gibran’s words
Tentang Pandangan Pertama
inilah saat yang membedakan antara kemabukan akan kehidupan dari kesadaran
ia merupakan nyala api pertama yang menerangi relung hati yang paling dalam
ia adalah sihir pertama yang berani memetik dawai perak hati
itulah saat yang membentangkan perjalanan waktu di depan jiwa,
dan menjelaskan perbuatan-perbuatan malam kepada mata, dan karya kesadaran
ia membuka rahasia-rahasia keabadian masa depan
ia merupakan benih yang dilemparkan oleh Ishtar, Dewi Cinta,
dan ditaburkan oleh mata kekasih di ladang cinta,
dibawa oleh rasa kasih sayang, dan dipungut oleh jiwa
tatapan pertama dari mata kekasih bagaikan roh yang bergerak di atas permuakaan air,
yang memberikan kelahiran bagi surga dan bumi,
ketika Tuhan berbicara dan menyatakan, “Jadilah/Biarkanlah ia ada”
Uncategorized | Comment (0)di aceh
senjakala di lampuuk(1)
kumandang adzan menyebut asmaMu
entah apa pesan yang ingin Kau sampaikan
pada hamba-hamba yang tak tahu bersyukur
yang mendusta nikmatMu
yang mengingkar KurniaMu
yang bunuhi sesama
yang khianati saudara
di bawah langitMu aku menangis
di bawah setengah purnamaMu aku terpekur
di hadapan matahariMu yang terbenam
bertanya aku
pesan apa yang ingin Kau sampaikan pada hambaMu
senjakala di lampuuk(2)
bertabur kulihat mutiara kuasaMu
di sekujur serambi yang tersisa
tegak berdiri, setia memanggil umat
memenuhi panggilan Rabb-nya
nyata Kau tunjukkan
kehendakMu mengadakan dan meniadakan
kutanya pada diriku, kutanya pada saudaraku
masihkah perlu kita beralasan?
Uncategorized | Comments (2)