not yet recovered
saat hadirnya
melekat di ingatan
menguasai perasaan
membekukan pikiran
mengkonsumsi seluruh energi hidup
menyerah
pasrah
biarkan waktu
laksanakan tugasnya
[...............thought i am recovered, i am not]
Uncategorized | Comment (0)hukum cambuk, judi, korupsi, dan ‘buruan cium gue’
Hari Jumat minggu yang lalu di Bireun, Aceh, dilakukan pelaksanaan hukuman cambuk oleh Mahkamah Syari’ah Aceh bagi beberapa warga yang kedapatan melakukan perjudian. Aku bukanlah orang yang ahli di bidang agama Islam sehingga aku tidak bisa bicara sah atau tidaknya hukuman tersebut dari kacamata hukum Islam. Namun satu yang jelas, rasa keadilanku tergelitik melihat fenomena tersebut.
Bukan rahasia lagi kemungkaran dan ketidakadilan merajalela di bumi Nusantara yang sebagai besar warganya memeluk agama Islam dan yang dikenal sebagai negara berpopulasi muslim terbesar di dunia. Terus terang sebagai orang Islam aku malu, karena mungkin setiap jenis perbuatan yang dikategorikan sebagai ‘dosa’ di dalam Al Quran ada disini, bagaikan jamur di musim hujan…tumbuh dengan suburnya, karena iklimnya cocok dan mendukung. Jadilah Nusantara ini etalase kemaksiatan serba ada, dimana perbuatan munkar secara tidak malu-malu dilakukan secara berjama’ah.
Terlepas dari apakah judi itu termasuk kategori perbuatan dosa atau tidak, satu pertanyaan menggelitik….siapakah yang dirugikan dari perbuatan judi tersebut? Dari kacamataku yang agak-agak pragmatis ini, yang dirugikan secara langsung jelas si orang yang melakukan judi itu kan, benar? Well, kadang-kadang sih untung juga kalau menang. Jadi ingat lelucon tentang anak pak haji yang ketahuan berjudi. ‘Pak haji, pak haji….anaknya berjudi tuh!!’ Pak haji spontan mengucap ‘Astaghfirullah!!!!’ —’Menang lho pak haji…’ dan dijawab oleh pak haji "Alhamdulillah’. By the way, jangan diseriusi atau diperbesar jadi isu SARA ya…sumpah ini cuma bercanda.
Kembali ke topik yang lebih perlu diseriusi; sekarang bandingkan fenomena judi di atas dengan korupsi. Siapa yang dirugikan secara langsung oleh perbuatan tersebut? Jawabannya bisa jadi ‘jutaan masyarakat miskin di Indonesia’ atau ‘ribuan anak balita yang menderita busung lapar’ atau ‘puluhan ribu orang yang antri minyak tanah di berbagai tempat di Indonesia’ atau ‘jutaan orang yang tidak masuk di dalam catatan statistik yang tidak bisa mengakses pelayanan kesehatan’ atau ‘ribuan orang yang gagal naik haji karena nggak sanggup menutup biaya perjalanan haji yang sudah dimark-up’ atau ’si bapak pemulung yang aku lupa namanya yang tidak punya uang untuk menguburkan anaknya’ atau ‘ratusan ribu anak usia sekolah yang nggak bisa sekolah’ atau ‘beberapa anak SD yang mencoba bunuh diri akibat gak bisa bayar uang eks-kul’. Ini bisa menjaid list yang panjaaaaaaaaaaaaaaaang sekali. Kalau demikian faktanya, apa hukuman yang tepat bagi koruptor?
Kembali kepada hukuman cambuk di Aceh tadi. Aku jadi bertanya, kenapa judi bisa dikenakan hukuman cambuk sementara korupsi tidak? Padahal dari segi dampak, jelas korupsi telah menimbulkan dampak negatif yang besar dan penting (hehe…kayak di AMDAL). Aku jadi penasaran, jangan-jangan mahkamah syari’ah tersebut hanya melakukan hukuman terhadap jenis ‘perbuatan dosa’ yang secara eksplisit memang disebutkan di dalam Al Quran. Sependek pengetahuanku, judi memang salah satunya –seperti juga berzinah dan minum khamr. Mungkin kata-kata ‘korupsi’ tidak pernah ada dalam Al Quran sehingga kemudian tidak termasuk dalam kategori ‘perbuatan dosa’ menurut mahkamah syari’ah. Tapi bagaimana dengan kategori ‘memakan harta anak yatim’ atau ‘melakukan riba’ atau larangan untuk melanggar perintah ‘membayar upah pekerja sebelum keringatnya kering’??? Serupakah itu dengan ‘korupsi’? Atau mungkin perlu ada perubahan tafsir Al Quran versi Depag agar mencantumkan secara eksplisit kata ‘k o r u p s i’ di dalam terjemahan dan tafsir Al Quran yang diterbitkannya?
Sering aku merenung, andaikan saja ulama-ulama di Nusantara ini seprogresif nabi-nabi terdahulu…yang menentang secara langsung ketidakadilan….dan bukannya ikut larut di dalamnya dan malah menjadi justifikasi dan stempel ‘penghalalan’ perbuatan yang merugikan masyarakat luas. Andaikan saja ada ulama-ulama yang cukup progresif yang bisa mengajak umat untuk juga memikirkan hablum minannaas (hubungan antar manusia) –hubungan antar manusia yang tidak setara, hubungan antar manusia yang menimbulkan penindasan antara manusia satu dengan lainnya– dan tidak terbatas hanya pada soal-soal silaturahmi dan pemaknaan sempit dari hablum minannaas. Andaikan saja ada ulama yang cukup berpandangan maju, yang tidak hanya mengajak umat untuk menjadi egois, yang tidak hanya mengajarkan berzikir dan memohon ampun kepada Tuhan agar sang umat tidak masuk neraka. Andaikan saja ulama-ulama kita tidak hanya berdebat soal-soal apakah sholat subuh itu pakai qunut atau tidak. Andaikan saja ulama-ulama kita tidak hanya berkoar-koar di koran soal film cemen ‘Buruan Cium Gue’.
Yah, andaikan saja…..
Uncategorized | Comment (1)psikosomatis
Sekali lagi aku mengagumi maha karya sang khalik. Betapa jasad yang menampung ruh kita ini diciptakan dengan sedemikian oke-nya dan tetap sulit ditandingi kompleksitasnya.
Beberapa hari yang lalu aku mengalami diare….Yah, ini penyakit langganan yang kadang sering jadi bahan cela’an teman-temanku –penyakit ‘gak elit lah, penyakit orang susah lah….Yah, aku ambil sisi positifnya saja. Masih untung diare, obatnya cuma teh pahit dan oralit –murah dan mudah didapat. Coba kalau kanker…bisa-bisa menimbulkan komplikasi "kanker" yang lain alias kantong-kering.
Seperti biasa, muncul rasa ingin tahu dan jiwa penelitiku. Apakah gerangan pemicu penyakit yang membuat aku harus mondar mandir ke toilet berkali-kali ini? Kuingat-ingat lagi apa yang kumakan malam sebelumnya…..kerang rebus dan kopi susu. Well, mungkin paduan menu itu tidak terlalu tepat, tapi pada saat itu aku ‘ngebet sekali –maklum kopi Aceh…siapa yang tahan godaannya. Maka terjadilah kombinasi menu yang agak aneh tersebut. Analisaku langsung menyimpulkan, mungkin itu penyebabnya.
Tapi memang aku kadang suka sok penasaran…masa’ iya sih? Aku ini terkenal sebagai pemakan segala, dan sistem pencernaanku punya adjusting mechanism yang sangat dahsyat sehingga deraan menu yang aneh-aneh pun jarang menimbulkan dampak yang sedemikian. So, kuputuskan untuk mencoba kembali kombinasi menu yang sama keesokan malamnya. Bukankah kalau sampling dalam penelitian harus dilakukan dua atau tiga kali (baca: duplo atau triplo)? Maka, kusantap lagi satu posi kerang rebus dan satu gelas kopi susu. Kutunggu dengan sabar apa yang terjadi. Ternyata, Alhamdulillah, peristiwa bolak-mandir itu tak terjadi lagi. Wah…gugur dong thesisku tentang kerang-kopasus-penyebab-diare tersebut. Masih penasaran, kucoba lagi keesokan malamnya –kerang-kopi-pake-susu sebagai menu makan malam…….Tidak terjadi apa-apa. Jadi, apa gerangan ya?
Dan hari ini, kurasakan kembali rasa mules yang sama, walaupun itu tidak berlanjut sampai ke toilet. Kupikir kembali apa yang kumakan dan kuminum. Dan hari ini, aku makan dan minum senormalnya…nasi, sup daging dan jus. Kemungkinan besar bukan itu penyebabnya.
Tiba-tiba ingatanku kembali ke masa-masa lalu, ke saat-saat aku mengalami rasa mules dan murus-murus. Ingatanku kembali ke ruang sidang ujian skripsi, ingatanku kembali ke saat aku jatuh cinta untuk pertama kalinya, ingatanku kembali ke saat pertama aku menjadi pemakalah di forum internasional. Aha…..Eureka!!!! Bagaikan Archimedes dan Newton yang baru menemukan arti dari fenomena yang mereka alami, langsung kukembalikan ingatanku kepada apa yang kualami beberapa hari terakhir ini.
Banyak sekali yang kualami yang melibatkan berbagai macam emosi dan rasa. Sama sekali bukan sesuatu yang physical. Kecemasan, kekhawatiran, jatuh cinta, patah hati, kehilangan, kebersyukuran……kembali lagi ke kekhawatiran, kecemasan, kepasrahan….itu semua yang kualami. Kalau ini iklan permen, pasti laku keras…sejuta rasa dalam satu paket! Kombinasi dan intensitas perasaan semacam itu pula lah yang kualami hari ini. Masa depan suatu movement sedang mulai digariskan hari ini, semoga.
Tersadar aku betapa dahsyat mesin yang diciptakan oleh the Almighty ini –the what so called human body. Bagaimana bisa suatu input yang sifatnya emosional bisa mengeluarkan ouput yang physical. Dan outputnya pun tidak harus selalu dalam bentuk mencr*t seperti yang kualami, bisa saja pusing, kram, dll. Dan keluarannya pun bisa seperti yang kualami –kadang-kadang saja, terbatas pada suatu kondisi emosional yang sangat intens dan sesaat– ataupun yang kronis….bahkan akut. Ruarrrrr biasa, ‘kan?
Kembali, tercerahkan aku hari ini.
Uncategorized | Comment (1)God is joking with me
God is joking with me. So many times I am dropped in a kind of situation that I can’t avoid, but going through it, walkin down the path that has been drawn for me, and finally laughing bitterly. What a strange sense of humor. What lesson that I shall learn? It seems that I haven’t pass the exam yet; I have to undergo the same lesson again and again. If only I could ask God what it all means….But God is a great joker. For a true joker, there’s no fun in giving explicit answer to a joke, right?
Uncategorized | Comments (2)perpisahan
Perpisahan selalu diiringi dengan kesedihan. Apalagi kalau perpisahan itu dengan orang yg kita sayangi —atau baru mulai kita sayangi. Rasanya ada bagian dari hati kita yang dibawa pergi. Yang tinggal dan tersisa cuma rongga.
Perpisahan juga selalu diiringi dengan penyesalan, karena tidak memanfaatkan setiap detik yang diberikan untuk lebih sering berbagi. Untuk lebih sering menumpahkan perasaan, daripada menahannya —yang cuma menyisakan kekalutan.
Perpisahan juga sering diiringi dengan pengharapan, semoga kelak Dia ijinkan adanya kembali pertemuan. Untuk menutup kembali rongga. Untuk melunasi rasa sesal. Untuk mengucapkan yang tak sempat terucapkan. Untuk mengungkapkan yang tak sempat terungkapkan. Untuk memperbaiki perpisahan yang akan datang –agar tak ada kesedihan, agar tak ada penyesalan.
Uncategorized | Comments (2)from pango with love
Memiliki teman baru selalu merupakan pengalaman yang membahagiakan. Apalagi bila kemudian ikatan yang terjalin itu berkembang menjadi rasa sayang –a brotherhood-sisterhood kind of feeling. Intensitas hubungan yang tumbuh dari waktu ke waktu selama 2 minggu terakhir ini telah mentransformasi teman-teman baruku menjadi saudara dan keluarga baruku. Keluarga yang harus kujaga, kuhidupkan semangatnya.
Dua minggu yang lalu, sebagian besar dari mereka tak kukenal. Cobaan Tuhan telah menguji kesabaran, kejernihan pikiran, dan menumbuhkan kebersamaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Apa yang kualami juga menunjukkan bahwa rasa kemanusiaan surpases everything. Puji syukur aku panjatkan ke haribaan Tuhan karena saudara-saudaraku yang lain –yang juga sebagian besar baru kukenal– tak segan-segan mengulurkan tangan, menyumbangkan bagian dari dirinya untuk saudaraku yang satu ini.
Yah, saudaraku kena demam berdarah di saat dia sedang bekerja menyumbangkan pengetahuannya kepada saudaraku yang lain di Aceh sini. Berbondong-bondong mereka datang ke PMI Banda Aceh untuk menyumbangkan darahnya. Sungguh pengalaman yang nggak pernah kualami sebelumnya.
Roller coaster of life….itu lah mungkin satu frase yang bisa aku ungkapkan untuk menggambarkan pengalaman yang kualami disini. Betapa perubahan yang terjadi sangat cepat….pagi begini…sore sudah lain lagi. Malamnya OK, besok paginya belum tentu.
Dari Simpang Pango aku berdoa semoga kami bisa melewati pelajaran dari Tuhan ini. Mungkin ini salah satu cara Tuhan untuk mengingatkan kami semua. Agar kami lebih bijak, agar kami lebih sabar, agar kami lebih tawakkal.
Uncategorized | Comment (0)mengapa
mengapa harus jumpa
saat dia sudah berdua
mengapa harus memberi cinta
saat dia sudah memilikinya
Uncategorized | Comments (2)betapa tuhan maha jenaka
Kadang kupikir hidup itu adalah ruang tunggu di tempat praktik dokter. Dan saat menunggu adalah kehidupan. Dan aku…ya aku, yang sedang memasuki ruang tunggu itu, berharap bertemu dengan sang dokter. Bila sang dokter itu kuandaikan sebagai tuhan, maka sebenarnya kehidupan itu adalah saat menunggu bertemu dengan tuhan. Sehingga pertanyaannya kemudian adalah bagaimana membuat saat menunggu itu tidak membosankan, syukur-syukur bermanfaat. Benarkah?
Kadang kupikir tuhan maha jenaka. Ditiupkannya nyawa kita ke jasad sehingga nyawa mengalami yang namanya ‘hidup’ dan menjalani kehidupan, untuk kemudian tuhan panggil kembali dan diminta bersaksi –bersaksi tentang apa yang sesungguhnya sudah tuhan ketahui.
Kadang kupikir tuhan itu seperti pengarang buku cerita ‘Pilih sendiri petualanganmu’ yang sering kubaca waktu aku SD dulu. Dia menulis banyak judul buku dengan tema yang berbeda-beda. Buku itu adalah hidup. Dan jalan cerita yang kupilih, kamu pilih, mereka pilih, adalah masing-masing kehidupan yang harus kita jalani. Pengalamanku, pengalamanmu, pengalaman mereka bisa jadi sama, bisa jadi berbeda. Tapi sulit sekali menemukan jalan cerita yang sama persis.
Mungkin begitulah kehidupan. Pengalaman kita masing-masing bisa sama, bisa beda. Tapi jalan cerita kehidupan kita kuragukan bisa sama. Setiap pilihan yang kita tetapkan dalam buku cerita tadi akan menentukan pengalaman apa yang akan kita alami, yang pada akhirnya menentukan keseluruhan jalan cerita kita. Mungkin begitu jugalah kehidupan. Setiap saat adalah saat untuk membuat keputusan. Dan jalan kehidupan kita ditentukan oleh keputusan-keputusan tersebut.
Tapi, sang pengarang sudah menetapkan akhir dari cerita buku tersebut. Demikianlah hidup kita. Tuhan sudah menetapkan apa akhir ceritanya. Tak ada yang bisa kita lakukan untuk mengubahnya, hanya berusaha sebaik mungkin agar jalan cerita kita paling tidak cukup menarik dan berharga.
Lihatlah….betapa tuhan maha jenaka. Dibiarkannya kita berpikir-pikir, menimbang-nimbang, menduga-duga, membuat keputusan-keputusan agar cerita kita berakhir dengan baik –padahal sudah dia tetapkan apa dan bagaimana akhir cerita setiap orang.
Dan memang, tuhan maha jenaka. Dibiarkannya kita mengalami hal-hal yang tak terduga, yang membuat kita tertawa, sambil sekaligus menangisinya. Dibiarkannya kita mengambil keputusan yang sudah kita tau bagaimana akibatnya –hanya karena kita berharap things may change…padahal tidak– yang pada akhirnya membuat kita menyesal dan sekaligus menertawainya….. menertawai kebodohan kita.
Dan betapa tuhan maha jenaka. Dibiarkannya kita meragu, membiarkan halaman buku cerita kita tak berpindah ke halaman selanjutnya, hanya karena kita takut menghadapi ketakterdugaan petualangan berikutnya. Atau karena kita takut petualangan buruk yang serupa akan berulang? Ketika akhirnya kita buka halaman petualangan berikutnya, ceritanya sama sekali berbeda. Cerita menyenangkan yang membuat kita tertawa……dan sekaligus menyesalinya —mengapa tak kita lakukan sejak dulu dan mengapa kita hanya membuang-buang waktu.
Ah, betapa tuhan maha jenaka….
Uncategorized | Comment (0)