fiuhhh..
GOMBBBBAAALLL MUKIYOOO!!!!
akhirnya…vocab ketoprak humor bin srimulat ini lepas juga dari tenggorokku…fiuuuhhhh….sori ya ‘Bul…vocabmu ta’ pinjem dulu ;p
Uncategorized | Comment (1)chain reaction
So I messed up!! Yah, terpaksa aku harus cuci piring. Aku baru menyadari –setelah percakapan dengan seorang temanku siang tadi– ternyata hidupku…hidup kami…tak lagi sesederhana dulu…sebelum keanehan-keanehan ini terjadi.
Lama aku berpikir, apakah aku sudah menjadi seorang yang paranoid? Berpikir juga temanku, apakah dia sudah menjadi orang yang insecured? Pertanyaan-pertanyaan itu cuma menggantung saja di udara karena kami tak bisa menjawabnya. Yang pasti, karena aku yang messing up –tanpa kusadari, entah karena terlalu polos, terlalu naif atau terlalu blo’on– aku yang harus ambil langkah-langkah precaution, prevention, damage control, kalo perlu preemptive. Whatever. Otherwise akan terjadi reaksi berantai yang kami gak sanggup membayangkan akhir ceritanya –’nape jadi serem begini ya??!!
Baru kualami kehidupan seperti dalam sinetron –seperti yang pernah temanku ceritakan. Capek memang…
"…kau yang mulai…kau yang mengakhiri…" [lupa aku penyanyinya]
Uncategorized | Comment (0)les choristes
Sudah lupa aku kapan terakhir kali aku menangis berderai-derai karena menonton sebuah film. Yang kuingat, The Perfect World did it to me…seperti juga English Patient, Hero dan Life is Beautiful. Dan kemarin, Les Choristes atau dalam bahasa Inggrisnya The Chorus kembali membuatku berurai air mata.
Les Choristes menceritakan seorang guru Monsieur Clement Mathieu yang ditempatkan di sebuah sekolah berasrama yang diperuntukkan bagi anak-anak miskin, yatim dan juga anak-anak nakal yang orangtuanya sudah tidak sanggup lagi menangani. Dalam film yang bersetting pedalaman Perancis di tahun 1940-an ini digambarkan bagaimana interaksi guru-murid dimana berlaku hukum ‘aksi-reaksi’nya Newton. Nakalnya anak-anak tersebut dihadapi dengan sikap abusive dari kepala sekolah yang malah mengekalkan hukum ‘aksi-reaksi’ tersebut –menimbulkan lingkaran setan hukuman-teror terhadap guru-hukuman lagi…yang tidak ada habisnya.
Pak Guru Mathieu melakukan pendekatan kepada murid-muridnya melalui musik. Anak-anak nakal tersebut kemudian menjadi menurun derajat kenakalannya –juga akibat pendekatannya yang kebapakan dan penuh humor. Lebih jauh lagi ternyata anak-anak tersebut bisa menjelma menjadi kelompok paduan suara yang sangat kompak dan menghasilkan suara bak suara malaikat yang mampu memesona seorang Countess yang menjadi penyantun dana bagi sekolah tersebut. Sayangnya, sang kepala sekolah tidak suka dengan pendekatan ini yang menurutnya hanya akan menunjukkan kelemahan para ‘pendidik’ di mata anak didiknya. So, Pak Mathieu terpaksa harus pergi karena dipecat oleh si kepala sekolah. Ketika pak guru pergi digambarkan bagaimana anak-anak tesebut mengucapkan silent goodbye (karena mereka dilarang bertemu oleh kepala sekolah) dengan hanya memunculkan tangan-tangan mungil mereka di bibir jendela dan melemparkan pesawat-pesawatan dari kertas berisi ucapan-ucapan perpisahan yang mengharukan.
Walaupun Pak Mathieu hanya sesaat saja berada di sekolah tersebut, namun keberadaannya mampu mengubah keadaan yang ada, baik murid-muridnya maupun kebijakan sekolah tersebut secara umum. Diceritakan bagaimana akhirnya semua guru menyatakan solidaritas kepada Pak Guru Mathieu dan membuka semua kebobrokan dan abuse yang terjadi di balik dinding sekolah tersebut. Digambarkan pula bagaimana seorang siswa yang paling bengal –namun ternyata menyimpan bakat menyanyi yang menakjubkan, berhasil diubah kehidupannya oleh pak guru dan di masa depan menjadi orang sekaliber Zubin Mehta dan memimpin sebuah orkestra terkenal.
"…janganlah menjadi orang yang ketika pergi tidak mengganjilkan dan ketika datang tidak menggenapkan" [Nenekku]
Uncategorized | Comment (0)dear karin
May God spare His wings
Hold you in it dearly
Heal your wound
Soothe your pain
Bring back those smiles
Bring back those laughs
Bring back those only-me-and-niken-can-compete appetites
Our passions for good food…or just food indeed ;p
May God bless you His strengths
To stand up again
To tell the world your stories
To inspire people (like me Rin…gara2 terinspirasi elo nih gue jadi berani nulis2 gak karuan…)
To catch up your dreams
Carry on girl
Carry on…
[buat my dear friend Karin…cepet sembuh ya…]
Uncategorized | Comment (0)t(0)
flying up high
different sky
different sun
different rainbow
floating in a brand new space
brand new days
brand new hopes
brand new thoughts
another t(0) has begun
right here
right now
so lho gitu what…
BBM naik? so lho gitu what…kan ada dana kompensasi 300 rebet
Rakyat antri minyak tanah? so lho gitu what…kan sama aja dengan antri karcis bioskop…
Berkelahi berebut kartu bantuan langsung tunai (BLT)? so lho gitu what…kan tiap hari juga berkelahi, nggak usah dibesar-besarkan lah!
Patungan sewa mobil untuk ngambil dana BLT? so lho gitu what…itu lah ciri masyarakat kita…gotong royong…seharusnya kita bangga!
Anak harus berhenti sekolah akibat ortu nggak mampu? so lho gitu what…tahun depan 20% anggaran untuk pendidikan…tenang aja…
Susu diganti air tajin? so lho gitu what…air tajin itu gizinya tinggi lho…jangan salah…
[keadilan sosial bagi SELURUH rakyat indonesia -- sila kelima dari pancasila...so what gitu lho???]
Uncategorized | Comment (0)monster berkepala banyak
"Setiap individu sebenarnya adalah monster berkepala banyak." Kalimat ini pertama kali kudengar dari seorang fasilitator andalan, dan hari ini abangku mengucapkan kalimat yang serupa, mengomentari problem yang sedang kuhadapi akhir-akhir ini. Dalam setiap occasion, setiap individu bebas memainkan peran apapun yang ingin dia mainkan. Ingin menjadi Mr. Right? bisa…ingin menjadi Ms. Perfect? bisa…ingin menjadi ‘monster’ pun juga bisa. Entah itu di dalam rapat kecil di kantor, dalam pertemuan-pertemuan, bahkan di dalam kehidupan sehari-hari. Siapa yang bisa melarang? Setiap individu memiliki kehendak yang sebebas-bebasnya…namun bukan kebebasan yang tidak terbatas. Batas kebebasan seorang individu adalah kebebasan individu lainnya. Misalnya, kita bebas saja merokok…tapi kebebasan itu dibatasi oleh kebebasan individu lain untuk menikmati udara yang sehat di sekitarnya.
Kebebasan yang sejati ataupun kebebasan yang absolut adalah kegilaan (insanity), seperti digambarkan oleh Paulo Coelho dalam bukunya Veronica Decides to Die. Insane people bebas melakukan apa saja tanpa ada yang protes, karena tentu saja dia tidak sadar dengan apa yang dilakukan dan tentu saja orang memakluminya. Mereka dengan demikian bebas nilai. Tidak demikian dengan orang yang sane. Untuk menjadi sane ada harga yang harus kita bayar…misalnya harus mematuhi universal values yang disepakati secara umum, walaupun ada nilai-nilai yang juga masih menjadi perdebatan, akibat pengaruh budaya masyarakat yang patriarkis misalnya.
"Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah" [Achmad Albar]
Uncategorized | Comment (0)single white female, beautiful mind, dan tirai
Sudah pernah menonton film Single White Female dan Beautiful Mind? Dan sudah pernahkah membaca novel Agatha Christie yang berjudul Tirai? Kini kutanya, sudah pernahkah menghadapi situasi dimana ketiga fenomena dalam film dan novel tersebut mixed ataupun beririsan dalam satu paket?
Bagi yang belum pernah menonton kedua film maupun membaca novel tersebut di atas, kuberitahukan sedikit gambarannya.
Single White Female adalah sebuah film yang menggambarkan kehidupan seorang perempuan yang mengalami depresi hebat dan obsessed dengan kehidupan seorang perempuan lainnya sehingga sang perempuan yang depresif ini meniru habis penampilan, cara hidup sang perempuan kedua. Tidak hanya meniru (copycatting) tapi juga sampai ingin memiliki kehidupan sang perempuan kedua.
Beautiful Mind menceritakan seorang ilmuwan jenius yang menderita schizophrenia, dimana dia memiliki kehidupan lain di luar kehidupan nyatanya. Dia sangat menghayati kehidupan khayalannya tersebut sehingga sulit baginya membedakan mana yang khayalan mana yang realitas, dan akhirnya dia mixed-up dengan kedua kehidupannya tersebut.
Tirai adalah salah satu masterpiece Agatha Christie dan juga novel terakhir dari kisah sepak terjang sang detektif jagoan, Hercule Poirot. Musuh Poirot dalam Tirai adalah musuh terbesarnya dan sekaligus mush terjeniusnya, sehingga membutuhkan nyawa Poirot sendiri untuk bisa menghentikan kerja si musuh ini. Ya, di dalam Tirai Poirot harus membunuh dirinya sendiri agar sang musuh tidak beraksi kembali. Kekuatan sang musuh bukan di kecerdasan intelektualnya (sehingga bisa merencanakan pembunuhan berantai dengan sempurna, misalnya) ataupun di keterampilan fisiknya. Musuh Poirot ini memiliki kecerdasan emosional yang sangat luar biasa dimana dia mampu mempengaruhi berbagai jenis orang dengan berbagai latar belakang sehingga orang tersebut bisa sangat membenci orang yang semula tidak dibencinya dan bahkan sampai melakukan pembunuhan keji. Sang musuh membunuh…tapi tidak dengan tangannya. Tidakkah itu hebat? Tidakkah itu berbahaya?
Nah, sekarang bayangkan ketiga fenomena tersebut mixed ataupun beririsan di dalam satu paket.
Uncategorized | Comment (1)playing god (2)
Kepada seseorang yang aku nggak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya.
Berawal dari terbukanya berbagai kebohongan dan topeng yang ternyata berlapis-lapis itu. Semula aku merasa prihatin sehingga kukatakan pada mereka apa yang bisa kami lakukan untuk menolongmu? Apa problemmu? Selintas terpikir bahwa ini adalah masalah psikologis. Sejenak aku menjadi maklum dan coba memahami.
Tapi ternyata kamu berkata bahwa ini kamu lakukan dengan sengaja…dengan sengaja kepada orang-orang yang menganggap dirimu adalah teman. Apa dosa kami kepadamu sehingga kami layak kamu perlakukan seperti itu?
Apakah memang demikian caramu? Kamu jadikan kami temanmu…kami ceritakan cerita-cerita kami kepadamu tanpa pretensi apapun, karena kita berteman. Tapi kamu berbohong, padahal kamu tidak perlu membuktikan apapun, paling tidak kepadaku. Kadang kamu berusaha men-devide-et-impera-kan kami. Seumur hidupku yang sudah 32 tahun ini, nggak pernah aku menemukan fenomena pertemanan semacam ini.
Aku jadi ingin bertanya, kamu anggap kami ini apa? Nama-nama yang ada di dalam gelas arisan? Yang bisa seenaknya kamu permainkan ketika nama kami keluar dari gelas…seperti hasil kocokan arisan? Kamu pikir kamu Tuhan?
Sore ini aku marah…karena aku tahu apa rencanamu selanjutnya, walaupun aku nggak tahu apa motifmu.
Uncategorized | Comment (1)playing god (1)
Kemiskinan absolute (absolute poverty) menurut para ekonom dunia adalah kondisi dimana orang hidup dengan uang kurang dari US$ 1 per hari atau kurang dari Rp.10 ribu per hari.
Beberapa bulan terakhir ini aku menjadi pelanggan setia KRL ekonomi untuk menuju tempatku beraktifitas di Bogor sana. Dan setiap hari pula kulihat apa yang disebut absolute poverty dalam kondisinya yang paling telanjang –-bukan berupa angka-angka atau grafik atau statistik di buku-buku laporan ekonomi dan pembangunan yang ada di kantor-kantor mentereng badan-badan dunia ataupun pemerintahan. Hampir setiap menitnya beragam manusia –-tuna netra, tak berkaki, tak bertangan, lanjut usia, balita, anak-anak, laki-laki, perempuan—lalu lalang di atas kereta yang sedang berjalan, menadahkan tangan berharap recehan dari para penumpang. Ada yang sambil menyanyi, ada yang sambil mengaji, ada yang dengan terus terang meminta belas kasihan.
Kulihat seorang ibu yang duduk tak jauh dariku, diulurkannya tangan memberi recehan yang dia miliki setiap kali para fakir miskin tersebut lewat. Sampai kemudian dia berhenti mengulurkan tangannya. Mungkin recehan di dompetnya sudah habis. Kupikir, pasti ibu ini bukan pelanggan KRL dan hanya sekali-kali saja atau baru pertama kalinya naik KRL.
Melihat ibu tersebut, aku teringat diriku sendiri bertahun yang lalu, ketika pertama kali aku ber-KRL ria. Apa yang kulakukan persis sama dengan yang dilakukannya. Fenomena tersebut, kalau boleh, kusebut fase pertama ber-KRL ria. Fase kedua ber-KRL ria adalah ketika kita seolah terbangun oleh kenyataan bahwa recehan kita terbatas…lalu kepada siapa harus kita berikan kelebihan rezeki yang sedikit ini? Kepada si nenek tuna netra…atau kepada bapak tak berkaki yang ngesot di lantai kereta? Sekejap aku merasa bagaikan Tuhan, yang berkehendak, yang menentukan…Dan sungguh aku nggak suka permainan ini. Fase ketiga adalah ketika train-ride ini menjadi suatu kebiasaan. Sebagaimana pepatah sering menyebutkan, practice makes perfect, maka ‘terbiasa’ pula kita melihat fenomena-fenomena di atas, walaupun kadang masih timbul apa yg temanku bilang sebagai butterfly in the stomach.
Apakah ini menandakan nurani kita sudah mati? Apakah ini menandakan bahwa kita sudah immune (kebal) sehingga pemandangan-pemandangan seperti itu menjadi nggak meaningful lagi? Hanya Tuhan yang tahu. Dan sungguh aku takut untuk mengetahui apa yang Tuhan tahu.
[fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara – UUD 1945]
Uncategorized | Comments (2)