illiterate

July 3rd, 2005

Illiterate. Satu kata itu mungkin bisa menggambarkan situasi yang kuhadapi saat ini. Aku berusaha membaca satu chapter dalam buku kehidupanku. Bab yang cukup penting karena efeknya yang cukup besar mewarnai kehidupanku.

Ini mengingatkan aku pada keadaan ketika aku berusaha membaca bukuThe Brief History of Time karangan Stephen Hawking pada saat aku kuliah dulu. Aku membaca kata demi kata dari buku tersebut, tapi kata demi kata itu hanya lewat tanpa makna. Aku harus membacanya lagi dan lagi satu kalimat yang sama untuk bisa memahami apa yang Mr. Hawking maksud. Sampai kemudian aku memutuskan untuk menghentikan usahaku memahami pemikiran-pemikiran Mr. Hawking dan menyimpan The Brief History of Time di lemari bukuku sampai batas waktu yang tidak ditentukan –sampai aku punya cukup pengetahuan dan keberanian untuk menghadapi challenge yang sama. Pada saat itu, Mr. Hawking’s book was just too damn sophisticated for my slightly-above-average level of IQ.

Begitulah chapter buku kehidupan yang sedang kubaca saat ini. Halaman demi halaman terbuka lebar, tapi untuk memahaminya secara benar aku harus bisa mengeja huruf demi huruf, membaca kata demi kata dengan intonasi yang tepat dan memahami benar tanda baca-tanda bacanya. Bagaikan orang buta huruf yang baru belajar membaca. Tak cukup sekali, kalimat yang sama harus kubaca ulang, kucerna agar aku mengerti benar apa yang kubaca, agar tepat kesimpulan yang kuperoleh, dan selanjutnya agar akurat keputusan yang harus kuambil –apakah melanjutkan membacanya atau kulewati saja chapter tersebut, seperti nasib The Brief History of Time.

Membaca buku kehidupan tentu saja berbeda dengan membaca buku konvensional. Seperti kata seorang fasilitator andalan yang kukenal, manusia –dengan segala sifat dan perilakunya—adalah teks hidup yang harus kita baca dan kita pahami. Tidak mudah dan sangat menantang memang, terutama bila kita berharap cerita dalam chapter tersebut seperti yang kita mau. Padahal manusia adalah makhluk yang kompleks. Berempati saja ternyata tidak cukup.

Pengalaman di atas mungkin tidak akan luar biasa jika saja teks hidup yang berusaha kita pahami tersebut tidak memberikan efek kepada kita. Keadaan menjadi luar biasa ketika pengaruh yang ditimbulkannya sedemikian, sehingga kita merasa stucked at one point. Buntu. To get over it, hanya ada 2 pilihan —terus berusaha memahami sampai kita dapat jawaban yang memuaskan, atau tinggalkan saja. Tiap pilihan tentu membawa konsekuensinya masing-masing dan apa pun itu kita harus siap menghadapinya.

Saat ini aku sedang berada di persimpangan itu. Belum kuputuskan pilihan apa yang akan kuambil. But life goes on….jadi harus segera kutetapkan pilihan, dan sekaligus siap-siap menghadapi konsekuensinya.

malam minggu, jam sepuluh tiga puluh

July 3rd, 2005

Malam minggu, jam sepuluh tiga puluh. Di Jakarta jalanan masih macet, maklum, kata orang malam minggu malam yang panjang. Ribuan orang Jakarta keluar dari rumah, mencari tempat-tempat untuk bersantai dan meredakan stress setelah bekerja keras lima hari sebelumnya.

Aku rasa orang Jakarta so stressful sehingga kehilangan akal sehatnya —rela menjalani stress bermacet-macet ria demi bersantai. Ironis. Kontradiktif. Sama ironisnya dengan logika pemerintah Amerika Serikat yang memutuskan untuk menyerang Irak, yaitu untuk menciptakan perdamaian. Bayangkan, menciptakan perdamaian dengan berperang…..

Malam minggu, jam sepuluh tiga puluh. Duduk aku di dalam mobil ber-ac bersama teman-temanku di tengah jalan yang tidak berbeda macetnya dengan hari-hari kerja. Tertawa sendiri aku dalam hati…what am I doing here? Mungkin aku juga termasuk golongan orang-orang yang mulai kehilangan akal sehatnya, yang rela bermacet-macet ria untuk bersantai.

Sampai saat ini belum kudapat logika pembenar dari apa yang kulakukan malam tadi. Dalam hidup, mungkin memang ada hal-hal yang tidak harus atau tidak perlu dilogikakan. Benar???