blowxercise

July 30th, 2005

Tawaran untuk ikut lagi di urusan tiup meniup yang sudah kutinggalkan 8 tahun yang lalu ternyata meningkatkan motivasiku untuk berolah raga. Berkumpul lagi dengan anak-anak (well, sekarang udah pada jadi bapak-bapak dan ibu-ibu) mantan cingbarane tutekdung ;-)) selalu menyenangkan dan membuat kita selalu merasa muda. Walaupun sudah beranak pinak, kegaliaannya (btw, ini bukan salah tulis dari ‘kegilaan’ lho….tapi berasal dari kata dasar galia…Memang sih antara galia dan gila itu beda-beda tipis hihi..)…sekali lagi, kegaliaannya tetap terpelihara dengan baik…plok..plok..plok…salut…salut.

Sewaktu temanku menyodorkan mouthpiece untuk dipasangkan di trumpet yang harus kutiup…sempat juga ada rasa deg-deg-an. Maklum, udah lama nih gak berciuman dengan si mouthpiece dan untuk ini gak ada teorinya…harus pakai perasaan ehmmm…Takut juga kalau suara yang keluar Brrrrooothhh…atau Pprrreeetttt…atau Hoooshhh (yang ini artinya yang keluar cuma angin alias nggak ada suaranya). Malu dong, gini-gini kan aku pernah juga tampil di Jak Jazz bersama the galia (hue..he..he..remember that time guys?).

So, sambil berdoa dalam hati, kutiup lah si trumpet…Nekat aja lah, paling-paling diketawain sama yang lain….toh diketawain itu adalah sebagian dari iman bergalia. Dan untungnya, bunyi yang keluar cukup senonoh dan nggak malu-maluin (mohon maaf, bunyinya tidak bisa aku tuliskan disini).

Seperti biasa, latihan berjalan dengan serius tapi santai. Rencananya kami mau manggung dan untuk itu kami harus melatih lagi lagu-lagu yang dulu pernah kami mainkan. Daaan, proses itu berulang. Partitur dibagikan dan masing-masing harus menerjemahkannya ke dalam bahasa yang dimengerti (baca: not angka). Memainkannya pun dengan mengeja. Maklumlah, kami ini bukan musicians, tapi a bunch of engineers that love to play musical instrument (heheheh…alasaaaaan aja!) and love to have fun —ini siiih alasan sebenarnya. Ini juga alasan utama kenapa banyak diantara kami yang kemudian jadi die-hard-nya cingbarane, atau istilah seorang temanku ‘terjebak kesetiaan’ hihi..

Lalu bagaimana pengalaman rohaniku memainkan lagu pertama setelah 8 tahun absen? Ini dia….ketika memainkan satu lagu, sempat lupa juga aku fingering-nya…juga aku harus mengenal kembali bunyi nada-nadanya —ini Do atau Sol ya??? Satu hal lagi yang harus kutingkatkan…nafas. Ternyata, lama tak berlatih membuat stamina dan nafas jadi pendek. Gawat…masa’ niup satu bar satu nafas aja nggak bisa?

Soooo, kembali kuingatkan diriku…besok pagi olah raga ya…




Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind