamba yang sedang terbang melayang-layang bertanya kepada Tuhannya, Kapan aku akan mendarat Ya Tuhan? Capek niiih… Tuhan dalam diamnya menjawab, Besok hambaku…besok…. Dan sebagaimana Tuhan janjikan, yang terjadi, terjadi lah…

[berdamailah dengan diri kita dan Tuhan menjawab dengan segera...]

bali 2005

October 3rd, 2005

"No one is fanatically shouting that the sun is going to rise tomorrow. They know it’s going to rise tomorrow. When people are fanatically dedicated to political or religious faiths or any other kinds of dogmas or goals, it’s always because these dogmas or goals are in doubt".

[Robert M. Pirsig]

marhabban yaa ramadhan

October 2nd, 2005

Beberapa hari lagi kita memasuki bulan Ramadhan. Bagi yang beriman dan bertaqwa secara pragmatis atau bagi yang berjiwa dagang, bulan ini adalah bulan yang sangat dinanti-nanti karena di bulan ini lah pintu ampunan, pintu rahmat dan pintu keselamatan dibuka selebar-lebarnya oleh Tuhan. Bagi orang-orang seperti itu, ini lah kesempatan untuk sin-laundering (pencucian dosa). Ini juga kesempatan untuk setidaknya menyeimbangkan neraca dosa-pahala yang selama ini timpang dan defisit (keberatan dosanya bow…). Makanya, jangan menggerutu bila melihat pengemis dan peminta-minta…mereka lah penolong dalam menyeimbangkan defisit neracamu dan yang memungkinkanmu melakukan business as usual di bulan-bulan lainnya…itu pun kalau kamu percaya dengan persepsimu tentang dosa dan pahala…surga dan neraka…dan Tuhan sebagai saudagar besar.

Bagi yang berhobby kuliner atau yang termasuk geng pencicip (seperti aku contohnya), ini lah kesempatan mengobati kerinduan akan penganan yang kadang cuma ada dan dibuat di bulan Ramadhan. Dulu almarhumah nenekku sering membuat kue ketan srikaya yang menurut beliau adalah kue raja-raja. Tradisi ini kemudian dilanjutkan oleh ibuku dan jadi hidangan pada saat berbuka puasa. Bulan puasa bagiku adalah juga bulan es blewah. Entah kenapa, selain bulan puasa jarang sekali aku berkeinginan menikmati es blewah.

Bagi yang fashionable bulan puasa adalah bulan persiapan menjelang Lebaran. Sehingga fokus mereka bukan Ramadhannya itu sendiri, tapi Lebarannya. Sejak awal bulan, biasanya mereka-mereka ini sudah sibuk hunting majalah mode, bahan/kain, trend model baju, mukena sampai tukang jahitnya. Kalau nggak di awal bulan, takut udah nggak dapat penjahit yang bagus lagi, karena mereka biasanya sudah kebanjiran order. ‘Kan eman-eman, kain bagus kalau dijahit oleh penjahit sembarangan ;p

Bagi yang beriman dan bertaqwa secara substansial (ehmmm…) bulan Ramadhan adalah bulan refleksi, sejauh mana sebenarnya kita telah mendeviasikan diri dari jalan Tuhan yang konon lurus itu (jadi ingat film seri Highway to Heaven jaman dahulu…disitu diibaratkan jalan Tuhan memang seperti jalan tol yang lurus…). Dan of course, kemudian bagaimana mengembalikan sudut deviasi itu menjadi nol derajat alias berpindah kembali ke arah yang benar.

Terlepas apa pun anggapan kita terhadap Ramadhan (diakui/tidak, disadari/tidak) ada kontradiksi besar yang terjadi saat Ramadhan. Puasa seharusnya adalah suatu ibadah yang bertujuan menahan hawa nafsu (kata ulama-ulama yang sering ceramah di masjid) atau keinginan, dalam bahasa sederhananya. Seharusnya ada perubahan tata konsumsi yang terjadi di bulan Ramadhan bila dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Dan memang terjadi perubahan tata konsumsi pada bulan Ramadhan, tapi justru meningkat instead of menurun. Indikator sederhananya, coba kita hitung berapa pengeluaran finansial kita pada bulan-bulan biasa…bandingkan dengan pengeluaran di bulan Ramadhan…..see??? Disini puasa menjadi kehilangan substansinya…menurutku.

Terlepas pula dari sukses tidaknya kita menjalankan puasa –berdasarkan parameter kita masing-masing :-) dan yang kemudian sebenarnya menentukan layak atau tidaknya kita memperingatinya, lebaran juga saat yang sangat dinanti-nanti dan diraya-rayakan. Tidak terkecuali aku. Sudah tiga lebaran terlewatkan olehku…(agak senasib dengan anaknya bang Toyib yang bapaknya nggak pulang-pulang selama 3 lebaran hahaha…) akibat satu dan lain hal. Oleh karenanya, resolusiku untuk kali ini, aku ingin memperingati lebaran dengan baik dan benar…yang tentu saja harus diawali dengan ibadah yang baik dan benar pula. Semoga.

jump in and get drowned

October 2nd, 2005

I thought I jumped in a river. I thought I will just follow where the stream brings me…to the place I will never know. I don’t mind at all, for I’ve made up my mind. I am ready for the rocks, I am ready for the current. But seemingly, I am wrong. It’s not a river. Still can’t figure out what it is. It seems to be calm…but only on the surface. It has current underneath. And the current has dragged me deeper and deeper…until I get drowned and suffocated. Then it throw me up on its surface, enjoying the sun and the fresh air. When I start to look around –trying to see where I am– it drags me in again to its bottom. It’s like riding a rollercoaster. The only difference is that you never know when it will end. It has its own pattern, it has its own secrets….the ones that are not revealed, the ones that I am not let to learn. For this I am not ready, neither am I excited. And above all I am just f*ck*ng tired trying to figure out what I have jumped into.