blowxercise
Tawaran untuk ikut lagi di urusan tiup meniup yang sudah kutinggalkan 8 tahun yang lalu ternyata meningkatkan motivasiku untuk berolah raga. Berkumpul lagi dengan anak-anak (well, sekarang udah pada jadi bapak-bapak dan ibu-ibu) mantan cingbarane tutekdung ;-)) selalu menyenangkan dan membuat kita selalu merasa muda. Walaupun sudah beranak pinak, kegaliaannya (btw, ini bukan salah tulis dari ‘kegilaan’ lho….tapi berasal dari kata dasar galia…Memang sih antara galia dan gila itu beda-beda tipis hihi..)…sekali lagi, kegaliaannya tetap terpelihara dengan baik…plok..plok..plok…salut…salut.
Sewaktu temanku menyodorkan mouthpiece untuk dipasangkan di trumpet yang harus kutiup…sempat juga ada rasa deg-deg-an. Maklum, udah lama nih gak berciuman dengan si mouthpiece dan untuk ini gak ada teorinya…harus pakai perasaan ehmmm…Takut juga kalau suara yang keluar Brrrrooothhh…atau Pprrreeetttt…atau Hoooshhh (yang ini artinya yang keluar cuma angin alias nggak ada suaranya). Malu dong, gini-gini kan aku pernah juga tampil di Jak Jazz bersama the galia (hue..he..he..remember that time guys?).
So, sambil berdoa dalam hati, kutiup lah si trumpet…Nekat aja lah, paling-paling diketawain sama yang lain….toh diketawain itu adalah sebagian dari iman bergalia. Dan untungnya, bunyi yang keluar cukup senonoh dan nggak malu-maluin (mohon maaf, bunyinya tidak bisa aku tuliskan disini).
Seperti biasa, latihan berjalan dengan serius tapi santai. Rencananya kami mau manggung dan untuk itu kami harus melatih lagi lagu-lagu yang dulu pernah kami mainkan. Daaan, proses itu berulang. Partitur dibagikan dan masing-masing harus menerjemahkannya ke dalam bahasa yang dimengerti (baca: not angka). Memainkannya pun dengan mengeja. Maklumlah, kami ini bukan musicians, tapi a bunch of engineers that love to play musical instrument (heheheh…alasaaaaan aja!) and love to have fun —ini siiih alasan sebenarnya. Ini juga alasan utama kenapa banyak diantara kami yang kemudian jadi die-hard-nya cingbarane, atau istilah seorang temanku ‘terjebak kesetiaan’ hihi..
Lalu bagaimana pengalaman rohaniku memainkan lagu pertama setelah 8 tahun absen? Ini dia….ketika memainkan satu lagu, sempat lupa juga aku fingering-nya…juga aku harus mengenal kembali bunyi nada-nadanya —ini Do atau Sol ya??? Satu hal lagi yang harus kutingkatkan…nafas. Ternyata, lama tak berlatih membuat stamina dan nafas jadi pendek. Gawat…masa’ niup satu bar satu nafas aja nggak bisa?
Soooo, kembali kuingatkan diriku…besok pagi olah raga ya…
Uncategorized | Comment (0)c’est la vie
have been thru’ the whole cycle
it finally ends, surprisingly
and god…, what a joke
thanks…
Uncategorized | Comment (1)screamxercise
Ancol. Lebih sudah satu tahun berlalu sejak terakhir kali aku menginjakkan kaki di tempat wisata terpopuler di Jakarta ini. Ancol sekarang makin ngejreng dan nampaknya makin kuat memposisikan diri sebagai tempat piknik keluarga nomor satu di Jakarta. Di Ancol juga ada Dufan yang katanya beda-beda tipis dengan Disneyland. Minggu lalu kembali aku datang ke Dufan, kali ini untuk mengantarkan seorang temanku yang datang dari jauh yang ingin tau tempat piknik orang Jakarta.
Bergeraklah kami ke Dufan. Sejak dari loket pembelian karcis temanku sudah geleng-geleng kepala…lima puluh ribu rupiah…dia bilang ’mahal ’kali orang Jakarta mau piknik’. Memasuki pintu gerbang, temanku cuma senyum-senyum saja. Sesekali dia menggeleng-gelengkan kepala atau mengangguk-angguk. Entah apa yang ada di pikirannya.
Setelah makan siang, bergerak kami ke salah satu arena sport jantung yang pertama –-perahu ayun kora-kora. Aku selalu cukup pe-de untuk arena ini dan kurasa jantungku pun masih cukup kuat. So, dimulailah petualangan kami. Teriakan demi teriakan keluar dari tenggorokanku –seperti ’penumpang’ yang lain juga– dipermainkan oleh gravitasi. Sementara itu kulihat temanku duduk dengan manisnya di sebelahku. Satu pun suara tak keluar dari mulutnya. Selepas diayun-ayun, aku merasa capeeeeek luar biasa….exhausted. Rasa lelah yang tak pernah kurasakan sebelum-sebelumnya. Wah, kaget juga….am I too old for this? Is there something wrong with my body? Ternyata temanku bilang, dia kaget juga mendengar aku sooooo histerical…well, understandable…itu bukan aku yang biasa dia kenal selama ini…..heheheh…
Kemudian, bergerak kami ke permainan selanjutnya. Kali ini kami cuma menonton saja anak-anak ABG yang sudah putus urat takutnya sedang mencoba permainan ’kincir angin’. Di permainan ini, kita duduk sendiri-sendiri di kursi yang kemudian diangkat dan diputar-putar…dibolak-balik…kaki di kepala, kepala di kaki (kata Peter Pan hihi..). Lebih setahun lalu aku pernah dengan tak sengaja mencoba permainan ini. Saat itu aku tak tau, karena ini memang arena baru. Dengan santainya aku duduk….dan sumpah…tak berniat aku mencoba lagi permainan ini. Saat itu, sepanjang permainan aku hanya bisa memejamkan mata dan berteriak sejadi-jadinya…sambil mengutuk-ngutuk di dalam hati kebodohan dan kesoktahuanku. Sambil bernostalgia, kupandangi anak-anak ABG yang juga berteriak-teriak…sambil tertawa-tawa…..ck..ck..ck…kagum aku sama mereka.
Lalu kami bergerak ke arena ’halilintar’ atau roller coaster. Sekali lagi, kami cuma menonton saja sambil tersenyum-senyum simpul. Seketika perutku mulas, teringat pengalamanku duluuuuu sekali mencoba permainan ini. Disinilah pertama kalinya aku merasakan secara harfiah yang disebut ’jantungku copot’.
Dari sekian banyak arena yang ada, tak banyak yang kami coba. Entah lah…yang jelas rasa lelah yang luar biasa ini ditambah antrian yang cukup panjang di berbagai arena….cukup mempengaruhi antusiasmeku. Kurasa aku perlu banyak berolah raga. Teringat aku resolusi tahun baru yang kubuat di awal tahun ini. Salah satunya, janji kepada diri sendiri untuk lebih giat berolah raga agar badan sehat dan jiwa sehat…..mens sana in corpore sano….cieeee. Sampai saat ini belum kupenuhi janji itu. Seiring kutinggalkan dunia fantasi, kuperbarui janjiku untuk rajin berolah raga kembali ;-)) Semoga Tuhan memberkati.
Uncategorized | Comments (2)to read or not to read, that’s not the question
The more I read the more confused I am, the more hypocrite I become. In life we have principles that we hold. The norms that has formed the corridor for us in doing things. It can be from our family values, religion, social norms etc etc. We are binded to it. Although there’s no such punishment we will get if we break it, we will surely follow the unwritten rules.
Most of the times the reason why you hold the principles is because you are told or you are taught or your society requires you to do so. You hold it so strong and believe it so much you are sure there is no way that you can break it…until you are contested…until you are dropped in such a situation that makes you feel that you are pushed to the corner. Friends, you never know how strong you are until you get punched on your stomach….. you never know how patient you are until you get slapped on your face….you never know how weak you are until you’re unconsciuously carried away and suddenly find yourself in that corner. And it makes you think HARD.
When you read a book –especially a really really good one—you can be easily carried away. You cry, you smile, you laugh, you’re angry….but you have to realize that it is just a book. When the story finally ends and you turn the last page then you realize that it is not real. Suddenly you are awaken by the reality slap. Heyyy, waaake uuuuppp!!!!
Apparently, reading a book is not as easy as it seems, yes? Then what can we do? Well I suggest, first, keep on reading –especially if it’s a worth reading book and you believe that there will be things that can do you good…like my friend said— with full…I mean FULL consciousness that finally it will end. You will cry, you will smile, you will laugh but you will not be carried away. Well, actually, you can’t let yourself be carried away…out of the corridor. Second, be prepared. You’re a human being…you can be slipped on the way. So, always keep a bandage ;D. Third, don’t sweat and take it easy (yes, I know…it’s easier to say than to do). Remember, reading is fun and help government’s program (hihihi…). Fourth, remember your mom’s face (or your sister’s…heheheh)…if you’re carried away.
Uncategorized | Comment (1)
how far d’you want to go
When you decide to unleash yourself, reveal what was hidden…how far do you want to go? Realizing that you’re going to go out of your nutshell, your comfort zone….it is quite a decision. For me it’s one lesson of life. It’s more on how you deal with yourself than with others. It’s the ultimate admission of your being yourself. Meeting face to face with the real yourself with all the complexity of being a human being…can you face that? Can I face that?
Uncategorized | Comment (1)menjadi tamu di negeri sendiri
Kemarin, Mahkamah Konstitusi RI akhirnya memutuskan menolak judicial review masyarakat atas UU NO.7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air yang membawa agenda privatisasi dan komersialisasi air –yang dulunya dipercaya sebagai barang publik dan barang sosial alias non-komersial dan tidak bisa dimiliki oleh siapapun. Walaupun ada dissenting opinions dari 2 orang hakim MK yang meminta pembatalan UU tersebut, namun ketujuh hakim lainnya memutuskan bahwa UU No.7/2004 tetap berlaku.
Sejak pertama kali Belanda datang ke Nusantara di tahun 1596 dan kemudian VOC –korporat dagang Belanda– di tahun 1602, Nusantara yang gemah ripah loh jinawi ini memang sudah diposisikan sebagai suplier raw material bagi perkembangan industri dan perdagangan di negara-negara utara sana. Sampai hari ini posisi tersebut tidak berubah. Nusantara –seperti halnya negara-negara ex-koloni lain yang kaya sumber alam– tetap jadi periphery bagi proses industri dan pelipatgandaan kapital di center sana.
Saat ini peran Nusantara juga bertambah, yaitu menjadi konsumen bagi produk-produk hasil industri di center yang notabene raw materialnya dari sini juga. Ironis kan? Dengan jumlah penduduk yang lebih dari 200 juta Nusantara adalah potensi bagi pemasaran produk. Untuk itulah sebenarnya pemerintah tidak perlu khawatir dengan pertumbuhan ekonomi karena sebenarnya kondisi pertumbuhan ekonomi itu ‘dijaga’ oleh para dewa di center agar masyarakat Indonesia punya daya beli yang cukup dan terus mengkonsumsi barang-barang. Alih teknologi cuma jadi isapan jempol dan janji manis investor asing karena tentu mereka tidak rela orang sini jadi bisa memproduksi barangnya sendiri dan melepaskan ketergantungan dari mereka.
Dan pemerintah yang memerintah Nusantara terus dimabukkan oleh mantra pembangunan ekonomi yang raw-material-export-oriented yang katanya cepat mendatangkan devisa dengan mengabaikan hak-hak warga negaranya sendiri. Bayangkan saja, Nusantara yang katanya kaya minyak dan gas harus mengalami krisis dan warganya harus antri untuk dapat minyak.
Bukan hal yang aneh kalau 2 atau 3 tahun dari sekarang akan kita lihat tanker-tanker berseliweran di perairan Nusantara….bukan bawa minyak, tapi bawa air yang disedot dari sumber-sumber air milik rakyat Nusantara. Dan setelah minyak habis, maka Nusantara akan jadi salah satu exporter air terbesar di dunia dan mungkin nantinya akan ada OWEC (Organization of Water Exporter Countries) instead of OPEC, karena pemerintah masih saja terbuai dengan mantra export-led economy dan senang menjadi yang ter- di dunia….mental megalomaniac. Mungkin 10 tahun dari sekarang akan kita lihat orang antri untuk mendapatkan air. Mungkin 10 tahun dari sekarang kita akan dengar Presiden mengumumkan di televisi, menghimbau seluruh rakyat untuk tidak mandi dan minum air cukup 3 gelas saja (yaitu setiap habis makan) demi gerakan penghematan air.
Uncategorized | Comment (1)the reading continued
So I decided to continue my reading. At one time I felt that it’s not worth doing and tempted to just close the chapter and move on with the new one. But piece by piece of things that I didn’t want to know were dropped right before me. Bit by bit of details were revealed like a new light in the middle of a long deep tunnel. Things that make my curiosity arisen and make me revisit my previous decision. That is the chance that I have to take. It’s now or never.
There were many unfinished chapters in my life book, leaving behind footprints of question mark along the way –those what-if things that I can’t possibly get rid of. I have decided that I am not going to make this chapter another unfinished business.
Some friends said it’s useless, it’s just a waste of time. I thought it is so. But I want to give it a try. I can not lose more. If I have nothing to put on the table what will I lose anyway.
Uncategorized | Comment (1)berhiber
BERHIBER adalah slogan kota Bandung, yaitu kependekan dari Bersih, Hijau dan Berbunga. Aku nggak tau entah itu memang cita-cita pemerintah daerah kota Bandung atau hanya sekedar ikut trend bikin slogan untuk kota-kota seperti yang sering terjadi di awal-awal tahun 1990-an. Yang jelas sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di Bandung beberapa belas tahun yang lalu hingga kemarin saat aku berkunjung kesana kata BERHIBER itu tidak pernah menjadi kenyataan.
Aku takjub melihat kota Bandung sekarang. Dulu, walaupun tidak terlalu hijau, masih banyak kita jumpai pohon-pohon besar dan rindang, terutama di daerah Dago bawah. Tapi sekarang, pemandangannya sungguh berbeda. Entah dari mana inpsirasinya, tiba-tiba melintang jalan layang beton melintasi Jalan Juanda (atau lebih ngetop sebagi Jalan Dago). Sama sekali nggak match dengan image Bandung yang sudah terlanjur menempel di kepalaku sebagai kota pelajar dan tempat tinggal yang rimbun, sejuk, penuh bangunan tua peninggalan jaman Belanda. Seolah-olah Bandung yang sekarang ingin diwujudkan (entah oleh siapa) adalah Bandung yang metropolis. Mungkin jalan layang itu corner stone untuk memulainya.
Bagi orang yang hanya sekali-sekali menginjakkan kaki di Bandung dijamin akan selalu kebingungan menemukan jalan-jalan di Bandung yang sering berubah. Sekarang banyak sekali jalan yang satu arah. Dulu sih memang sudah banyak jalan di Badnung yang satu arah. Sekarang…..bahkan lebih banyak lagi. Perubahan yang semula dimaksudkan untuk mengurangi kemacetan ini ternyata tidak memecahkan masalah, terutama pada saat weekend dimana banyak orang Jakarta yang saking stressnya rela menghabiskan berjam-jam di jalan dan bermacet-macet ria di Bandung demi bersantai hi..hi..hi…(Blame on the Jakartans!!).
Belum lagi banyak rumah-rumah tua yang sekarang sudah berubah bentuk –dimodernisasi– menjadi rumah-rumah bergaya arsitektur terkini, postmo, yang ujung-ujungnya dijadikan factory outlet (baca: tempat belanja para pemuja merk yang ingin bayar lebih murah he..he..he..). Kalau di tahun 1980-an jalan Cihampleas jadi tempat yang wajib hukumnya untuk didatangi oleh orang-orang non-Bandungers, sekarang bertebaran ef-o yang bisa jadi pemuas hasrat belanja. Masih ingat aku di awal 90-an baru ada satu-dua ef-o di Bandung yang sering dijadikan rujukan sebagai tempat belanja yang ‘cool’. Trend per-ef-o-an ini pun kemudian menyebar ke Jakarta dan kota-kota lainnya, seperti Bogor.
Bandung sekarang juga tidak sedingin dulu. Kalau ini aku tak tau apa penyebabnya. Mungkin penduduknya yang sudah terlalu padat, mungkin juga sudah terjadi perubahan iklim lokal akibat efek rumah kaca setempat yang dipicu polusi udara. Lokasi Bandung yang berada di cekungan bisa jadi berpengaruh mempercepat terjadinya hal tersebut…who knows…
Tapi despite all those things, ada satu hal yang selalu membuat aku kagum kepada Bandung. Diakui atau tidak, suka atau tidak, Bandung sering menjadi trend setter. Entah itu musik, fashion, makanan, shopping-style, atau pun club-club hobby. Seperti malam minggu yang lalu, di sepanjang Jalan Dago kulihat berderet vespa-vespa dengan berbagai warna dan lukisan-lukisan semacam mural. Satu diantara vespa gaul tersebut terpampang sanduk kecil bertuliskan nama club atau perkumpulan penggemar vespa tersebut. Anak-anak Bandung memang dikenal kreatif dan ekspresif dan hal ini didukung juga dengan banyaknya tempat-tempat nongkrong anak muda sebagai tempat mereka menyalurkan bakatnya.
Bandung, memang hebring euy!
Uncategorized | Comments (2)pps
Suatu sore, ada yang bertanya padaku apakah saat ini aku mengalami post power syndrome. Dua detik terdiam aku dan berpikir…apa iya aku mengalami pps??? Kujawab…mungkin –karena aku sendiri tidak tau persis apa indikator dari post power syndrome.
Keluar dari komunitas dimana aku selama tujuh tahun lebih belajar menyusun bata demi bata untuk membangun bangunan mimpi tentang dunia yang lebih baik tentu saja bukanlah hal yang mudah, especially when there’s still unfulfilled dream. Tapi ini adalah pilihan hidup. Dan menetapkan pilihan adalah the essence of life.
Menetapkan pilihan adalah juga politik. Personal is political. Memilih untuk tidak memilih adalah politik. Memilih untuk bermain diantara pilihan-pilihan yang ada pun politik. Tidak ada yang salah, tidak ada yang benar. Tergantung tujuan kita. Dalam politik, kata orang, yang abadi hanyalah kepentingan. At the end of the road, bagiku, pelajaran yang paling utama adalah pelajaran tentang mengenal lebih dalam orang-orang yang kukenal, memahami cara berpikir mereka, dan belajar how people do politics.
Kembali ke soal pps….nampaknya aku harus lebih merefleksikan kembali apa yang sedang kulakukan saat ini. Seperti kata temanku, terkadang niat baik dan hal-hal yang kita pikir baik kita lakukan tidaklah cukup. We deal with h-u-m-a-n….God’s most complex creature. Antara aksi dan reaksi terkadang tidak nyambung…..ada persepsi, opini, dan lain-lain yang tersimpan rapi di dalam backmind memori kita yang outputnya sering tak terduga.
Taking some distance…mungkin itu yang akan kulakukan. Doing things that are totally different. Mungkin akan ada problem dengan ekspektasi yang sudah terlanjur dilontarkan, but we can not make everybody happy. The least I can do is making sure that I have peace of mind and making myself happy. Seperti yang pernah kubilang pada seorang temanku (ha..ha..ha…look who’s talking!! itulah ganjaran bagi orang-orang yg suka sok menasehati –kena tulah dari omongan sendiri) –life is just too short to be wasted with misery you created to yourself.
Uncategorized | Comment (1)to whom this may concern
Belum pernah aku menemukan dan mengenal seseorang yang menyerupai teman baruku ini. Dia memang sangat unik dan menurut pengakuannya sendiri –entah benar entah tidak– ibundanya sendiri mengatakan bahwa di dunia ini hanya ada satu orang yang seperti dia, yaitu dia sendiri. Terlepas dari itu statement GR-nya dia (sori cuy….) aku harus akui memang dia nggak ada duanya.
Pertemuan kami diawali dari suatu cobaan yang harus dialami oleh suatu komunitas baru yang mana aku termasuk di dalamnya. Kehadiran dia bagaikan energizer yang menghidupkan semangat kami dan juga selalu mengingatkan kami bahwa there will always be tomorrow. Energi positifnya yang seperti tak terbatas itu merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kami semua dapat bertahan menghadapi deraan ketidakpastian situasi dan me-recharge baterai-baterai kami yang sudah mulai low.
Terus terang aku tidak terlalu dekat dengannya, sebagaimana juga aku dengan yang lainnya….karena memang sifatku yang agak lambat untuk bergaul akrab dengan orang yang baru kukenal. Tapi dia such a great ice breaker…..dikala aku atau yang lain sudah mati gaya atau hang, dia selalu bisa menghidupkan suasana. Kata anak sekarang, ‘gak ada matinya deh….
Sependek pengetahuanku (well, belum satu bulan aku akrab dengan dia) dia juga orang yang sangat berdedikasi kepada pekerjaannya dan juga bertanggung jawab. Sampai tengah malam bahkan sampai pagi pun dijalaninya agar pekerjaannya selesai. Dia tetap cool walaupun kadang bosnya lagi bete’ habis (sori pak bos..). Belum lagi ketaatannya pada tanggung jawab ritualnya sebagai muslim. Tak lepas lima waktu dijalaninya.
Tapi aku jenis orang yang sering penasaran: what’s beneath the surface? He’s perfectly cheerful, too perfect even. Aku jadi bertanya-tanya, mungkinkah ada orang yang sedemikian tak ada bebannya? Mungkinkah ada orang yang selalu bahagia…dan punya energi yang sebegitu dahsyatnya –yang self-induced, dan bahkan meradiasikan kebahagiaan itu kepada orang lain……every single second? Tidakkah dia lelah? Pernahkah dia merasa kesal? Marah? Jika itu terjadi, bagaimana caranya menghandle itu?
What’s your secret, buddy? I would like to learn…..
Uncategorized | Comments (2)