more to ask for
what more would you ask for
if you have those arms
widely open and ready for hugs
on your coming back
what more would you ask for
if you have those pairs of shoulders
spared anytime you need
to lean and cry on
what more would you ask for
if you have those ears
listening to your grief
with no boredom
what more would you ask for
if you have those thoughts
following you where ever you go
sincerely pray for your happiness
what you would ask for more
is time and chances
to share those blessings
with the same manner as you get
Uncategorized | Comment (0)today’s reality slap
the veil was slowly dropped
before my eyes
putting me in this blindness
once again
and the mule has slipped
into the same hole
and she never learns
and she never learns
Uncategorized | Comment (0)spongebob philosophy
‘Hati ini seperti spongebob, dimana setiap orang yang kita sayangi memiliki tempat masing-masing di tiap-tiap lubang yang ada’. Statement cerdas yang keluar dari mulut seorang temanku ini membuat aku tercenung dan berpikir…wuih, daaalem nih. Statement ini juga telah dengan suksesnya memberikan cara pandang baru dan sedikit banyak memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan bodohku selama ini tentang a crazy little thing called l-o-v-e….ataupun memaknai suatu relationship –apakah itu pertemanan, persahabatan, kekeluargaan, kekolegaan, atau suatu hubungan yang orangnya hanya kita sebut sebagai ‘kenalan’.
Ketika kita bertemu dengan seseorang –bisa berlanjut sampai ke perkenalan maupun hanya melihat sepintas lalu—tiap orang yang kita temui pasti memberikan bekas di pikiran dan hati kita…seperti meteor yang jatuh ke bumi. Ada yang meninggalkan bekas hanya seperti guratan tipis ada pula yang sampai menimbulkan cekungan –seperti sponge—yang dalam. Dan setiap ingatan atas peristiwa, kejadian dll yang kita alami bersama orang tersebut menetap disana, di lubang-lubang itu.
Dan seringkali kita terlalu cepat mengambil kesimpulan…terutama bila kita sedang gandrung terhadap seseorang. Akibatnya, bertebaranlah kata-kata seperti yang ada di lagu-lagu Rinto Harahap….‘tak ada lagi yang lain di hatiku’….’hatiku hanya untukmu’…dll itu. Dan itu semua menjadi kehilangan relevansi ketika ditinjau dari sudut pandang spongebob philosophy. Bo’ong banget gitu lhoooo….Well, mungkin nggak bohong, tapi kita berpikir seolah-olah seperti itu. Jadi yang kita rasakan itu sebenarnya semu…pseudo-feeling. Tapi mungkin memang itu lah yang terjadi ketika si cupid kecil yang kurang kerjaan itu sedang menunjukkan bakatnya.
Cara kita memberi predikat kepada seseorang sebagai ‘kenalan’ atau ‘teman’ atau ‘sahabat’ atau ‘pacar’ atau bahkan ‘soulmate’ menunjukkan sebenarnya seberapa dalam lubang yang ditempati oleh orang-orang tersebut di belantara spongebobly-heart-and-mind kita. Dan semuanya menjadi masuk akal ketika kita mendengar teman-teman kita yang sudah memiliki pasangan hidup mengatakan ‘i fall in love with someone else’ (ooopppss….sori ibu-ibu dan bapak-bapak…this time I’m talking about you guys…hihihi…)….Masuk akal, spongebob-philosophically.
Aku memiliki keyakinan bahwa ketika kita memutuskan untuk berikrar ‘til death do us apart’ there must and will not be someone else. Dan well, lagi-lagi keyakinanku itu di-challenge….dan walaupun sampai saat ini aku belum berubah keyakinan, aku terbuka untuk membaca fenomena ini dari kacamata spongebob philosophy –dan mungkin siap-siap berubah keyakinan ;-))
Kadang dalam hubungan pertemanan pun tak semua orang yang kita sebut ‘teman’ mendapat perlakuan yang sama dari kita (ngaku aja deeeeh….). Atau sebaliknya, tak semua orang yang kita sebut ‘teman’ memperlakukan kita sama rata sama rasa dengan yang lainnya. Benar? Nah, disinilah berlaku bottom line di dalam spongebob philosophy.
Pertama, kita harus menyadari bahwa kita memiliki lubang kita sendiri –yang kita tak tau seberapa dalamnya– di dalam hati orang lain. So, don’t push our luck by asking more. Don’t try to get into someone else’s hole atau memaksakan diri menjadi bagian dari lubang lain where you might not fit in. For somebody, everybody has their own history. Respect others’ histories and you will be happy.
Kedua, sebaliknya, jangan paksa orang lain untuk pindah dari lubangnya. They have their own compartments, their comfort zones…Memindahkannya berarti mengkhianati sejarahnya. If they dig their holes deeper, then let it happen…but don’t ever give them the shovel. Let them decide free-willingly.
Ketiga, jangan takut untuk memiliki perasaan yang dalam terhadap banyak orang. Semakin banyak lubang di dalam hati kita, semakin luas hati kita. Seperti halnya Einstein. Menurut suatu penelitian yg pernah kubaca, otak si Eisntein ini kecil saja sebenarnya volumenya. Tapi kerutannya itu lhooo banyak betul, yang membuat luas permukaan otak Einstein jauh jauh lebih luas dari luas permukaan otak orang normal. Dan ternyata, luas permukaan otak lah yang menentukan tingkat kecerdasan seseorang. So, jangan biarkan otakmu mulus-mulus saja…dan jangan biarkan hatimu licin bagai pualam (tuuuhhh kan, lagu-lagu itu salah lagi…katanya kan hati yang baik itu yg bagai pualam). Itulah sebabnya ada istilah ‘narrow minded’ atau ‘open minded’….dan bukannya ‘smooth minded’.
Benar???
Uncategorized | Comments (2)coto, konro, dan goolagong
Kalau berkesempatan pergi ke Makassar, jangan lupa untuk singgah di Goolagong. Goolagong adalah tempat ngopi yang terkenal di Makassar, terletak di daerah Panakukkang. Disini kita bisa menikmati kopi susu yang nikmaaat sekali dan juga mencicipi penganan seperti serabi keju dan pisang goreng keju-coklat. Pokoknya yummy dan asyik untuk menghabiskan sore di kota yang panas ini.
Alasan lain yang membuat Goolagong istimewa adalah suatu kenyataan bahwa tempat ini jadi tempat hang-out segala lapisan di Makassar…mulai dari orang biasa, wartawan, politisi, aparat pemda, anggota DPRD dan bahkan mungkin intel ;-)) Ingin tau cerita di balik layar dari peristiwa yang terjadi di Sulsel? Atau ingin tau apa yang akan terjadi di Makassar besok? Datanglah ke Goolagong.
Panasnya kota ini tak mencegah orang-orang disini untuk terus mengkonsumsi makanan kebanggan mereka yang…ehmmm….berkolesterol tinggi. Coto Makassar, sop konro menjadi santapan yang tak dapat ditinggalkan dan menjadi suatu hal yang wajib hukumnya untuk dinikmati orang luar yang datang ke Makassar, seperti aku. Dan oke-nya lagi ternyata coto makassar itu bagi mereka adalah hidangan brunch…Bayangkan, menyantap daging-jeroan pada jam 9 atau 10 pagi….Nyam-nyam…
Tepatlah kalau kubilang Makassar bisa dijadikan salah satu daerah tujuan wisata kuliner. Banyak sekali jenis makanan enak disini…baik makanan serius maupun makanan kecilnya. Dan sepulang dari Makassar bersiap-siaplah untuk berolah raga….menurunkan kadar kolesterol yang bisa dipastikan akan meningkat. Memang….untuk kenikmatan, selalu ada harga yang harus dibayar ;-))
Uncategorized | Comments (2)fidelity trap
Sometimes you feel soo tired and you want to stop…to give it a break…to pause…what ever you want to call it. But it turns out to be the opposite……and you go deeper and deeper and you just can’t help it. It’s not because you are carried away…it’s not because you’re unconscious about what you’re doing. Here I am talking about the cause. Your cause of working. Things that make your life worth living. It may sound scary or too much…but do you know what’s your mission in life?
I remember while in college (one of the best period in my life), involved in an inspiring community, we often discussed about what my friend called ‘fidelity trap’ (Ehmm…this is just my absolute liberty in translating ‘jebakan kesetiaan’). Fidelity to what…we couldn’t really define it. We just felt that we wanted to achieve something or didn’t want to lose something –well, many things– that we worked on together. We just didn’t want to lose the consequences of that work…which were for me ‘feeling great’. As simple as that –if I may say.
So…skipping classes, the cold midnight practices, long-lasting discussions, falling asleep in class, adrenaline-boosting report writing moments, one-night-study for exam….they were all just worth it. They were just relevant…made you got angry when people questioned your ‘hyperactivity’…or questioned your being irresponsible to your parents ;-)) Yes…B or C grades are one of the trade-offs ;-)) …although some friends of mine were ingenious enough to have As on their exam sheets, or a ‘cum laude’ written on their certificate despite all those activities. But finally it depends on your parents expectations and how you present your results to them so that somehow it meets their expectations heheheh…You can say for example ‘Well, I am not an A student…but my grades are not bad either. And in addition (don’t forget to emphasize this hihihi..), I graduate on time (or in time –before you’re kicked out) and have a lot of friends (or fiancé or boy/girl friend) as bonus’ ;-)) Everybody’s happy, case closed.
In real life, similar situation happens. The time you find the place where you fit in or you feel that you belong to something….there comes the ‘fidelity trap’. Beware of this, but it’s nothing to avoid as long as you know WHY you let yourself trapped. Then here comes the cause. Somehow –in my opinion– you have to define your cause…no matter how unimportant you think it is. You might find it useful when you feel boredom or tired….or down because you feel that all you’ve done contribute very very small –if not nothing– to changes that you expect to see. It helps you to stand up again and continue whatever you have started.
Once you have defined your cause, it’s also important –again I think– to decide where your ‘battle ground’ is. My two thumbs up to a friend that said firmly…my battle ground is here with my family. She took for granted her prestigious masters degree and let go her bright-future career. Her mission, her cause, is raising her two sons –God’s gifts– in the right way. Her trade-off is beyond life….it’s heaven. All nitty-gritty of raising children is just worth it. For her, all her ‘sacrifices’ –although I’m sure she won’t call it like that— is just relevant. And when questioned why she let go all her accomplishments, she can cheerfully respond ‘why not?’
And God bless those who know what they do.
Uncategorized | Comment (0)a prayer for the apples
Untuk kesekian kalinya Tuhan, aku jatuh cinta. Tiap cinta yang kurasakan kuanggap anugerah. Tiap cinta yang kurasakan berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, demikian pula pengalaman yang menyertai. Satu saja kesamaannya, kuberikan hatiku sepenuh-penuhnya pada orang-orang yang kucinta. Kuberikan cintaku sedalam-dalamnya tanpa reserve. Anehnya, tak habis-habisnya cinta itu Tuhan. Ketika mereka pergi Kau kembalikan lagi hatiku seperti semula. Kau utuhkan lagi cintaku seperti sedia kala. Sungguh Tuhan, I feel soo blessed. Tak pernah aku takut jatuh cinta Tuhan dan tak takut pula aku kehilangan. Yang kutakut adalah bila aku tak bisa lagi jatuh cinta. Yang kutakut adalah bila hidup ini mulai kuanggap biasa saja. Dan yang paling kutakuti adalah bila kutinggalkan hidup ini dalam keadaanku tak mencinta.
[for the apples around the world --SM, TG-- love u...]
Uncategorized | Comments (4)moment of truth part 2
That moment was a sudden turning point for me. For some tenths of second time just stopped…everything was frozen….and I felt like being photographed with a very bright flashlight…I felt like I was shown a rapid flashback of my life rolled before my eyes and I felt that I was awakened from a half-dream state that had occupied me all this time. All of a sudden everything became crystal clear. It was like a veil was just being taken away so that I can see things in a totally different point of view. The same phenomena but this time they had different meaning. And what I can say was just ‘w-o-w’….what have I been into?
That very moment, I felt for the first time in the last couple of months that I am a free individual. I was not jailed by my past time and not burdened with the future. That very moment I felt a true freedom…a ready-to-let-go-anything-anyone kind of feeling. And I’m through, just like that…
As I walked out of that place that night I felt like walking on the moon…smiling a different smile. And unusually, my friend sent me a text –maybe both of us have a kind of remote connection heheheh– just in time for me to share this sound-like-crazy experience. The reply was ‘weird…but it might be good for you’. Just a perfect reply.
Uncategorized | Comment (0)