gibran’s words

March 27th, 2005

Tentang Pandangan Pertama

inilah saat yang membedakan antara kemabukan akan kehidupan dari kesadaran

ia merupakan nyala api pertama yang menerangi relung hati yang paling dalam

ia adalah sihir pertama yang berani memetik dawai perak hati

itulah saat yang membentangkan perjalanan waktu di depan jiwa,

dan menjelaskan perbuatan-perbuatan malam kepada mata, dan karya kesadaran

ia membuka rahasia-rahasia keabadian masa depan

ia merupakan benih yang dilemparkan oleh Ishtar, Dewi Cinta,

dan ditaburkan oleh mata kekasih di ladang cinta,

dibawa oleh rasa kasih sayang, dan dipungut oleh jiwa

tatapan pertama dari mata kekasih bagaikan roh yang bergerak di atas permuakaan air,

yang memberikan kelahiran bagi surga dan bumi,

ketika Tuhan berbicara dan menyatakan, “Jadilah/Biarkanlah ia ada”

di aceh

March 27th, 2005

senjakala di lampuuk(1)

kumandang adzan menyebut asmaMu

entah apa pesan yang ingin Kau sampaikan

pada hamba-hamba yang tak tahu bersyukur

yang mendusta nikmatMu

yang mengingkar KurniaMu

yang bunuhi sesama

yang khianati saudara

di bawah langitMu aku menangis

di bawah setengah purnamaMu aku terpekur

di hadapan matahariMu yang terbenam

bertanya aku

pesan apa yang ingin Kau sampaikan pada hambaMu

senjakala di lampuuk(2)

bertabur kulihat mutiara kuasaMu

di sekujur serambi yang tersisa

tegak berdiri, setia memanggil umat

memenuhi panggilan Rabb-nya

nyata Kau tunjukkan

kehendakMu mengadakan dan meniadakan

kutanya pada diriku, kutanya pada saudaraku

masihkah perlu kita beralasan?